Psikologi Penonton

Awal tahun 2000-an, ada tontonan yang populer banget di kalangan remaja. Namanya: WWF Smack Down.

Saking populernya, tayangan itu ditunggui anak-anak sampai tengah malam. Karena itu, orang-orang seumuran saya pasti nggak asing dengan nama Hulk Hogan, John Cena, Chris Jericho, dan tentu saja The Rock Dwyne Johnson.

Acara baku hantam itu bukan cuma menghibur, tapi juga mendebarkan. Di episode-episode tertentu, tayangan itu juga sangat mengaduk emosi.

Perasaan emosional ini muncul karena penonton biasanya punya ikatan emosional dengan salah satu petarung. Petarung idola.

Saya misalnya, suka dengan Kurt Angle si “Kapten Amerika”.

Karena itu, saya ikut sedih kalau dia kalah. Sebaliknya, saya ikut girang kalau dia bisa membanting lawan, menguncinya, dan bikin lawan menyerah.

Salah satu momen paling emosional adalah saat Kurt Angle bertemu Steve Austin.

Bagi saya, itu benar-benar bukan cuma pertarungan. Itu adalah pertaruhan kehormatan.

Pasalnya, sebelum pertarungan, Steve Austin begitu teganya mencuri dan mengambil medali emas olimpiade gulat milik Kurt Angle.

Padalah medali itu kebanggaan seumur hidup bagi Angle. Karena itu, saya geram sekali dengan Steve Austin. Dia benar-benar jahat. Saya tidak hanya berharap dia kalah, tapi juga mati segera.

Drama dan Emosi

Kalau diingat sekarang, masa-masa itu kelihatan goblok kocak banget.

Kok bisa-bisanya saat itu saya percaya kalau yang terjadi di ring smackdown adalah sesuatu yang benar-benar terjadi?

Kan parah! Haha.

Kok bisa-bisanya saya mengira pertarungan Austin dan Angle adalah demi kehormatan? Padahal di belakang panggung, mereka bukan cuma makan dan minum bareng. Mereka juga berbagi dollar untuk drama yang mereka mainkan.

Sekarang, orang-orang seusia saya tentu cukup paham kalau semua itu adalah industri hiburan. Juga paham kalau semua ketegangan dan drama yang melingkupinya memang settingan.

Kemudian saya tahu, drama memang elemen pokok industri hiburan. Gak cuma industri televisi yang pakai formula itu, sastra, teater, dan music juga memakainya. Ini karena drama adalah alat yang memang paling gampang untuk merekayasa emosi penonton.

Adapun emosi adalah instrumen paling efektif agar penonton dapat dimanipulasi tindakannya. Dalam kasus Smack Down, ya digerakkan untuk berbelanja: menjadi penonton sampai tengah malam, beli kaos, poster, dan cenderamata yang terkait dengannya.

Industri Sepakbola

Meski orang dewasa tahu cara kerja drama dalam industry hiburan, bukan berarti orang dewasa bisa membebaskan diri darinya.

Sampai sekarang, drama adalah alat yang masih terbukti efektif untuk merekayasa perilaku. Termasuk perilaku orang dewasa.

Yang paling gampang diamati sekarang ada dalam industri sepakbola. Ribuan orang dewasa bisa direkayasa perilakunya untuk menjadi pendukung setia sebuah klub.

Orang-orang ini merasakan ada hubungan emosional yang konkret antara dirinya dengan klub favorit, dengan pemain favorit, bahkan pelatih favorit.

Hubungan emosional itulah yang bikin penonton rela baku hantam. Dalam banyak kasus di Indonesia dan Inggris, bentrok antarkelompok bahkan sampai membuat nyawa melayang.

Ini terjadi karena para penonton merasa perjuangan membela klub itu suci. Itu bukan cuma soal hiburan, tapi soal kehormatan. Dan kehormatan itu penting.

Sikap fanatik kayak gitu menurut saya ganjil. Soalnya, orang-orang dewasa ini tahu persis kalau sepakbola itu diinstrumentasi oleh para profesional sebagai industri.

Mereka tahu kalau para pemain akur. Bukan Cuma akur, tapi mereka bisa pindah-pindah klub  kapan pun. Para pelatih juga bisa pindah-pindah mengikuti kontrak. Bahkan kepemilikan klub pun bisa beralih. Semua pergerakan itu mengikuti ritme kerja industry di mana uang menjadi penggerak utamanya.

Lalu, kenapa orang-orang dewasa masih saja fanatic dengan klub-klub itu? Kenapa fanatic dengan pemain? Saya melihat, di situlah kekuatan drama. Dengan drama, para professional itu bisa menjangkau emosi dan pikiran jutaan orang dan menggerakkan jutaan orang untuk kepentingan mereka.

Panggung Politik

Dalam lingkup yang lebih besar, cara kerja drama bisa dilihat dalam politik. Pilpres 2014 dan 2019 kemarin, misalnya.

Bagi para pendukung masing-masing calon pilpres adalah pertarungan ideologi. Pertarungan kehormatan. Bahkan ada yang sampai menganggapnya sebagai pertarungan keyakinan. Karena itulah, mereka bukan cuma siap rebut di medsos, putus silaturahmi dengan tetangga, bahkan ada yang siap mempertaruhkan nyawanya.

Kan lucu!

Sementara para penonton merasa pilpres sebagai pertarungan heroik, para pemain politik menganggapnya sederhana: perebutan sumber daya.

Karena cuma perebutan sumber daya, bagi para pemainnya politik  bukan perjuangan ideologis. Itu negosiasi.

Tapi, kepada para penontonnya, mereka harus bisa meyakinkan bahwa politik adalah soal ideologi. Soal kehormatan. Bahkan soal hidup mati.

Emosi dan fanatisme penonton diperlukan para pemain sebagai bagian dari “mata uang” yang diperlukan si pemain untuk memenangkan negosiasi.

Sekarang, semua itu tampak gamblang karena dua tokoh yang dibela-belani dengan “hidup mati” ternyata sekarang berkoalisi. Sama-sama dapat jabatan.

Yang rugi tentu saja para penonton. Mereka yang telanjur meyakini pertarungan itu sebagai pertarungan kehormatan dan ideologis perlu waktu lama untuk meredakan emosi. Apalagi kalau penonton sudah telanjur mempertaruhkan harga diri. Repot.

Algoritma Perilaku

Keganjilan perilaku penonton menunjukkan kalau sikap dan perilaku manusia sangat rapuh. Bukan cuma bisa direkayasa, tapi juga dieksploitasi dengan mudah.

Kalau mau didekati secara behavioristik, perilaku manusia itu buah dari pengondisian. Perilaku manusia bisa dibentuk sesuai kondisi yang memungkinkannya.

Di era modern sekarang, pengondisian yang paling efektif ya dengan memanfaatkan teknologi wacana: informasi dan pengetahuan.

Karena itulah, Edward Said merasa perlu membedakan pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan murni dan pengetahuan politis.

Pengetahuan murni digunakan untuk membantu manusia memahami realitas dunia dengan lebih baik. Sementara pengetahuan politik digunakan untuk merekayasa worldview manusia.

Penjelasan yang lebih tajam terhadap keganjilan penonton disampaikan Yuval Harari dalam Homo Deus. Ia berpendapat kalau perilaku manusia adalah algoritma. Meski tak sesederhana algoritma computer, cara kerjanya homogen.

Karena bekerja dengan algoritma, perilaku manusia bisa direkayas dengan rumus “jika” dan “maka”.

Para profesional di belakang ring Smack Down, di balik industri sepak bola, dan operator politik nasional adalah para pengembang algoritma itu. Para penonton adalah robotnya

Fans berat Kurt Angle yang mengira pertarungannya dengan Steva Austin adalah soal kehormatan, mungkin akan kecewa melihat keduanya berbagi honor bertarung.

Pendukung Persib atau Persija mungkin juga marah kalau salah satu pemain idola di klub favoritnya pindah ke klub sebelah.

Sebagian fansboy dan fansboy Jokowi-Prabowo mungkin juga terkejut sata tahu keduanya duduk di cabinet yang sama.

Tapi begitulah nasib penonton. Biasanya mereka diberi tempat duduk yang nyaman. Tapi mereka nggak boleh masuk area belakang panggung. Tentu saja biar mereka nggak tahu aturan main yang sebenarnya.

Rahmat Petuguran

Sumber gambar: diasraka.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.