Problematika Sarjana dalam Realita Dunia

Gelar sarjana merupakan gelar yang diidam-idamkan oleh seluruh mahasiswa yang sedang menempuh program strata 1. Gelar sarjana juga hanya diberikan kepada mahasiswa yang berhasil menyelesikan studinya pada bangku perkuliahan program strata 1. Gelar ini menjadi cita-cita mahasiswa program strata 1 karena gelar ini dikatakan mampu menjembatani pemilik gelar tersebut dalam menempuh suatu pekerjaan. Sayangnya, realita dunia pekerjaan tidak selalu indah melainkan tentu dipenuhi dengan persaingan. Mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tidak bisa hanya sekadar bermodalkan gelar sarjana maupun IPK yang dimiliki.

Menurut data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik Indonesia (5/05/2020), pada tahun 2018 sampai dengan 2020 terjadi penurunan pada tingkat pengangguran lulusan Universitas dari 6,31 persen menjadi 5,73 persen. Terjadinya penurunan pada tingkat pengangguran lulusan Universitas tentu saja merupakan hal yang baik, akan tetapi tetap harus kita garis bawahi bahwa presentase tingkat pengangguran lulusan universitas tersebut masih belum menyentuh angka nol. Berarti bahwa kita sebagai calon Sarjana maupun Sarjana harus mempersiapkan diri seutuhnya dalam menyiasati kasus pengangguran di negeri ini.

Sebenarnya, pengangguran bisa saja kita hindari apabila kita sebagai Sarjana maupun calon Sarjana pandai melihat peluang yang tersedia. Menganalisis permasalahan yang ada dan kemudian merancang solusi yang pas untuk direalisasikan dalam mencari pekerjaan. Hal yang sering dialami oleh para Sarjana yang menganggur ialah beberapa diantara mereka memilih untuk menjadi Job Seeker dibandingkan berinovasi sebagai Job Creator. Kebanyakan sarjana memilih untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya akan tetapi apabila lowongan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan ekspektasinya, kebanyakan Sarjana memilih untuk menunggu peluang yang tersedia dibandingkan menciptakan peluang kerja itu sendiri.

Kasus pengangguran ini diperparah dengan realita di lapangan dimana lapangan pekerjaan yang tersedia masih kurang dan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah Sarjana yang ada di Indoneisa. Persaingan ketat terus menerus terjadi. Lapangan kerja sektor formal di Indonesia juga mengalami penurunan. Hal itu disebabkan lemahnya kinerja sektor riil dan daya saing Indonesia yang secara langsung menyebabkan berkurangnya permintaan untuk tenaga kerja terdidik. Kebanyakan lulusan sarjana mengharapkan status pekerjaan dan penghasilan yang tinggi. Sedangkan, perusahaan saat ini banyak yang lebih membutuhkan kualifikasi sekadar lulusan SMA/SMK disebabkan atas alasan lulusan pada jenjang tersebut sudah mempunyai kompetensi yang cukup namun relatif bisa digaji lebih murah.

Kenyataan bahwa banyak Sarjana yang menganggur, tidak menampik fakta bahwa keterampilan Sarjana yang tersedia masih banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan market. Hal ini tentu bisa dikarenakan kurikulum pendidikan yang tersedia di kampus tidak berubah sedinamis dengan perubahan kebutuhan yang ada di pasar.

Dilansir dari Kompas.com (18/1/2019), anak-anak mesti dibekali kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi untuk menghadapi era yang dinamis. Kemampuan berpikir kritis dan analytical thinking pada anak perlu ditumbuhkan.

Menanggapi hal itu, tentu saja evaluasi kurikulum harus segera dilaksanakan. Indonesia membutuhkan kurikulum fleksibel yang menyesuaikan dengan segala situasi dan kondisi, sehingga calon Sarjana yang akhirnya akan menjadi Sarjana memiliki kuliafikasi yang cukup dan pantas untuk memenuhi persyaratan dan kebutuhan pasar dalam mencari pekerjaan yang layak. Konsep pembelajaran yang ada harus mampu membangkitkan sifat kreativitas, kolaborasi serta komunikasi pada diri Mahasiswa pemeluk program Strata 1. Dengan pemahaman mengenai permasalahan-permasalahan di dalam mencari pekerjaan tersebut, Sarjana tentu dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pemantasan diri dilakukan dengan melatih kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, guna mendapat pekerjaan yang layak secepat mungkin. Pada akhirnya, pencarian pekerjaan yang penuh dengan persaingan akan terlewati dengan mudah jika pencari pekerjaan tersebut benar-benar pantas untuk pekerjaan yang berusaha diraih.

[Fahri Ulil Albab]

Artikel ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta didik mata kuliah Jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.