Problematika Internet dalam Pendidikan di Masa Pandemi

Masa pandemi saat ini, kegiatan belajar-mengajar dilakukan di rumah masing-masing dengan cara online. Hal tersebut berpengaruh terhadap bertambahnya kebutuhan pokok masyarakat yaitu ketersediaan internet untuk menunjang berbagai kegiatan secara daring. Selain itu, kecepatan dan kestabilan koneksi internet juga dibutuhkan demi lancarnya berbagai kegiatan seperti pembelajaran daring, rapat secara daring, konsultasi kesehatan dan berbagai kegiatan lainnya.

Dilansir dari news.detik.com (19/06/2020) aktivitas bekerja di rumah telah meningkatkan penggunaan traffic internet hingga 15-20 persen. Bahkan selama bekerja di rumah permintaan untuk pemasangan internet mengalami peningkatan. Jumlah pelanggan baru meningkat 30-40 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara orang-orang masih diminta untuk bekerja dari rumah, sekolah dan universitas melaksanakan kelas serta kuliah daring, dokter dan pasien memanfaatkan telemedicine, bahkan para pemimpin negara melakukan konferensi tingkat tinggi secara virtual.

Sementara itu masih banyak kendala yang dirasakan sebagian masyarakat untuk mengakses internet terutama untuk kegiatan belajar mengajar secara daring. Para siswa harus menghadapi berbagai permasalahan demi dapat menikmati pembelajaran daring melalui internet di masa pandemi seperti sekarang ini. Pemerataan infrastruktur jaringan internet juga dirasa kurang merata di beberapa wilayah. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang dapat dengan mudah mengakses internet, masyarakat perdesaan harus melakukan usaha yang lebih untuk dapat mengakses internet demi menunjang kegiatan belajar secara daring.

Seperti dilansir dari kompas.tv (09/04/2020), belasan siswa di Wonogiri mengalami kesulitan untuk mengakses internet, mereka berbondong-bondong menumpang jaringan wifi di rumah relawan demi kelancaran pembelajaran. Kemendikbud juga mengakui kendala utama dalam proses daring yaitu jaringan internet.

Berdasarkan pernyataan tersebut, mengakibatkan kesenjangan dalam mengakses jaringan internet. Karena jaringan setiap provider di berbagai wilayah tidak sama. Misal di suatu daerah provider a memiliki jaringan yang lebih stabil dibandingkan provider b begitu pula sebaliknya, tetapi tidak semua peserta didik menggunakan satu provider yang sama. Lalu bagaimana cara menyiasati hal ini ?

Toleransi dari seorang guru seharusnya diperlukan dalam menyiasati keterbatasan pembelajaran daring. Seorang guru juga diharapkan mampu memahami kondisi dari setiap siswanya terkait ketersediaan sarana penunjang pembelajaran yaitu internet. Penggunaan sarana pembelajaran berbasis teks seperti whatsapp grup dalam menyampaikan materi juga lebih disarankan karena dapat menghemat pengeluaran kuota internet di bandingkan pembelajaran menggunakan video conference seperti zoom atau google meet. Dengan adanya pendidik yang dapat memahami keadaan peserta didiknya dapat menimbulkan rasa semangat peserta didik untuk belajar.

Pemerataan jaringan internet merupakan kendala serius yang dialami siswa dalam kegiatan belajar daring di masa pandemi ini. Karena kualitas jaringan setiap penyedia layanan internet atau provider tidak sama di setiap wilayah. Sehingga diperlukan peran dari berbagai pihak terutama bagi penyedia layanan internet dan juga pemerintah sebagai pusat pemberi kebijakan termasuk kebijakan kegiatan pembelajaran secara daring ini.

Sampai saat ini provider internet di Indonesia terlihat berupaya untuk mendukung pembelajaran secara daring yaitu bekerja sama dengan berbagai layanan pembelajaran daring seperti yang dilansir dari KOMPAS.com, (16/03/2020) dalam rangka mendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar tetap efektif, Telkomsel bekerja sama dengan salah satu platform digital, salah satunya Ruangguru menyediakan 30GB untuk 30 hari mengakses materi di aplikasi Ruangguru.

Dari pernyataan tersebut terlihat keseriusan penyedia layanan internet di Indonesia untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dukungannya dalam menunjang pembelajaran secara daring akibat pandemi ini. Peserta didik semakin dimudahkan untuk memahami materi. Mereka tidak perlu pusing karena kurang paham mengenai materi yang diberikan kepada pendidik, mereka tinggal memahaminya kembali di aplikasi penyedia layanan pembelajaran daring seperti Ruangguru, Zenius, Quipper dan berbagai layanan lainnya serta tidak perlu pusing akibat kehabisan kuota internet.

Sementara itu pemerintah sebagai pusat pembuat kebijakan juga turut andil dalam mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran daring disaat pandemi ini seperti kendala siswa untuk mengakses internet. Hal itu cukup terbukti seperti dilansir dari kominfo.go.id (26/06/2020) Kementerian Kominfo telah meminta kepada penyelenggara layanan telekomunikasi seluler dan penyedia jaringan internet untuk menambah kapasitas dan infrastruktur jaringan guna mendukung pelaksanaan bekerja dan belajar dari rumah.

Sehingga dengan dilakukannya hal tersebut diharapkan penyedia provider internet di Indonesia mampu memaksimalkan pelayanannya untuk menunjang pembelajaran siswa di masa pandemi ini. Serta di perlukan juga peran dari masyarakat sebagai pelaksana kebijakan dari pemerintah terutama orang tua untuk memfasilitasi anak dalam pembelajaran daring. Orangtua diharapkan mampu mengupayakan tersedianya fasilitas pembelajaran daring untuk anak terutama akses internet sebagai fasilitas sentral dalam penunjang pembelajaran daring di saat pandemi ini.

Dilansir dari inet.detik.com (29/07/2020) sistem pembelajaran daring membuat orangtua murid di Bintaran Kidul, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta terbebani kuota internet. Berkaca dari hal tersebut, Paguyuban Bintaran Bersatu memasang wifi dengan harga terjangkau agar anak-anak tetap bisa melaksanakan belajar melalui daring. Hal tersebut membuat 180 Kepala Keluarga (KK) di Bintaran Kidul bisa menikmati akses internet tanpa perlu khawatir akan membengkaknya biaya internet

Hal tersebut upaya maksimal yang dilakukan oleh masyarakat dalam memfasilitasi penyediaan layananan internet untuk menunjang pembelajaran daring bagi anaknya. Pemerintah seharusnya mendukung penuh upaya masyarakat tersebut dan diharapkan juga pemerintah mampu menyediakan layanan internet murah bahkan gratis karena internet dimasa pandemi sekarang ini merupakan kebutuhan pokok dalam menunjang pembelajaran. Selain itu diharapkan pemerintah bersama penyedia layanan internet mampu memperluas infrastruktur jaringan internet di semua wilayah Indonesia.

[ Hadid Iqbal Fachariza Maulana ]

Artikel ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta didik mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.