Problema Waktu dalam Distance Learning

Oleh: Ahmad Fikri

Covid-19 tidak hanya menjadi masalah kesehatan semata. Masifnya penularan memaksa masyarakat untuk menghentikan segala aktivitas di luar dan dianjurkan untuk berdiam diri di rumah. Pemerintah telah menghimbau untuk semua aktivitas ekonomi, pendidikan, dan peribadatan dialihkan ke rumah untuk mengantisipasi potensi berkumpulnya massa. Menyikapi hal tersebut, Kemendikbud mengeluarkan instruksi untuk meliburkan sekolah dan kampus selama masa pandemi dan menetapkan “Belajar dari Rumah”.

Kebijakan “Belajar dari Rumah” bagi mahasiswa menimbulkan masalah baru yang sayangnya seperti tidak teratasi. Tidak hanya keluhan mengenai kuliah yang menjadi sekedar pemberian tugas yang menghiasi linimasa sosmed. Tetapi juga dengan kesiapan dalam menggunakan teknologi yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran berjarak atau distance learning ini. Para pendidik seperti tidak siap menghadapi situasi ini karena pemahaman terhadap penggunaan teknologi yang masih rendah. Pemahaman ini tidak cukup hanya dalam hal operasional saja, akan tetapi juga perlu memikirkan adaptasi dalam penyesuaian suasana belajar yang baru akibat pembelajaran yang dilakukan secara full online. Salah satunya adalah adaptasi dalam hal waktu. Adaptasi ini harus dilakukan tidak hanya oleh mahasiswa, tetapi juga dosen supaya timbul suasana saling menguntungkan dalam melakukan pembelajaran.

Tidak bisa beraktivitas secara normal menimbulkan stres bagi mahasiswa. Dilansir dari cdc.gov (12/6/2020), pandemi dapat menyebabkan stres yang antara lain ditandai dengan changes in sleep or eating patterns (perubahan pola tidur atau makan), dan difficulty sleeping or concentrating (sulit tidur atau berkonsentrasi). Stres yang dialami mahasiswa masih bisa bertambah dengan adanya deadline tugas yang harus dikejar dan memaksa mereka begadang yang dapat merubah jam tidurnya menjadi pagi hari. Padahal imunitas tubuh juga perlu dijaga untuk menghindari penularan Covid-19. Selain itu paginya bisa saja mereka harus  mengikuti kuliah sesuai jadwal. Bagaimana untuk menyikapi hal ini?

Selama ini pemahaman soal distance learning masih sangat sederhana dengan sekadar memindahkan tempat pembelajaran yang semula di gedung atau ruangan berpindah ke platform digital berbasis aplikasi maupun web. Dalam hal ini teknologi memang berhasil menjawab keterbatasan ruang yang saling berjauhan, namun dalam hal efektivitas waktu masih banyak hal yang perlu dievaluasi. Bukan teknologinya yang perlu dievaluasi, melainkan penggunanya.

Metode presentasi yang dilanjutkan diskusi adalah hal yang umum diterapkan dalam perkuliahan ketika situasi normal. Namun ada juga yang mempertahankan metode ini ketika distance learning. Ketika metode presentasi diterapkan pada platform yang bersifat asinkron (tidak serempak, tidak langsung, tertunda) seperti Moodle, Google Classroom, dan WhatsApp Group, diskusi yang biasanya selesai dengan 2 SKS bisa menjadi lebih lama karena pemberian feedback yang tidak bisa langsung. Lambatnya feedback bisa membuat diskusi dapat berlangsung berlarut-larut dan memaksa mahasiswa memberi perhatian selama itu pula. Akhirnya durasi waktu menjadi tidak terkontrol, mahasiswa merasa bosan menunggu, dan mulai menjadi tidak peduli.

Dabaj dan Yetkin (2011) mengungkapan hambatan tersembunyi komunikasi dalam pendidikan berjarak diantaranya adalah lack of direct feedback (kurangnya umpan balik langsung) dan no pressure to respond (tidak ada tekanan untuk merespons). Ini penting dipahami oleh para pendidik agar metode yang tidak efektif  sebaiknya dievaluasi penerapannya.

Keuntungan distance learning dikutip dari regent.ac.za (25/1/2016) salah satunya adalah flexible study hours (jam belajar yang fleksibel). Jadwal seharusnya tidak mengikat mahasiswa. Apalagi jadwal kuliah yang jamnya lompat-lompat dan tidak berurutan. Dengan adanya fleksibilitas waktu maka tanggung jawab belajar dapat dipenuhi tanpa ada waktu lain yang dikorbankan. Jika mahasiswa tidak mampu mengikuti jadwal yang ditetapkan tentu akan menjadikannya beban dan berpotensi menurunkan motivasi belajar. Beban tersebut dapat berupa perasaan khawatir ketinggalan materi (jika kuliah dilakukan dengan teleconference) dan tidak dipresensi (jika dosen menerapkan batasan waktu untuk respon mahasiswa).

Begitu pula dalam pemberian deadline tugas. Dengan asumsi di rumah saja maka mahasiswa dianggap punya banyak waktu luang, jadi tugas diberikan dengan deadline yang cukup singkat. Sebuah pemahaman yang keliru jika mengingat banyaknya dosen yang hanya memberi materi (itupun hanya berupa slide presentasi) tanpa adanya penjelesan lebih lanjut. Dengan tidak adanya penjelasan membuat mahasiswa dituntut untuk belajar dan memahami secara mandiri.

Tidak semua mahasiswa mampu memahami materi secara mandiri dengan cukup membaca teks saja. Bagi yang tidak mampu akan membutuhkan waktu lebih bahkan menunda-nunda jam belajarnya kerena ada perasaan enggan. Dan jika materi tidak kunjung dikuasai maka akan muncul perasaan tertekan karena tugas yang semakin mendekati deadline untuk dikerjakan sedangkan pemahaman materi kuliahnya masih rendah sekali. Perasaan terisolasi ketika distance learning karena interaksi yang minimal juga akan semakin memperburuk terhadap upaya mempelajari materi. Perasaan ini dapat menghasilkan sikap negatif terhadap perkuliahan (Dabaj dan Yetkin, 2011).

Arisanti (2013) telah mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan sistem online memungkinkan pebelajar untuk mengakses informasi secara fleksibel tanpa terbatas waktu dan tempat. Motivasi belajar mahasiswa perlu dijaga supaya disctance learning tetap dapat berjalan dengan baik dan dapat memenuhi capaian kompetensi yang diharapkan. Namun, penerapan distance learning yang tidak memperhatikan masalah waktu seperti yang telah dibahas malah meningkatkan stres bagi mahasiswa. Sudah sepatutnya mengingat kembali konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan haruslah menyenangkan layaknya di taman.

[ Ahmad Fikri ]

Artikel ini merupakan hasil latihan mahasisiwa peserta didik mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.