Pro Kontra Penggunaan Bahasa Slang; Anjir! Apa Salah Anjing?

Pro Kontra Penggunaan Bahasa Slang; Anjay! Apa Salah Anjing?

    Bahasa adalah salah satu komponen penting dalam masyarakat yang menandakan identitas dari masyarakat tersebut dan merupakan bagian dari kekayaan suatu bangsa yang patut dibanggakan. Indonesia sangatlah beruntung, memiliki lebih dari 700 bahasa dan dialek yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan bahasa terbanyak di dunia.

Selain bahasa nasional dan daerah, kekayaan bahasa Indonesia juga didukung oleh ragam bahasa formal dan informal yang terus berkembang mengikuti perkembangan para penuturnya. Perkembangan bahasa, menjadi begitu penting karena seperti halnya manusia yang berubah dan berkembang, bahasa juga harus memiliki kedinamisan yang sama agar dapat bertahan. Bahasa Indonesia pun telah berevolusi selama 100 tahun perjalanannya dan telah mengalami berbagai penyesuaian hingga akhirnya menjadi seperti sekarang ini.
Lalu, siapakah yang berperan dalam pertumbuhan bahasa? Tentu saja masyarakat penuturnya. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang sangat kreatif. Terbukti dengan banyak bermunculan ragam bahasa yang digunakan dari generasi ke generasi yang juga menambah khasanah kekayaan bahasa di Indonesia baik ragam formal maupun informal. Yang menarik dalam fakta ini, kaum mudalah yang biasanya berperan aktif dalam perkembangan Bahasa Indonesia.Salah satu ragam bahasa yang paling dinamis dan banyak dipakai oleh kawula muda sebagai bahasa pergaulan adalah bahasa slang.
Nah, baru-baru ini, seorang artis muda bernama Lutfi Agizal membuat sebuah konten di kanal youtubenya yang mempersoalkan sebuah kata yang tergolong ke dalam ragam bahasa slang yaitu ‘Anjay’. Di dalam video tersebut, artis ini menyatakan bahwa kata “anjay” ini tidak layak digunakan karena mengandung makna berkonoasi negatif yakni anjing. Seperti yang kita ketahui, dalam ilmu fikih hukum islam, hewan berkaki empat ini adalah hewan yang menjijikan dan patut dihindari. Itu sebabnya kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam begitu sensitif terhadap kata ini. Di dalamnya videonya, Lutfi juga menyertakan seorang ahli bernama Dr. Tomi Yuniawa, M.Hum yang mendukung opini tersebut. Bahkan kabarnya, Lutfi kini telah melaporkan kata “anjay” ke Komnas Perlindungan Anak sebagai bagian dari kekerasan verbal. Hmmm, benarkan demikian? Yuk cari tahu tentang bahasa slang ini.
Bahasa slang adalah bahasa Indonesia non standar yang pada awalnya digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian menyebar hingga ke seluruh Indonesia. Sebagian besar kosa kata bahasa slang ini memang tidak terdapat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Hal ini dikarenakan kosa kata bahasa slang diambil dari bahasa Indonesia yang dicampur adukkan dengan bahasa Betawi.
Pada awalnya, bahasa ini digunakan oleh para narapidana dengan memanfaatkan pola kalimat dan dialek pada bahasa betawi dan menyimpangkannya untuk berkomunikasi dan berbagi informasi rahasia agar tidak diketahui masyarakat umum. Namun, lama kelamaan ragam bahasa ini menjadi populer dan banyak digunakan oleh para kawula muda.
Berbagai pro dan kontra terkait penggunaan bahasa ini pun banyak bermunculan. Pihak yang menentang penggunaan ragam bahasa ini menganggap bahasa slang tidaklah baik digunakan karena bertentangan dengan norma kesopanan, dapat menurunkan derajat bahasa Indonesia bahkan ada yang berpendapat dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia.
Menurutmu bagaimana? Apakah benar kata anjay, anjir, anjrit tidak layak digunakan karena bermakna anjing? Apakah dengan dilarangnya kata ‘anjir’ ini berarti seluruh kosa kata ragam bahasa slang juga tidak boleh digunakan?
Perlu diketahui bahwa setiap kata dalam kosa kata bahasa Indonesia bermakna netral. Artinya, segala kosa kata dalam bahasa memiliki makna definitif yang menggambarkan referensi dari kata tersebut. Anjing dalam bahasa Indonesia memiliki definisi binatang berkaki empat, termasuk omnivora dan masih berkerabat dengan serigala. Kata tersebut memang digunakan sebagai lambang bunyi untuk menamai sesuatu. Tentu tanpa adanya kata kita akan kesulitan untuk berkomunikasi atau sekadar mengenali benda di sekitar kita. Kalian punya punya kata lain untuk mendefinisikan binatang tersebut selain kata anjing? Apa salah jika kita mengucapkannya? Tentu tidak.
Ragam bahasa slang, menuai kontra karena dianggap bahasa yang tidak sopan. Hal tersebut dikarenakan kosa kata dalam bahasa slang tersebut dianggap memiliki makna berkonotasi negatif oleh sebagian orang terkhusus kata “anjay” atau anjing ini. Fakta ini memang dapat dipahami apabila kata tersebut digunakan untuk menghina seseorang dan orang yang bersangkutan merasa tersinggung karenanya.
Namun, kata “anjay” yang sudah masuk dalam kategori ragam bahasa slang ini banyak digunakan sebagai bahasa pergaulan yang mana para penggunanya telah menganggapnya sebagai hal biasa. Bahkan, kosa kata ini bisa menandakan keintiman atau keakraban bagi para penuturnya.
Pelarangan penggunaan kata “Ajay” banyak dinilai orang terlalu berlebihan mengingat fenomena bahasa slang memiliki banyak kosa kata. Apabila kata “anjay” ini dilarang akan menjadi sebuah diskriminasi bagi kosa kata slang yang lain. Meskipun memang bukan merupakan bentuk bahasa baku, nyatanya ragam bahasa gaul juga berperan dalam perkembangan bahasa Indonesia sendiri. Hal ini terbukti dengan masuknya kata “kepo” yang berarti ingin tahu juga telah masuk ke dalam kosa kata Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dulunya juga termasuk ke dalam ragam bahasa slang.
Seperti halnya manusia, bahasa juga perlu berubah. Tidak ada yang salah dengan berpendapat. Namun, sebagai manusia yang berpikiran terbuka kita juga harus menghargai pendapat orang lain. Apabila kamu benar, belum tentu orang lain salah. Jangan pernah merasa menjadi yang paling benar karena kebenaran ada banyak bentuknya.
Ratu Syakrila, 30 Agustus 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.