Pondok Pesantren Al Asror, Santri Juga Jago Bersastra

Selain terkenal sebagai pondok pesantren yang sering mencetak para santrinya menjadi hafidz dan hafidzoh, Pondok Pesantren Al Asror Patemon Semarang juga dikenal publik karena para santrinya jago bersastra. Hal itu terbukti ketika sejumlah santri berhasil membuat kumpulan puisi dan cerpen. Kara-karya sastra santrinya tersebut kemudian dibukukan dan dibagikan kepada beberapa pondok pesantren di beberapa tempat.

Ide awal pembuatan buku cerpen dan puisi antara lain datang dari Aly Sukron, salah santri yang juga menjadi pengurus perpustakaan. Bermula dari ngobrol-ngobrol santai dengan teman-teman santri, ide untuk membukukan karya-karya para santri muncul.

Ternyata ide yang dimiliki Aly bukan wacana belaka, melainkan mampu direalisasikan sudah. Semangat untuk merealisasikan idenya tersebut tidak lain berkat dukungan langsung dari para ustad, kyai dan para pengurus Ponpes Al Asror itu sendiri. Membukukan karya-karya para santri ini merupakan kali pertama bagi Pondok Pesantren Al-Asror.

Dalam prosesnya, puluhan santri menulis satu hingga dua puisi atau cerpen yang bertemakan Maulid Nabi atau Tauladan Rasulullah. Puluhan santri yang terlibat dalam penulisan antologi puisi dan cerpen tersebut di antaranya dari santri jenjang MTs, MA, dan mahasiswa.

“Para santri yang menulis itu dari MTS, MA, dan Mahasiswa, Mas. Mereka ada yang menulis satu ada juga yang menulis dua karya,” jelas Aly Sukron kepada reporter Merah Putih saat ditemui di ruang sekretariatnya di Pondok Pesantren Al Asrol komplek penginapan santri laki-laki.

Menurutnya, ide untuk membuat buku dari karya-karya sastra para santri antara lain untuk menyalurkan bakat dan minat atas potensi yang dimiliki para santri dibidang tulis menulis dalam hal ini sastra. Sehingga dengan itu para santri memiliki acuan lebih untuk berkarya, selain bagi para santri antologi tersebut merupakan wadah untuk dirinya terus berkarya dan mengembangkan potensi dirinya.

“Kan para santri senang Mas kalau karyanya dibukukan dan diketahui banyak orang,” kata Aly sembari menunjukan buku hasil garapan dirinya dan para santri.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa proses membukukan hasil karya sastra para santri ini akan terus bergulir dan konsisten. “Ini merupakan masa percobaan, tetapi melihat antusias santri yang cukup tinggi Insallah proses ini akan terus berlanjut.”

Bahkan nantinya, dirinya mengaku akan membuat film pendek tentang profil Pondok Pesantren Al Asror bersama para santri.

Salah Satu Santri 

Di antara puluhan penulis pada antologi puisi dan cerpen tersebut, Mas Fatih adalah salah satu penulis yang cuku produktif di antara penulis atau santri lainnya. Selain ia menyumbangkan hasil karyanya dengan jumlah yang tak sedikit pada buku tersebut, dirinya pula terbilang aktif menulis puisi dan mengirimkannya ke acara-acara perlombaan menulis yang sering ia ketahui melalui media sosial. Tak sedikit pula karya yang telah ia kirimkan ke pelbagai perlombaan tulis munulis, meski hingga saat ini belum pernah dirinya mendapati juara. Tetapi juara bukan tujuannya, sehingga ia tetap terus memproduksi karya puisi selain nantinya kembali ia ikuti dalam perlombaan-perlombaan atau kesempatan acara yang nantinya bisa memamerkan karyanya.

Fatih adalah seorang santri dan sekaligus seorang mahasiswa di Jurusan Pendidikan Ekonomi di salah satu universitas di Semarang. Dalam obrolannya dengan Merah Putih ia mengaku bahwa pilihan dari Pengurus Pondok Pesantren untuk membukukan hasil karya sastra berupa puisi dan cerpen para santrinya adalah sebuah tindakan yang inovatif dan kreatif.

Misalnya, bagi dirinya proses membukukan karya-karya sastra santri kali ini adalah suatu bentuk dukungan dari pihak Ponpes atas kreatifitas dan kemampuan yang santri miliki. Selain itu juga melatih santri untuk mandiri. Hal itu bahkan terlihat saat para santri me-layout, mencetak, dan lain sebagainya secara mandiri tanpa melalui percetakan atau penerbit. Selain diberikan bantuan terkait pembiayaan oleh pihak Ponpes, para santri pun melakukan sistem kolektif dalam pembiayaan percetakan dan sebagainya. Hal demikian pun yang justru mengandung nilai lebih dalam prosesnya.

Gambaran Pondok Pesantren

Pondok Pesantren ini terletak tidak jauh dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan memiliki kurang lebih 500 santri.  Pondok pesantren ini merupakan yayasan yang memiliki 4 pondok, yakni pondok putri dan pondok putra, juga selain itu Ponpes Assalafi dan Pondok Putri HQ Hufadzul Quran. Jarak antara pondok satu dengan pondok lainnya terbilang dekat dan tidak terlalu jauh untuk berjalan kaki.

Biasanya, khusus di Pondok pesantren HQ Al Asror, pelajaran yang sering dipelajari adalah hafalan Quran dan kitab kuning. Untuk yang tidak mengikuti hafalan Quran biasanya mereka melakukan aktifitas rutin madrasah dinia (Madin). Hal ini karena pondok pesantren HQ Al Asror memang khusus menghafal AL Quran. Lalu kegiatan lain yang kemudian santri lakukan selain menghafal Al Quran adalah tahlil yasinan atau wiridan yang khusus dilakukan pada kamis malam, dan para santri wajib mengikutinya.

Pondok Pesantren Al Asror pun mendirikan yayasan sekolah TK, MTS, dan MA. Kabarnya dalam waktu dekat ini pihak yayasan pondok pesantren Al Asror akan membangun sekolah SMK dan Universitas untuk para santrinya. Wacana itu agaknya akan terealisasi melihat banyak gedung yang sedang dalam proses pembangunan di sekitar Pondok Pesantren. Adapun saat ini Ponpes Al Asror diikuti oleh para santri yang terdiri atas siswa-siswi MTS, MA, maupun Mahasiswa yang kuliah di Unnes, Unwahas, dan Untag. Para santri di Ponpes ini pun terbilang banyak dari wilayah luar Semarang. Hal itu barangkali dikarenakan yayasan MTS di Ponpes Al Asror ini telah terakreditasi A. Tri Sutrisno

Keterangan:
Tulisan ini pertama kali dimuat oleh majalah Merah Putih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.