Pilihan Eskapis Mahasiswa

mahasiswa takut dosen
dosen takut rektor
rektor takut menteri
menteri takut presiden
presiden takut mahasiwa.

Demikian Taufik Ismail menggambarkan kegarangan mahasiswa melalui sajak berjudul Mahasiswa. Kumpulan anak muda ingusan ternyata bisa menjelma menjadi kekuatan sosial-politik yang dahsyat. Dahsyat bukan hanya karena jumlahnya yang besar tetapi juga karena memiliki kecakapan keilmuan.

Meski hiperbolis, sajak di atas memperoleh referensi empiris dan historis sekaligus. Pertama, jumlah mahasiswa di Indonesia kini lebih dari 4,8 juta. Mereka berada pada usia puncak produktif, memiliki energi kreatif yang melimpah. Kedua, sejarah mencatat gerakan mahasiswa Indonesia berulangkali menaklukan kekuasaan. Di setiap rezim mereka tampil sebagai kekuatan kritis yang diperhitungkan.

Namun, kondisi telah berubah. Kini mahasiswa berada pada kegamangan. Milan Kundera dalam Kita Lupa dan Gelak Tawa (Bentang,2000) menyodorkan istilah lithos untuk menggambarkan situasi tersebut. Semacam kesadaran atas kondisi chaos lingkungannya, namun malas untuk bergerak. Keprikhatinan atas kondisi negara yang berantakan tak menyulut perlawanan. Tiap-tiap orang bergerak lari namun sekadar menyelamatkan diri.

Kondisi batin ini memenjara mahasiswa pada kegamangan antara ide dan aksi. Sekalipun diliputi kegeraman karena melihat kondisi negara karut marut, mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka tetap sibuk di kamar-kamar individual, taklid pada ide tentang kemapanan di masa depan. Kalaupun kegeraman itu muncul, sesekali terutara melalui perbincangan di jejaring sosial.

Ya, pergerakan mahasiswa telah menjadi romantisme. Masa itu dikenang dalam museum ingatan yang asing dan tak tersentuh. Alih-alih memantapkan gerakan baru, mahasiswa kini memilih jalan eskapis, melarikan dari beban moral sebagai “agen perubahan”.

Selain oleh sebab internal (individual) pilihan eskpasis muncul akibat kekangan pihak lain yang prokekuasaan. Pasalnya, seruan eskapis kini makin mudah ditemui, dalam bentuk nasihat, himbauan, atau saran. Di kampus misalnya, dosen melarang mahasiswa melakukan aksi. Dalihnya, aksi tak akan mengubah apa pun selain menciptakan kemacetan. Begitu pula nasihat yang terdengar bijak ini; urus saja diri sendiri, sudah ada orang yang memikirkan negara.

Baik di dunia akademik maupun sosial, mahasiswa menerima sugesti dari lingkungan. Entitas-entitas kebudayaan di luar dirinya, berusaha menghegemoni, bahkan mendominasi. Agama melancarkan serangan dengan dalil aqli, leluhur mengikat dengan mitos, dan sains menggoda pikiran dengan ide objektivitas, ilmiah, juga kebebasan individual.

Tidak ada yang keliru dengan nilai-nilai yang berkelindan itu. Sebab, seperti kerap disebut para pemikir modern, tidak satu senti pun ruang di muka bumi ini yang bebas nilai. Tempat publik, ruang privat, atau ruang di antara keduanya senantiasa menjadi medan “tempur” perebutan nilai.

Hanya saja, di tengah realitas macam itu risiko mahasiswa adalah terjerambab pada pilihan keliru. Keliru adalah pilihan tidak tepat. Sebuah sikap yang ditunjukan bukan oleh kehendak dan elan, melainkan keterkondisian. Kekeliruan bersikap menjebak pelakunya selalu dalam kegamangan, atau, keyakinan yang rapuh.

Pilihan anak muda Indonesia untuk bergabung dengan kaum radikal Islam, misalnya, ternyata tidak dilandasi pemahaman yang dalam. Mereka terkondisikan oleh doktrin yang datang siang malam. Misalnya, keputusan untuk merelakan diri menjadi pengebom, tidak didasari kajian cukup soal dalil yang digunakannya. Keputusan tersebut lebih menyerupai kepasrahan akibat lemah pendirian.

Kondisi gamang, keragu-raguan, dan tak tahu harus berbuat apa membawa mahasiswa akhirnya memilih lari. Lari dari tanggungjawab moral dan sejarah. Mereka memilih menyibukan diri, menghindari agenda perjuangan, pergerakan, pemberontakan yang mestinya mereka pikul.

Maka, mengharapkan kiprah mahasiswa dalam revolusi sosial kini, agaknya tidak lagi realistis. Kerelaan untuk berjuang, kerelaan meninggalkan urusan-urusan pribadi, kini sulit dijumpai. Setiap orang bergerak dengan imajinasi individual yang dilatarbelakangi motif eskapis.

Ini berbeda dengan yang terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan. Intelektual dan gerilyawan sama-sama bertekad merebut kemerdekaan. Tak peduli harus bertaruh nyawa, perlawanan terus digalakan.

Dalam Madilog (Narasi, 2000), misalnya, bisa ditelusuri bagaimana Tan Malaka mendedikasikan hidupnya demi cita-cita republik Indonesia yang merdeka. Ia menjadi model sempurna bagi pejuang yang mapan dalam keilmuan sekaligus cakap melakukan pergerakan di lapangan. Dimulai ketika mengadvokasi buruh, mendirikan sekolah rakyat, hingga diplomasi ke sejumlah negara.

Realitas eskapis mahasiswa membuktikan dua hal. Pertama, agenda mengerdilkan kekuatan politik mahasiwa, yang telah dimulai pemerintah melalui NKK/BKK, telah berhasil. Mahasiswa tidak lagi menjadi kekuatan sosial politik yang disegani. Untuk menaklukannya tak diperlukan lagi tentara, tapi cukup aneka lomba dan tawaran beasiswa. Kedua, intelektualitas ternyata tidak cukup untuk membebaskan diri dari hegemoni penguasa. Intelektualitas hanya potensi energi yang hanya bisa berfungsi ketika berfusi dengan keberanian.

Atas realitas dunia mahasiswa kini, Taufik Ismail barangkali perlu menggubah kembali sajaknya. Mungkin akan begini buntinya: dosen takut rektor, rektor takut menteri, menteri takut presiden, presiden (tak lagi) takut mahasiswa.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.