Mempermalukan Diri Bersama Pierre Bourdieu

Selain pengetahuan, ada keuntungan yang saya kira bakal diperoleh oleh anak muda yang mempelajari teori kritis: kesempatan mempermalukan diri. Di tengah hingar bingar opini, kesempatan mempermalukan diri kadang terasa amat berharga.

Kondisi itu barangkali bisa terjadi karena teori kritis tidak seperti anak panah: melesat ke satu arah, menuju sasaran tunggal. Teori kritis kerap seperti ledakan balon: energinya meletup ke berbagai arah.

Saat mengkritik penguasa dengan analisis Foucault, misalnya, anak muda bisa meracau semau mereka tentang pemerintahan yang korup, manipulatif, dan penuh siasat. Tapi pada saat yang sama, Foucault mengingatkan bahwa bocah ini juga adalah penguasa, dan bisa jadi: korup pula, manipulatif pula, dan penuh siasat pula.

Bukankah anak muda yang hobi melontar kritik terhadap penguasa juga adalah penguasa, setidaknya bagi orang lain yang tidak lebih dominan darinya. Dia penguasa atas adiknya, atas pacarnya, atas pacar dari pacarnya, juga orang lain.

Momen-momen seperti ini kadang menggelikan. Tapi kadang menyedihkan: kita mengutuki keburukan yang kita miliki juga.

Foucault sendiri tidak bisa melepaskan diri dari kutukan itu. Ia seorang teoretis yang mumpuni tentang kekuasaan, tapi pada saat yang sama dia kan juga penguasa. Pengetahuannya bahwa “pengetahuan adalah alat kekuasaan” toh juga alat kekuasaan juga.

Pierre Bourdieu juga menyediakan kesempatan yang sangat terbuka bagi siapa pun untuk mempermalukan diri. Ini berkaitan dengan analisis produksi kultural yang pernah diungkapkannya.

Misalnya, saat mengkritik remaja konyol yang melibas amarylis demi foto yang bagus di media sosial. Saya mengkritik mereka karena menganggap perbuatan itu tolol: menyerbu bunga sekadar untuk membangun persepsi positif melalui media sosial.

Bourdieu ujug-ujug datang dan mengingatkan, “Mereka menginjak bunga supaya eksis. Tapi untuk tujuan yang sama, kamu menginjak orang lain dengan kata-katamu. Siapa lebih keji?”

Status ini pun – mari kita lihat responnya – adalah cara mempermalukan diri yang efektif. Dengan mengutip pemikiran dua tokoh itu, saya berusaha mengatakan bahwa saya kenal dan paham gagasan mereka. Itu sebuah mekanisme produki kepercayaan, sesuatu yang dipraktikkan setiap orang.

Di layar yang lain, entah di mana, ada puluhan orang yang jauh lebih mumpuni tentang teori ini. Mereka membaca status saya sambil membatin “Bocah ini membaca sampul buku dan mengaku paham seluruh isinya.” Duh!

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.