Persiapan Menghadapi Pendidikan Fase New Normal

Pati – Dunia pendidikan Indonesia tengah menghadapi fase New Normal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah memutuskan tahun ajaran baru 2020/2021 masih menerapkan pembelajaran dari rumah. Lembaga pendidikan harus siap dengan kurikulumnya menghadapi situasi ini.

Konsultan kurikulum, Heribertus S.A.S menyatakan sekolah seharusnya mampu mengadakan penyesuaian terutama kurikulumnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan adanya merdeka belajar.

“Sekolah harus di-install ulang mulai dari kurikulumnya, mumpung ini ada merdeka belajar, mumpung ada sekolah penggerak. Sekolah diberi kebebasan tentu ada remnya, ada koridornya, tapi kita diberikan kebebasan. Kebebasan ini digunakan sebaik-baiknya,” ungkapnya dalam webinar bertajuk New Normal Era of Education? yang diselenggarakan IKA (Ikatan Keluarga Alumni) Pengembangan Kurikulum UNNES, Sabtu (13/6/2020).

Lebih lanjut, Heribertus mengungkapkan “Meng-install sekolah larinya harus dari kurikulum, kalau masuknya dari program pembelajaran (nasional), filosofi kurikulum pembelajaran (sekolah) nanti tidak kena, tujuannya mau kemana tidak kena, ya hanya sekedar mengikuti kurikulum nasional, ini menurut pengalaman saya.”

Akan tetapi, panduan teknis pembelajaran dalam menghadapi New Normal dianggap masih belum jelas. Selama ini New Normal hanya berkutat pada masalah pemulihan ekonomi dan penerapan protokol kesehatan.

“Saya sering mendengar dari pemaparan pemateri atau ahli bahkan dari kementerian. Selalu dibilang bahwa untuk menghadapi pembelajaran yang terjadi selama covid ini, kita sebagai guru dan dosen selalu dituntut untuk kreatif, tetapi kreatif yang bagaimana?” ujar Margret Ade Cipta R, Direktur Politeknik Bisnis Kaltara dalam kesempatan yang sama.

Sri Budiani, Direktur Pendidikan Yayasan Pendidikan Islam Nasima yang juga hadir sebagai pembicara dalam webinar memberi saran bagi sekolah dalam menghadapi pembelajaran fase New Normal.

“Ketika kita melaksanakan pembelajaran jarak jauh dalam kondisi pandemi, yang perlu kita ingat adalah memang saat ini kita lebih memberikan pembelajaran yang bermakna tanpa terbebani harus menuntaskan capaian kurikulum. Kemudian lebih fokus memberi pembelajaran tentang kecakapan hidup. Dan untuk mengurangi kejenuhan memang harus ada kemampuan dari para pendidik untuk memberikan variasi aktivitas dan tugas pembelajaran sesuai dengan minat dan kondisi serta akses peserta didik terhadap pembelajaran yang diberikan,” ungkapnya.

Salah satu pembeda dalam pembelajaran dari rumah, lanjut Sri Budiani adalah umpan balik yang tidak bisa diberikan langsung bahkan dilupakan.

“Sehingga kemarin muncul banyak sekali pemberitaan bagaimana anak-anak merasa jenuh, orang tua juga jenuh dengan pembelajaran daring. Mungkin ini (umpan balik) yang menjadi penyebabnya, karena umpan balik tidak diberikan sepenuhnya kepada anak-anak,” ungkapnya.

Kemudian Sri Budiani juga meminta sekolah untuk lebih realistis dalam melakukan pembelajaran dari rumah karena situasi dan kondisi siswa ketika di rumah memang berbeda dibanding di sekolah.

“Yang penting juga dalam PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) adalah harus realistis. Jadi ekspektasi kita sebagai pendidik kemudian orang tua murid ketika kita melakukan pembelajaran jarak jauh ini juga tidak boleh disamakan dengan bagaimana kita melakukan pembelajaran dengan tatap muka karena banyak hal yang berbeda,” jelasnya.

[ Ahmad Fikri ]

Berita ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta didik mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.