[Resensi Buku] Perlawanan Kecil yang Merontokkan Kekuasaan Tiran

SEJARAH perlawanan terhadap kekuasaan tiran kerap ditandai dengan aksi-aksi heroik para pemrotes. Mereka melakukan konsolidasi massa, berkumpul di ruang terbuka, berhadap-hadapan dengan tentara. Ketika penguasa dapat mereka jatuhkan, ada pesta pora yang demikian meriahnya.

Kemanangan seperti itu memang indah dan heroik, patut diidamkan. Tetapi Steve Crawshaw dan John Jackson dalam Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan (2015) menawarkan bahwa perlawanan terhadap kekuasaan tiran tidak harus dilakukan dengan cara itu. Ada berbagai tindakan kecil, dengan skala inividu, keluarga, atau desa, yang ternyata bisa berdampak besar.

Perlawanan juga tak harus dilakukan dengan pengerahan massa sebagaimana anak-anak muda Mesir menjungkalkan Hosni Mubarak melalui serangkaian demonstrasi di Tahrir Square. Atau ketika Joshua Wong mempin demontrasi fenomenal di Hongkong. Ada berbagai cara perlawanan yang tidak biasa namun berhasil.

Mogok seks misalnya. Aksi ini pernah dilakukan perempuan-perempuan di Kenya untuk memprotes perdana menteri dan presiden mereka yang sedang bersitegang secara politik untuk melakukan perundingan. Ketegangan antara keduanya, dikhawatirkan perempuan di negeri itu dapat kembali memicu aksi kekerasan yang pernah terjadi di negeri itu.

Para perempuan menggalang gerakan mogok melakukan hubungan seksual massal. Dengan cara seperti itu, para laki-laki  (yang kerap kali jadi biang kerok aksi kekerasan) diharapkan bisa terdesak untuk melakukan perdamaian. Aksi mogok seks itu bahkan didukung oleh istri perdana menteri sendiri.

Hasilnya? Laki-laki kelimpungan karena kebutuhan dasarnya tak terpenuhi. Salah satu laki-laki itu, James Kimondo, aksi mogok seks itu telah membuatnya menderita tekanan mental, kegelisahan luar biasa, ssakit punggung, dan kurang tidur (hlm. 76). Akhirnya, dua pimpinan politik yang sedang bersitegang melakukan perundingan.

Aksi mogok melakukan hubungan seksual juga pernah terjadi di Kolombia, negara yang tak pernah sepi kekerasan geng. Perempuan di negeri itu gelisah dan mengodinasikan gerakan “menolak seks dengan menyilangkan kaki”. Agendanya; mendesk para laki-laki supaya tidak lagi melakukan kekerasan yang kerap kali menelan korban jiwa.

“Kami ingi mereka (para pria) taahu bahwa tindak kekerasan sama sekali tidak seksi,” aku Jenefier Bayer, perempuan Kolombia yang berpartisipasi dalam aksi itu. Aksi itu memicu gerakan-gerakan lain yang menentang kekerasan si seluruh negeri. Wuih!

Tindakan Tidak Kecil

Buku yang versi bahasa Indonesia-nya diterbitkan oleh Insist ini berisi kumpulan cerita perlawanan dari berbagai negara dalam renang waktu yang cukup lama. kedua penulis menggunakan berbagai sumber sekunder untuk mengumpulkan kisah-kisah perlawanan kecil tetapi berdampak besar.

Seperti disebutkan dalam pengantar, beberapa kisah memang bukanlah tindakan kecil. Melihat risiko dan dampak yang ditimbulkannya, beberapa cerita perlawanan di sini sangat besar.

Misalnya, aksi diplomat muda Jerman, Fritz Kolbe (hlm. 116). Dia orang Jerman tetapi membenci Nazi. Karena itu, ia memutuskan untuk “berkhianat” dengan membocorkan Fuhrer-nya kepada Sekutu. Tindakan ini ia lakukan agar Jerman kalah dan perang segera berakhir. Informasi yang diberikan Kolbe, memiliki kontribusi penting terhadap berakhirnya Perang Dunia II.

Tindakan tidak kecil juga pernah dilakukan warga Bulgaria pada masa kekuasaan Nazi. Saat itu pemerintah Bulgaria sudah mengizinkan Nazi mengangkut orang-orang Yahudi dari wilayahnya untuk di-Autzswitch-kan. Tetapi penduduk Bulgaria beramai-ramai melindungi orang Yahudi dengan menyamrakn identitas mereka. Orang-orang Yahudi dimasukkan ke gereja sehingga bisa terbebas dari aksi sapu bersih tentara Nazi. Pembangkangan bersama ini, diklaim berhasil menyelamatkan 48.000 Yahudi yang tinggal di negeri itu.

Referensi dan Frame

Dengan referensi yang melimpah, Crawshaw dan Jackson berhasil menyulam buku ini menjadi buku yang indah dan berharga. Narasi yang hendak ditawarkan keduanya adalah: perlawanan tidak harus dilakukan di atas “panggung” besar yang massal dan heroik. Tindakan-tindakan kecil yang dilakukan oleh individu atau tingkat desa, ternyata bisa menjadi alat perlawanan yang efektif untuk menumbangkan kekuatan tiran.

Di Polandia, misalnya, organisasi sipil Solidaritas melakukan aksi dorong televisi dengan kereta bayi. Jadi, warga yang jengah dengan penguasa, merasa muak harus menontotn berita resmi pemerintah. Tiap kali berita resmi mulai tayang di televisi, mereka memilih mematikan televisi dan keluar rumah.

Aksi itu berkembang. Warga mulai menghadpakan televisi ke arah luar melalui lubang jendela. Terus berkembang, warga yang menolak menyaksikan berita resmi pemerintah membawa televisi dalam kereta bayi dan dibawa jalan-jalan. Aksi itu terakumulasi, menjadi simbol perlawanan. Meski tak secara langsung, perlawanan itu turut menumbangkan pemimpin komunis di Polandia.

Aau di Amerika. Di balik penghapusan hukum diskriminatif yang memebdakan hak-hak sipil berdasarkan warna kulit, ada tukang jahit bernama Rosa Park. Saat duduk dalam bis, ia diminta berdiri oleh sopir agar kursinya dapat digunakan oleh penumpang berkulit putih. Park menolak karena menurutnya aturan itu tidak berkeadilan. Ia ditangkap polisi sehingga memicu kemarah warga kulit hitam lainnya.

Sayangnya, di balik berjubelnya referensi dan gaya bertutur yang segar, penulis kerap terjebak pada frame yang dibuatnya sendiri bahwa tindkana kecil itu berarti. Pada beberapa tulisan, jebakan itu memaksa penulis untuk membuat ending bahwa gerakan itu menuai keberhasilan. Simpulan itu kadang terburu-buru karena di balik tumbangnya sebuah rezim biasanya ada banyak pengaruh. Tidak tunggal.

Buku ini menarik untuk menjadi bacaan para aktivis yang kerap terlibat gerakan sipil. Cara-cara lama dengan mengerahkan massa dan kekerasan, tidak selalu efektif. Dalam banyak contoh, itu justru mereproduksi kekerasan. Agenda perlawanan bisa dilakukan dengan tindakan kecil melalui seni, olahraga, atau jurnalistik. Woles tapi berdampak besar. Jangan sebaliknya: perlawanan rame dan hiruk pikuk tapi tak berbekas.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

2 Comments

  1. insistpress

    August 26, 2016 at 10:01 am

    Terimaksih telah mengulas buku INSISTPress. Rehal buku ikut dilansir ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/id/arsip/14032

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *