Penulis, Honorarium, dan Istrinya

APA yang akan dilakukan seorang penulis dengan 5 juta honorarium dalam sakunya ketika pulang dan melihat istrinya sedang masak di dapur? Honorarium itu tak akan langsung diserahkan kepada istrinya. Penulis itu pasti akan membuat pidato dengan potongan kalimat “Terima kasih, Sayang, atas dukunganmu selama ini” di dalamnya. Lalu uang itu akan diambil dari amplop dan dihamburkan seolah-olah mereka memiliki satu peti uang lainnya di gudang.

Bagi seorang penulis (laki-laki), istri adalah tulisan dan tulisan adalah istrinya. Tidak ada tulisan yang lahir tanpa peran istrinya. Dan istri selalu menjadi alasan kenapa ia terus memainkan tuts mesin ketik yang suaranya gaduh dan membosankan membosankan itu.

Istri menyukai suaminya yang penulis bukan karena profesi itu akan memberi kekayaan yang besar. Istri penulis sudah didik oleh suami, bahkan sejak mereka berpacaran, bahwa profesi penulus bukan jalan baik meraih kesejahteraan. Kabar baiknya: perempuan yang menerima untuk dicintai dan mencintai penulis lazimnya memahami itu. Mereka tahu, peluang suaminya untuk jadi kaya melalui tulisannya bahkan tidak lebih besar dari peluang yang dimiliki pialang ikan di pelabuhan nelayan.

Maka, ketika seorang suami yang penulis mengabarkan bahwa dirinya telah menerima honor, istrinya bahagia bukan karena nominal. Keduanya sama-sama tahu bahwa nominal itu tidak cukup besar, bahkan untuk membeli kendaraan baru untuk mengganti kendaraan mereka yang sering mogok. Mereka bahagia karena merasa telah memilih pilihan yang tepat untuk memelihara keyakinannya.

Istri mencintai suaminya yang penulisjuga  bukan karena suaminya tampan, berkelakuan baik, atau bisa menemani mereka ke pasar. Seorang istri penulis mencintai suaminya karena setiap penulis adalah laki-laki yang bergairah menjalani hidup. Istri tahu bahwa suaminya terkadang naif, tetapi kenaifan layak diperjuangkan.

Seorang istri penulis tahu, bahwa laki-laki dan penulis adalah rumus 1+1 untuk keegosiannya. Pertama, laki-laki memang terlahir dengan mewarisi sikap egois dari ayah dan lingkungannya. Kedua, penulis juga menyimpan keegoisan yang khas, yang kerap kali disembunyikan di balik berbagai argumentasi. Seorang istri menyadari itu dan merasa tidak perlu mengeluh jika harus mendapati rumah atau apartemen yang kosong saat pulang dari bepergian.

Jika keegosian seperti itu dengan keegosian lain, rumah tangga tidak akan lagi menyenangkan. Dan rumah tangga yang dibina akan karam seperti yang pernah dialami Leo Tolstoy dan Chairil Anwar.  Dari perspektif perempuan, lihatlah nasib pernikahan Nawaal El-Sadawi atau kolumnis Nora Ephron.

Para penulis adalah manusia yang hidup dalam dunia ide. Dan untuk ide pula mereka kadang bersikap gila dengan mempertaruhkan segala hal yang sudah dimilikinya. Uang, baik yang besar maupun recehan, kalah oleh ide yang hinggap di kepalanya. Itulah kenapa penuis kadang berisikap tidak rasionalseperti penjudi yang mabuk berat.

Kriteria ini tentu tak akan dimiliki seorang “penulis” masa kini, yang bekerja mengetik berita orang lain untuk disebarkan melalui blog abal-abal yang dikelolanya. Mereka bukan penulis, melainkan tukang ketik. Kriteria di atas hanya dimiliki oleh penulis yang rela memanggang pikirannya berjam-jam untuk memikirkan deskripsi yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati orang yang jatuh cinta dalam pandangan pertama.

Istri penulis tahu pilihan suaminya untuk hidup dalam dunia ide. Dan karena itu, mereka memilih untuk tidak membenturkan ide itu dengan keputusan praktis dirinya. Mereka menahan diri untuk tidak memanfaatkan diskon di mall karena suaminya meyakini adalah  diskon adalah kebohongan yang licik dan picik. Mereka rela kehilangan kesempatan mendapat barang dengan harga lebih murah sekadar untuk menghormati bahwa keyakinan suaminya adalah sesuatu yang benar dan berharga.

Apakah itu sejenis kepura-puraan? Tidak. Itu seni mengalah yang telah dipelajari istri sejak pertemuan-pertemuan awal dengan suaminya. Itu berarti, dengan jam terbang bertahun-tahun, seni itu telah berubah menjadi semacam kebiasaan.

Bagi kebanyakan orang, ini transaksi yang janggal dan membingungkan. Tetapi kejanggalan bukanlah kejanggalan bagi orang-orang yang hidup dalam kejanggalan itu.

Suatu hari, penulis Look Homeward Angel, Thomas Wolfe, mengajak istrinya ke toko buku. Di situ ia menunjukkan bahwa novel yang diperjuangkannya selama empat tahun dikerumini pembeli. Istrinya, tentu saja, bahagia. Kesuksesan itu membuatnya bahagia karena keyakinan yang mereka perjuangkan membawa hasil. Meski ia tahu, kesuksesan itu juga akan membuat suaminya tidak akan lagi seutuhnya menjadi milikinya. Akan segera banyak fans yang membuat mereka berjarak, salah paham, dan saling cemburu.

Hubungan itulah yang bisa kita baca dalam kisah hidup Thomas Wolfe dalam film Genius. Stereotip demikian tentu tak dimaksudkan untuk mewakili seluruh spesies penulis. Ada begitu banyak jenis penulis saat ini. Apalagi, sekarang ini, setiap orang adalah penulis, bukan?

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *