Pentingnya Edukasi Cyberbullying di Era Digitalisasi

Oleh Krisbaya Bayu Firdaus

Penindasan dunia maya atau intimidasi dunia maya (cyberbullying) kerap terjadi terhadap semua kalangan termasuk tokoh publik oleh teman seusia mereka atau orang lain dengan bentuk segala kekerasan melalui media sosial. Penindasan dunia maya (cyberbullying) dapat terjadi dikala kejadian seseorang dipermalukan, diintimidasi, diejek, dihina oleh teman sebayanya sendiri atau bisa juga orang lain yang korban sama sekali tidak mengenalinya disebabkan perbuatan seperti ini hanya melalui media sosial.

Dilansir CNBC Indonesia, Selasa (15/10/2019), kabar soal meninggalnya Sulli akibat depresi yang menghantuinya juga diperkuat oleh tanggapan penggemar di dunia sosial. Perjalanan karirnya, ia seakan tak lepas dari segala komentar negatif para netizen. Mulai dari fisik tubuh yang dibilang gendut, gaya busananya, dan pacarnya. Seakan-akan mereka lupa bahwa Sulli, manusia dan juga masih berusia remaja.

Diketahui aktris dan penyanyi dari Korea Selatan Choi Jin Ria atau dikenal dengan Sulli selalu dituntut dengan tampil sempurna. Tapi, dibalik kepopulerannya ia malah terkena intimidasi dunia maya (cyberbullying) sehingga rapuhnya kondisi jiwa dan mental korban tidak tahan lagi dengan komentar negatif dari netizen sehingga memutuskan bunuh diri.

Dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Dharmawan dalam laman Kompas.com, selasa (15/10/2019), mengungkapkan bahwa banyak selebriti biasanya belum siap untuk hidup dalam ketenaran dan hidup dalam kejaran target oleh agensi tempatnya bekerja. Mereka jadi kelelahan, waktu padat, kemana-mana harus manggung, hidupnya serasa enggak ada yang lain cuma dijadikan mesin pencari uang.

Menurut Rice PL (dalam Santoso, dkk, 2017 : 391), mengatakan bahwa depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan. Dari perasaan-perasaan negatif tersebutlah bisa timbul pikiran-pikiran yang bisa membahayakan, bunuh diri salah satunya.

Kejadian seperti ini tentu harusnya menjadi fokus dan perhatian besar kepada netizen yang kurangnya edukasi penyakit mental dikalangan masyarakat dan bagaimana penyakit mental ini masih dianggap remeh. Karena bullying bisa berakibat fatal apalagi melalui media sosial yang hanya berkomentar negatif dan pelakunya pun bisa saja orang lain yang tidak dikenalinya. Jadi, berhentilah berkomentar negatif terhadap siapapun.

Pola asuh orang tua pun sangat penting karena di zaman sekarang ini anak-anak pun sudah mempunyai smartphone dan media sosial seperti facebook, intagram, twitter, dll. Sehingga mudah sekali terjadi intimidasi dunia maya baik jadi pelaku atau korban untuk si anak.

Bukan tak mungkin, anak-anak pelaku intimidasi dunia maya (cyberbullying) dan mengejek, menghina orang lain di internet. Terlebih, anak-anak sekarang ini berada di zaman generasi Z (dikenal sebagai digital native) yang mahir internet dan perangkat aksesnya. Sehingga perlunya edukasi dari orang tua dalam pengguna smartphone dengan bijak dan beretika khusus di media sosial.

Alangkah baiknya orang tua memperhatikan anak-anaknya dan tak lupa juga untuk kepada para netizen serta kepada diri kita sendiri supaya bisa mengedukasikan diri sendiri agar tidak terjadinya kasus-kasus seperti yang tadi.

Saring sebelum sharing, berhati-hatilah dalam mengirim pesan maupun berkomentar melalui sosial media, untuk candaan dalam media sosial pun harus berhati-hati lihat dulu orangnya seperti apa. Terkadang perspektif orang-orang itu berbeda dalam menanggapi segala sesuatu walaupun itu hanya lelucon.

Posting atau berkomentar positif, sama halnya dengan saring sebelum sharing akan tetapi perlu diingatkan untuk berkomentar atau posting di media sosial sehingga tidak menimbulkan timbal balik yang buruk bagi yang posting atau komentar.

Perlakukan orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan, efek timbal balik ini berlaku di dunia nyata maupun di media sosial. Sekiranya kita ingin diperlakukan dengan baik maka kita juga harus memperlakukan orang lain dengan baik. Maka sering-sering bertanya kepada diri sendiri efek yang akan dirasakan apabila mau melakukan sesuatu.

Jangan mengikuti teman yang melakukan cyberbullying, dengan adanya media sosial orang-orang mudah sekali untuk akses aplikasi jejaring sosial. Bagi anak-anak mungkin tidak menjadi pelaku cyberbullying. Namun, bukan mustahil perilaku tersebut bakal menular kepada teman-temannya yang lain untuk melakukan cyberbullying.

Diharapkan kita dapat memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, sekiranya kita ingin diperlakukan dengan baik maka kita juga harus memperlakukan orang lain dengan baik. Stop bullying, stop cyberbullying.

Krisbaya Bayu Firdaus
Artikel ini dipublikasikan sebagai hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.