Pengabdi Setan dan Hantu yang Kian Sekuler

Dalam film-film horor lama, misalnya yang dibintangi Suzana, tokoh kyai atau ustaz digambarkan sebagai tokoh superior. Tokoh kyai biasanya ditampilkan berani dan sakti. Bacaan ayat kursinya bisa membuat hantu kepanasan dan langsung teriak: ampuuuun, dijeee…

Superioritas itu tak muncul pada sosok ustaz yang tampil di Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar.

Alih-alih bisa mengalahkan setan, ustaz justru mati terbunuh oleh setan. Ia bahkan takut berhadapan dengan setan (digambarkan dengan langkah mundur pada dua adegan yang berbeda).

Jawaban yang disampaikan tokoh ustaz saat Rini tanya “Lalu kami harus bagaiman, Pak Ustaz” juga menunjukkan sosok ustaz dalam film ini tidak memiliki legitimasi yang meyakinkan.

“Saya cuma bisa berdoa kepada Allah supaya kelian selalu dilindungi Tuhan,” katanya.

Ustaz yang salih bahkan digambarkan tidak lebih sakti dari tokoh Budiman, tokoh yang secara penggambaran fisik tampak liar dan urakan.

Di akhir film, bukan ustaz yang tampil menjadi penyelamat keluarga Rini, tapi Budiman.

Lemahnya peran ustaz dalam film ini mengisyaratkan banyak hal. Salah satunya, sutradara seperti hendak mengabarkan bahwa figur-figur keagamaan tidak lagi memiliki peran yang signifikan dalam masyarakat.

Pesan ini barangkali disarikan dari realitas sosial kita saat ini, di mana atribusi-atribusi formal keagamaan tidak lagi menjadi kekuatan yang diperhitungkan, setidaknya dibandingkan dengan periode terdahulu.

Masyarakat kita saat ini cenderung semaki sekuler dan kritis terhadap institusi agama. Lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) sering dijadikan olok-olok. Pendiri dan pengelola pesantren juga sering diledek , baik karena pilihannya berpoligami maupun aktivitas usahanya.

Sutradara hendak mengukuhkan pandangan sekuler itu melalui tokoh ustaz yang lemah itu. Ada pesan tersembunyi yang mengisyaratkan: jangankan menyelamatkan umat, wong menyelematkan diri saja tidak bisa kok.

Dua perspektif itu tampak mungkin untuk didesakkan karena ide dalam film memiliki dua posisi sekaligus. Pertama, film berusaha menampilkan kembali realitas yang ada di masyarakat. Kedua, film menyodorkan gagasan baru untuk menciptakan realitas baru dalam masyarakat.

Film, seberapa pun telah disadarai kefiksiannya, senantiasa menawarkan cara pandang baru. Ia hadir sebagai “pendidik” bagi penontonnya agar mengikuti cara-cara baru dalam melihat persoalan hidup.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

1 Comment

  1. titus

    October 15, 2017 at 12:39 am

    wah seperti film drakula mantu ya kalo begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *