Pasar Semakin Ramai, Dampak New Normal?

Pemalang – Masuknya wabah corona ke wilayah Pemalang bukanlah hal yang mengejutkan, melihat bagaimana nyaris di seluruh Indonesia terjangkit wabah ini. Meski sempat diadakan penyuluhan tentang virus ini, akan tetapi tidak memungkiri pula virus ini akhirnya masuk ke wilayah terpencil ini.

Sejak 16 Maret 2020, Bupati Pemalang sudah mulai menetapkan adanya pemberhentian sementara lembaga pendidikan, car free day, dan beberapa tempat keramaian lainnya. Beliau menganjurkan untuk tetap di rumah selama pandemi ini masih membludak. Hal ini juga dilakukan demi memutuskan tali penyebaran virus ini pada warga setempat.

Pada 28 Maret kabupaten tetangga, Tegal, melakukan lockdown wilayah. Tegal dijaga dengan cukup ketat sehingga tidak ada orang luar wilayah yang mampu masuk, kecuali atas izin sesuai ketentuan yang ada. Adapun Pemalang, mulai diterapkan pula lockdown wilayah, dalam rangka meminimalisir adanya penyebaran dari luar.

Akan tetapi, semenjak new normal diterapkan, masyarakat setempat justru kehilangan pemahaman tentang pentingnya memutus rantai penyebaran. Sebelum adanya kebijakan ini, masyarakat memang acuh tak acuh pada virus yang ada di depan mata, namun diterapkannya new normal membuat mereka menjadi lebih menganggap enteng semua yang terjadi. Bahkan tak sedikit masyarakat setempat yang melakukan aktifitasnya di luar rumah tanpa adanya rasa tanggungjawab dalam pemberhentian penyebaran virus corona.

Beberapa lembaga dan tempat yang menjadi pusat keramaian tadinya dapat terkendali, kini masyarakat semakin sulit dikendalikan. Tidak sedikit pula yang menganggap hadirnya virus corona ini bukanlah apa-apa dan bukan menjadi alasan untuk tetap berdiam diri di rumah. Termasuk pasar, tiada habis ramainya. Padahal seperti yang diketahui, pasar bukanlah tempat yang sepi pengunjung, sudah jelas orang-orang yang pergi ke sana memiliki keperluan mendesak masing-masing dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

Penetapan kebijakan baru ini ditanggapi oleh beberapa masyarakat setempat, salah satunya disampaikan oleh Parni (43), seorang Ibu Rumah Tangga yang sempat menanggapi soal dampak kebijakan ini pada warga Pemalang.

“Pasar tambah rame, Mbak. Saya ke sana aja udah desek-desekan,” keluh Parni (43), Selasa (02/06/2020).

Tanggapan sebagai Ibu Rumah Tangga yang seringkali pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari ditambah dengan keluhan karena ditetapkannya new normal ini.

“Saya denger-denger juga bakal ada corona gelombang kedua sama ketiga, khawatir saya, ngga bakal selesai,” imbuh Parni (43) seusai keluhannya.

Kebijakan yang hadir sebagai ketetapan baru pada masa wabah mengecam banyak kritik dari berbagai belah pihak. Pemalang bukan termasuk daerah yang memasuki zona merah, akan tetapi situasi seperti ini bagi masyarakat setempat tidak menghilangkan harapan agar segera mereda dan situasi kembali normal seperti semula.

[Iltijam Rihadatul ‘Aisy Syarifah]
Berita ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah Jurnalistik Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.