Papua, Stereotip, dan Anak Muda yang Insomnia karena Jatuh Cinta

Pikiran manusia mungkin kadang bekerja layaknya papan tulis dan kapur. Catatan tentang sesuatu di sana bisa hilang atau terpelihara, bergantung kita menghapusnya atau justru memperkuatnya.
 
Ingatan kita tentang Papua, misalnya, hampir selalu dihiasi dengan pedalaman, keterbelakangan, atau kekerasan. Ini pandangan yang diperoleh sejak lama, melalui televisi, film, atau bahkan anekdot.
 
Mari kita lihat, Papua hadir dalam pemberitaan media kita, biasanya berkaitan dengan kekerasan. Bertahun-tahun kita mendengar dongeng tentang Organisasi Papua Merdeka. Setahun lalu kita disuguhi pemberitaan tentang kekerasan di Tolikara.
 
Kalaupun tidak kekerasan, pemberitaan tentang Papua berkaitan dengan keindahan alamnya, yang masih murni,alami, dan perawan. Cara kita mengenang Papua mirip dengan cara orang Eropa abad 18 memandng Asia. Mereka memang Asia, termasuk Indonesia, sebagai dunia baru yang eksotis dan membangkitkan hasrat advonturistik.
 
Keterbelakangan Papua, yang barangkali bermukim sebagai kenangan dalam ingatan kita, juga dilestarikan oleh aneka anekdot. Anekdot tentang Papua beredar dari mulut ke mulut tanpa diketahui siapa penciptanya, namun bertahan dan diakui kelucuannya.
 
Mutakhir, anekdot itu bahkan dikomersialisasi, misalnya oleh pemilik chanel Youtube dengan nama MOP Papua. Mereka menghadirkan sketsa pendek tentang kehidupan orang Papua. Kelucuan dalam video itu hampir selalu muncul dari eksplorasi terhadap setereoptip oran Papua yang terbelakang dan bodoh.
 
Dari situ, terbentuklah sterotipe. Ingatan kita mencatat Papua dengan sifat tunggal, dengan sifat-sifat tertentu. Terbentuk semacam konvensi bahwa objek tertentu pastilah memiliki sifat tertentu.
 
Ini berbahaya karena stereotip selalu tunggal. Padahal, sebagaimana Amrtya Sen telah ingatkan, identitas manusia atau masyarakat tidak pernah tunggal. Seseorang selalu memiliki identitas majemuk yang bertukar dan berganti sesuai kepentingan dan oreintasi sosialnya.
 
Mengapa sebagian orang Jogja (lihat liputan CNN di sini: http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160714_trensosial_papua) mengingat orang Papua sebagai tukang mabuk dan suka membuat keributan. Mengapa ingatan seperti itu yang justru kita pelihara? Padahal, dia juga seorang ank muda yang pekerja keras, tekun, ingin memajukan masyarakat dan bangsanya sehingga rela meninggalkan kampung dan keluarganya untuk belajar di Jawa?
 
Identitas tunggal yang dilekatkan kepada orang Papua melahirkan tindakan zalim. Lihat, misalnya, ada pengelola kos yang tegas menulis “Terima Kos, kecuali orang Papua”. Perilaku ini saya kira berpotensi menyakitkan, sebagaimana leluhur kita juga sakit ketika penjajah Belanda menulis “Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk.”
 
Saya menawarkan sejumlah cara agar kita bisa bersahabat dengan Papua dengan cara yang lebih fair.
 
Pertama, mengurangi reproduksi stertotip Papua sebagai objek yang dekat dengan kekerasan dan keterbelakngan. Media, misalnya, perlu mengubah frame peliputan tentang Papua dari frame kekerasan dan eksotisme ke frame lain yang lebih setara. Kalaupun peliputan tentang separatisme memiliki news value terlalu tinggi untuk diabaikan, maka media perlu mengimbanginya dengan peliputan lain yang menunjukkan Papua sebagai komunitas yang smart, indah, dan cinta damai.
 
Kedua, melihat orang Papua tidak selalu sebagai orang Papua, tetapi sebagai pribadi yang sama dengan kita: manusia.
 
Orang Jawa atau siapa pun yang melihat orang Papua hanya sebagai orang Papua menciptakan pagar yang tinggi dan kuat. Dengan cara begitu, kita mengeliminasi kompleksitas identitasnya sebagai manusia. Bukankah selain sebagai orang Papua, mereka adalah seorang Kristen, seorang Katolik, atau seorang Muslim yang beriman? Bukankah mereka juga seorang pemuda/i yang bergairah menatap masa depan yang lebih baik? Bukankah mereka seorang musafir yang senantiasa menahan rindu terhadap kampung halaman? Bukankah mereka juga seorang yang khawatir dan waswas terhadap masa depan bangsanya? Bukankah mereka remaja yang barangkali mendadak insomnia karena sedang jatuh cinta? Bukankah mereka sama dengan kita? Bukankah mereka adalah kita?
 
Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.