Panduan Cerdas Pilih Universitas

SISWA yang baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) punya kesibukan tambahan merencanakan studi lanjut. Mereka memilih perguruan tinggi dan program studi. Meski terkesan sepele, aktivitas ini ternyata menyisakan persoalan. Banyak siswa yang tidak memiliki perencanaan matang sehingga memilih perguruan tinggi secara mendadak, bahkan serampangan.

Kondisi itulah yang, antara lain, dialami Mohamad Jazidi. Usai lulus dari SMA di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jazidi kesulitan menentukan pilihan perguruan tinggi. Awalnya ia ingin mengambil Ilmu Politik di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur. Namun ia mendapati bahwa teman sekelasnya juga mengambil program studi yang sama. Agar tidak bersaing dengan temannya sendiri, ia memutuskan mengalihkan perhatian ke perguruan tinggi di Semarang.

Pengalaman lain dialami Edo Akbar. Ketika lulus SMA pada 2007 silam, ia sama sekali tidak punya gambaran perguruan tinggi yang sesuai untuknya. Pasalnya, ia belum memiliki target yang pasti, karier seperti apa yang ingin diwujudkannya.

Di tengah kegalauan itu, Edo memutuskan memilih dua program studi yang sama sekali berlainan bidangnya. Ia memilih program studi pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekresasi (PJKR) sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua. Setelah tes seleksi, ia ditolak pada pilihan pertama dan diterima di pilihan kedua. Akhirnya ia kuliah di program studi pilihan kedua, meski bukan passion-nya.

Perencanaan studi yang kurang rapi tidak hanya dialami keduanya. Survei Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility Irene Guntur, M.Psi menunjukkan bahwa prosentase mahasiswa yang salah jurusan ternyata mencapai 87 persen. Mahasiswa itu biasanya baru sadar pada semester kedua. Mereka merasa tidak enjoy dengan perkuliahan, tidak antusias, atau bahkan merasa berat karena tidak menguasai materi perkuliahan.

Pilihan studi yang keliru bisa berdampak panjang. Selain hasil belajar yang tidak optimal, prospek karier mahasiswa juga tidak mantap. Menurut Irene, kondisi demikian dapat diamati ketika mahasiswa itu menjalani wawancara (interview).

“Ketika interview, kalau passionnya enggak ada, pasti ketahuan. Kelihatan ketika ditanya oleh pihak perusahahan, exciting atau tidak. Kalau tidak, jawabnya pasti setengah-setengah,” ucapnya sebagaimana dikutip Okezone.

Untuk menghindari hal itu terus terjadi, diperlukan berbagai pihak. Selain inisiatif masing-masing siswa, bimbingan orang tua dan guru juga sangat diperlukan. Selain itu, peran perguruan tinggi dan pemerintah juga perlu dioptimalkan. Masing-masing pihak itu bersinergi menyediakan layanan kepada siswa agar menemukan bakat dan minatnya sejak dini. Dengan demikian, ketika memilih sekolah, universitas, dan karier, mereka lebih mantap.

Pemerintah Inggris, misalnya, mengelola situs bimbingan karier yang patut diadaptasi oleh pemerintah Indonesia. Situs National Careers Service (nationalcareersservice.direct.gov.uk) memuat berbagai panduan praktis yang dapat digunakan anak-anak merencanakan kariernya secara rapi. Selain melayani konsultasi bakat, situs ini menyajikan informasi tentang berbagai karier yang dapat dipelajari oleh pengguna.

Bukan hanya pekerjaan-pekerjaan mainstrem seperti dokter, insinyur, atau pengacara yang dijelaskan dalam situs ini. Pekerjaan-pekerjaan yang unik dan sangat sepesifik, contohnya, komentator olahraga juga diulas dalam situs ini. Pengakses dapat mempelejari secara lengkap, keterampilan apa yang wajib dikuasai untuk menekuni karier ini, lembaga mana yang menyelenggarakan kursus, juga bagaimana merintis dan mengembangkan karier ini.

The National Careers Service provides information, advice and guidance across England to help you make decisions on learning, training and work. The service offers confidential and impartial advice and is supported by qualified careers advisers,” demikian deskripsi dalam situs ini.

Di Indonesia, pendampingan karier dan studi lanjut belum dilembagakan secara serius. Beberapa sekolah hanya mengandalkan konseling rutin yang diselenggarakan oleh guru BK. Beberapa sekolah memiliki inisiatif menggelar pameran pendidikan dengan mengundang berbagai perguruan tinggi. Adapun di SMK, selain ada bimbingan karier, biasanya juga ada lembaga bursa kerja yang menjembatani siswa dengan perusahaan.

Di Indonesia, bimbingan masuk perguruan tinggi juga dilakukan oleh beberapa komunitas masyarakat. Salah satunya dilakukan  oleh Yayasan Mata Air.  Yayasan ini memiliki pegiat di berbagai daerah. Mereka menyelenggarakan bimbingan masuk di perguruan tinggi, mulai pelatihan, pendampingan, hingga memberikan layanan transportasi.

Salah satu anak muda yang menjalankan program itu adalah Agus Jafar. Mahasiswa yang tergabung dalam Forum  Komunikasi Mahasiswa Batang  se-Indonesia (Forkombi) ini sudah beberapa tahun menyelenggarakan bimbingan masuk perguruan tinggi. Dia berkongsi dengan teman-temannya sesama anggota Forkombi atas dukungan Yayasan Mata Air.

Ada empat program utama yang dilakukan Agus. Pertama, ia memberikan sosialisasi dan bimbingan kepada siswa kelas tiga di sekolah-sekolah di Batang. Langsung berkunjung ke sekolah, Agus memberitahukan jadwal pendaftaran, program studi yang tersedia, peluang beasiswa, hingga menyimulasikan cara pendaftaran secara online.

Kedua, bagi mahasiswa yang tidak lolos SNMPTN dan berencana mengikuti SBMPTN dan ujian mandiri, Agus  memberikan pendampingan belajar dalam bentuk Bimbingan Pasa Ujian Nasional (BPUN). BPUN digagas Yayasan Mata Air dilaksanakan di berbagai daerah. Agus bersama Forkombi melaksanakan program itu di Batang dengen menggandeng guru di Batang dan Kendal.

Ketiga, ketika ujian SBMPTN dan ujian mandiri dilaksanakan, Agus mendampingi adik-adiknya mulai saat berangkat dari Batang sampai ke lokasi tes di Semarang. Ia menyiapkan transportasi, penginapan, juga makan selama adik-adiknya berada Semarang. Setelah tes usai, Agus juga akan mendampingi adik-adiknya sampai kembali ke Batang.

Keempat, jika mahasiswa yang didampingi lulus, Agus dan kawan-kawannya juga akan mencarikan kos dan keperluan lain agar adik-adiknya bisa memulai kuliah dengan lancar.

Untuk seluruh pendampingan itu, Agus memungut iuran sebesar Rp200 ribu kepada setiap peserta. Dana itu digunakan untuk operasional selama bimbingan belajar, membayar transportasi Batang-Semarang, membayar penginapan, juga membeli makanan.

Bakat dan Cita-cita

Menurut dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Sebelas Raras Putri Prameswari, penentuan karier merupakan salah satu kebutuhan perkembangan yang harus dipenuhi. Penentuan karier sebaiknya dilakukan saat anak usia 14 sampai 18 tahun, yaitu saat anak-anak masih SMA. Pada masa itu anak-anak perlu mempertimbangkan kondisi internal dirinya, kondisi eksternal lingkungan, serta prediksi kondisi masa depan.

Mengutir Ibrahim (2012), Raras menyebutkan, salah satu penyebab kesalahan penentuak karier adalah kurang informasi. Siswa cenderung memilih program studi yang tren tanpa disertai analisis jangka panjang. Kondisi itulah yang menybabkan sejumlah mahasiswa menyesal setelah diterima di program studi tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi demikian dapat menyebabkan siswa keluar atau dikeluarkan oleh perguruan tinggi.

“Beberapa kasus dropout disebabkan karena adanya kesalahan dalam pemilihan perguruan tinggi dan program studi di perguruan tinggi sehingga seorang mahasiswa tidak mampu menyelesaikan pendidikannya. Tidak sesuainya kemampuan, bakat dan minat,” katanya.

Berdasarkan pengamatannya terhadap siswa SMA di Surakarta, ia menjelaskan bahwa penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan karena siswa belum memiliki pandangan atau gambaran yang jelas tentang karir yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Siswa mengalami kebingungan, keraguan, serta kesulitan untuk mempersiapkan diri dalam memilih bidang atau program pendidikan, fakultas dan jenis perguruan tinggi yang sesuai bakat dan minatnya.

Kondisi serupa diungkapkan, Syamsiah (2012). Menurutnya, ada empat permasalahan pokok yang dihadapi sebagian besar siswa dalam mempersiapkan masa depannya. Pertama, siswa pada umumnya tidak paham dengan potensi yang dimilikinya, sehingga ragu dalam menentukan penjurusan atau bidang studi di perguruan tinggi. Kedua, kurang mengetahui cara memilih program studi. Ketiga, siswa kurang memiliki informasi mengenai jurusan yang tersedia. Empat, belum matangnya perencanaan siswa mengenai pendidikan maupun pekerjaan yang akan dipilihnya.

Menurut Ibrahim (2012) ada sejumlah kerugian yang patut dipertimbangkan jika siswa tidak cermat memilih program studi. Pertama, berapa banyak kerugian materi yang terbuang?  Kedua, berapa waktu yang harus dihabiskan untuk mengatasi ketertinggalan dan mencapai sukses masa depan? Ketiga, berapa uang yang harus dihabiskan? Keempat, seberapa banyak orang yang dikecewakan? Kelima, bagaimana kerugian psikologis, stres akibat rasa bersalah, kalah, dan umur?

Untuk menyelesaikan masalah itu, Agrery Ayu Nadiarenita dari Universitas Negeri Malang (UM) merekomendasikan Model Creative Problem Solving. Meodel ini dikembangkan untuk meningkatkan peran fasilitator dalam pemecahan masalah siswa melalui empat tahapan, yaitu  klarifikasi masalah, brainstorming, evaluasi dan pemilihan ide, dan implementasi.  Pada tahap klairifikasi masalah, siswa diajak mendudukkan persoalan dengan melihat kondisi internal dan eksternal. Masalah-masalah itu dipetakan berdasarkan kategoru-kategori tertentu.

Pada tahap brain storming, siswa diajak menemukenali berbagai persoala dan kemungkinan solusinya. Dalam tahap ini dapat dilakukan refleksi terhadap persoalan serupa yang dihadapi orang lain sebagai bahan inspirasi. Selanjutnya, dari berbagai alternatif solusi pemecahan masalah itu, siswa diajak mempertimbangkan dan memilih yang terbaik sesuai dengan kondisinya. Terakhir, siswa diarahkan mengambil keputusan yang paling relevan untuk mengatasi kebimbangannya.

Ikan dan Kolam

Jurnalis dan penulis buku Maclom Gladwell mengulas persoalan pemilihan program studi dengan sangat baik dalam buku David anda Goliath. Ulasan itu diasarkan pada sejumlah riset di Amerika. Ia mengambil perumpaan mahasiswa sebagai ikan dan perguruan tinggi sebagai kolam.

Lazimnya, lulusan SMA di Amerika ingin masuk kuliah di perguruan tinggi besar anggota Ivy League. Ivy Leage adalah asosiasi perguruan tinggi paling besar, tua, dan berwibawa di Amerika,  seperti Harvard University, Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Universitas Dortmouth, Universitas Pensylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale. Ada keyakinan bahwa universitas-universitas itu dapat melahirkan tokoh-tokoh besar di berbagai bidang.

Namun dalam analisis Gladwell, orang-orang yang masuk ke universitas besar itu belum tentu lebih sukses daripada mahasiswa di universitas kelas dua. Kalau bisa menjadi yang terbaik di universitas terbaik, memang, ada jaminan bahwa ia akan menjadi besar. Tapi kalau hanya menjadi kelas menengah di universitas terbaik, mahasiswa akan merasa terkalahkan. Kondisi ini diibaratkan sebagai “ikan kecil di kolam besar”.

Sebaliknya, mahasiswa di universitas menengah, bisa berpeluang lebih sukses jika bisa menjadi yang terbaik di universitas tersebut. Meskipun tidak memiliki prestasi yang sangat gemilang, ikan kecil yang hidup di ikan kecil akan tetap menonjol dan diperhitungan. Inilah yang oleh Gladwell disebut “ikan besar di kolam kecil.”

Analisis Gladwell ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siswa yang berambisi masuk universitas terbaik di sebuah negara. Di universitas tersebut, persaingan untuk menjadi yang terbaik berlangsung sangat sengit. Untuk menjadi yang terbaik di tempat terbaik diperlukan talenta sekaligus pengorbanan. Jika kalah dalam kompetisi ini, ia akan menjadi orang nomor dua yang tidak bisa mendapatkan kesempatan terbaiknya.

Kecenderungan ini pun terjadi di Indonesia. Para siswa memiliki ambisi masuk di perguruan tinggi terbaik, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Di perguruan tinggi “gajah” itu anak-anak yang saat SMA adalah yang terbaik akan bertemu dengan anak-anak terbaik lain. Mereka akan berkompetisi satu sama. Jika tidak kuat dalam kompetisi yang keras ini, siswa terbaik bisa menjadi mahasiswa terburuk. Kondisi ini dapat mengganggu kelangsungan studi.

Salah satu orang yang merasakan kondisi itu adalah Ali Damanik. Awalnya dia merasa keren karena bisa diterima di lembaga besar. Tapi “merasa keren” hanya berlangsung dalam beberapa pekan. Selanjutnya adalah penderitaan.

“Saya yang biasanya cepat menangkap pelajaran, tiba-tiba di sekolah itu saya seperti orang paling lemot.Bukan karena saya bodoh, tetapi oleh karena teman-teman saya menangkap pelajaran jauh lebih cepat.  Terutama pada mata pelajaran eksakta, seperti matematika, fisika dan kimia,” katanya.

“Bukan cuma cepat menangkap rumus dan teori saja, teman-teman saya itu kemudian dengan entengnya mengembangkan rumus dan teori tersebut, menjawab soal-soal turunannya, mengeksplorasi  kemungkinan-kemungkinan baru dari rumus dan teori tersebut, sampai melihat kemungkinan aplikasinya di lapangan dengan beberapa skenario,” katanya.  Rahmat

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *