Pandemi Covid-19 dan Nasib Pendidikan

Oleh Anggun Cahyaning Wulandari

Pandemi COVID-19 membuat kita tak hentinya bertanya bagaimana nasib Pendidikan Indonesia saat ini, hari esok dan seterusnya apabila kemungkinan terburuk pandemi ini akan berlangsung cukup lama, bisa jadi bulanan hingga tahunan.

Nasib pendidikan terus dipertanyakan setelah diumumkannya kasus Covid pertama yakni setelah WNA asal Jepang yang sempat berkunjung di Indonesia dinyatakan positif Covid-19 (Kemenkes, 14/2/2020). Hal tersebut membuat berbagai pihak panik sehingga pemerintah segera menelusuri jejak perjalanan dan siapa saja yang melakukan kontak fisik dengan pasien tersebut dengan maksud agar mencegah penyebaran virus lebih banyak. Beberapa upaya telah dilakukan dalam penanganannya, namun pemerintah sedikit lengah dan kurang waspada sehingga lonjakan kasus terus meningkat hingga tanggal 20 Mei 2020 tercatat pasien yang positif Covid-19 telah menyentuh angka 19.189 dengan angka kesembuhan 4.575 dan kematian 1242 kasus (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, 20/5/2020). Semua bidang terdampak akibat kian meningkatnya kasus setiap harinya.

Kasus yang terus meningkat memunculkan berbagai kekhawatiran yang dirasakan semua orang menyebabkan pemerintah memutuskan diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH) yang mau tidak mau segala aktivitas dilakukan dari rumah termasuk proses pembelajaran yang mulai dilaksanakan secara daring. Kebijakan belajar dari rumah melalui pembelajaran yang dilaksanakan secara daring atau online mulai diberlakukan pada bulan maret (Kemendikbud, 2020). Akibat adanya Pandemi Covid-19 setidaknya 1,5 milyar anak usia sekolah terdampak di 188 Negara termasuk 60 juta diantaranya ada di Negara Indonesia (UNESCO, 1/4).

Pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak, mengakibatkan pembelajaran diharuskan secara daring atau online sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Guru dan siswa bahkan lini masyararakat terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi baru sehingga wajar nyatanya jika banyak kendala yang harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya. Sebagaimana telah diketahui bahwa Indonesia dengan luas dan multikulturalnya mengakibatkan akses pendidikan belum merata hingga saat ini dan ketidaksiapan stakeholder sekolah menjadi salah satu kendala utama yang mengakibatnya pembelajaran secara dari akan berjalan tidak efektif.

Pendidik dan seluruh sumber daya yang ada dalam lingkup pendidikan dituntut cakap dalam melaksanakan pembelajaran daring dengan menggunakan teknologi dan memanfaatkan jaringan internet meski tidak menutup kenyataan bahwa hal tersebutlah yang menyebabkan kesenjangan dalam dunia pendidikan semakin tajam. Kendala-kendala tersebut bisa datang dari dalam maupun luar. Kendala internal yang dihadapi seperti kurangnya kompetensi pendidik dalam menguasai teknologi yang merupakan dasar yang harus dikuasai dalam melaksanakan pembelajaran secara daring, kesiapan pendidik dan peserta didik juga harus diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Kendala ekternal yang dapat dijumpai seperti kurangnya sarana prasarana dalam menunjang pembelajaran secara daring seperti tidak meratanya subsidi kuota, kendala sinyal internet di beberapa daerah terkhusus daerah 3T, tingkat perekonomian keluarga peserta didik yang berbeda mengakibatkan proses pembelajaran terlaksana secara tidak maksimal, dan berbagai macam kendala lainnya.

Setelah banyaknya kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring, menuntut setiap komponen sumber daya manusia yang terlibat didalamnya untuk menyumbangkan ide perihal mengatasinya. Seharusnya pembelajaran daring yang terasa menyenangkan berubah menjadi membosankan jika pendidik belum mampu mengelola situasi belajar dengan apik. Tapi tak jarang peserta didik juga mengacuhkan apa yang sudah dilakukan pendidiknya. Banyak solusi yang dapat ditempuh dalam mengelola pembelajaran secara daring atau online. Maka dari itu, peran pendidik merasa diuji dalam mengatasi berbagai macam kendala tersebut.

Dilansir dari Medcom.id (24/4/2020) bahwa kendala-kendala yang timbul akibat ketidaksiapan sector pendidikan dalam menjalankan pembelajaran daring telah diantisipasi pemerintah dengan menginisiasi program belajar dari rumah pada tayangan TVRI yang bisa ditonton oleh peserta didik dalam menunjang sumber belajar selama pembelajaran secara daring dilaksanakan. Namun mengenai efektivitas dari tayangan tersebut tentunya tidak dapat disamakan dengan pembelajaran secara tatap muka, bahkan Guru juga kesulitan dalam menentukan tolak ukur penilaian dari hasil belajar siswa.

Peran pendidik sebagaimana dijelaskan oleh Dri Atmaka (2004:17) adalah orang yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada peserta didik dalam pengembangan baik fisik dan spiritual. Pendidik dihadapkan pada kondisi tidak terduga seperti saat Pandemi ini menuntut adanya penguasaan perannya sebagai pendidik dalam mengelola pembelajaran secara daring bukan hanya dalam ranah kognitif namun juga psikomotorik, afektif dan spiritual yang hasil akhirnya dapat dimonitori oleh orang tua di rumah sebagai wujud kerjasama antara pendidik dan orang tua dalam mencapai pembelajaran daring yang maksimal. Tetapi bukan hanya itu, bahwa sebaiknya orang tua berperan bukan hanya sebagai pengawas proses pembelajaran namun juga mentor atau pengarah anak dalam belajar.

Pembelajaran secara daring akan berlangsung efektif apabila memenuhi 3 hal yang pernah dijelaskan C.L. Dillion and C.N Gunawardena (1995) yaitu pertama teknologi, dalam hal ini baik pendidik maupun peserta didik harus memiliki akses internet yang memadai dengan waktu seminimal mungkin dalam pelaksanaan pembelajaran daring yang pada hakikatnya internet merupakan media atau hal dasar dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh secara daring. Kedua, karakteristik pengajar. Kita seringkali menjumpai pendidik yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda mengakibatkan proses pembelajaran setiap mata pelajaran atau mata kuliah memiliki ciri khas yang berbeda pula, dalam hal ini pendidik memegang peranan penting dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif. Ketiga, karakter peserta didik itu sendiri. Seperti halnya pendidik, karakter setiap peserta didik juga berbeda mengakibatkan guru harus mampu memfasilitasi keseluruhan peserta didik tanpa mengenaralisasikannya.

Maka dari itu, dalam mewujudkan pembelajaran daring yang efektif peran seluruh SDM didalamnya sangat penting diperhatikan. Sebab, kunci dari kelancaran proses pembelajaran bukan hanya terletak pada satu peran saja namun juga wujud kerjasama antara pendidik, peserta didik hingga orang tua di rumah. Pandemi Covid-19 telah nyata adanya dalam memberikan dampak bagi seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia termasuk bidang pendidikan yang secara langsung harus mengubah scenario pembelajaran yang telah ditetapkan dengan scenario baru yang sesuai kondisi saat ini. Proses pembelajaran jarak jauh secara daring diterapkan sebagai wujud jalan keluar terbaik dalam pelaksanaan proses pendidikan, sehingga perlu adanya kerjasama dari semua sumber daya manusia yang terlibat dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi peserta didik selama menjalankan kebijakan WFH.

[Anggun Cahyaning Wulandari]

Opini ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah jurnalistik jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.