Olahraga, Olah Fisik dan Olah Uang

Olahraga bukan hanya “olah raga”. Di era industri seperti saat ini, olahraga telah disulap sebagai mesin penghasil uang. Ada miliaran uang yang beredar setiap kali event olahraga digelar. Ada miliaran pula uang yang bisa diperolah atlet dalam sekali pertandingan.

Untuk melihat betapa megah industri olahraga, kita bisa amati dari urusan yang sederhana: tiket. Bagi klub olahraga, tiket adalah salah satu sumber penghasilan. Jika dikelola dengan baik, uang tiket bisa digunakan untuk menghidup klub.

Bagi klub-klub di Indonesia, harga tiket memang bukan sumber pendapat utama. Para pengelola klub tidak bisa memasang tiket terlalu mahal agar tidak menjauhkannya dari suporter. Untuk pertanidngan final Piala Presiden beberapa waktu lalu misalnya, harga tiket “hanya” Rp30 ribu hingga Rp165 ribu. Nominal itu masih cukup terjangkau oleh suporter.

Namun bagi beberapa klub elit di Eropa, penghasilan dari tiket tidak bisa diremehkan. Konfederasi sepakbola Eropa (UEFA) misalnya membanderol tiket final Liga Champions sebesar Rp 5,5 juta (390 euro) untuk kategori I. Tiket termurah, kategori IV dilepas seharga Rp 988 ribu atau setara 70 euro.

Harga tiket pertandingan akan semakin besar jika klub yang bertanding adalah klub besar. Lebih-lebih jika pertandingan itu dianggap sebagai laga panas.

Di Spanyol, pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid bisa mencapai Rp6,4 juta. Maklum saja, pertemuan kedua tim itu selalu menarik penikmat sepak bola. Dengan julukan “el-clasico” pertandingan Barca dan Madrid menjanjikan ketegangan, keseruan, sekaligus gengsi.

Website penjual tiket pertandingan sepak bola Viagogo mengklasifikasi harga sesuai klub yang bermain. Pertandingan Manchaster United dengan tim medioker (lain) dibanderol dengan harga sekitar Rp2 juta. Tapi pertandingan MU dengan klub kelas atas seperti Chelsea FC, harganya naik hingga dua kali lipat lebih.

Dirilis Goal, Arsenal adalah klub yang menawarkan tiket dengan harga paling mahal. Untuk bisa duduk manis di Emirates Stadium sambil menaikmati pertandingan, suporter harus merogoh kocek 97 poundsterling atau Rp1,940.000. Cukup besar! Harga tiket di Arsenal isusul West Ham 95 pound, Chelsea 87 pound dan Tottenham yang menjual tiket dengan harga 81 pound.

Klub London lainnya, Chelsea, mematok harga £1.250 untuk tiket musiman. Dengan tiket itu, penonton sudah bisa menyaksikan seluruh pertandingan The Blues selama semusim. Tapi jika ingin membeli secara eceran, fans Chelsea harus membayar £65,79 (sekitar Rp1,3 juta).

Tiket pertandingan sepa bola bukanlah yang termahal. Cabang tinju menjadi cabang yang bolak-balik memecahkan rekor penjualan tiket termahal. Misalnya, dalam pertandingan antara Manny Pacquiao dengan Maywather. Promotor membagi tiket ke dalam enam kategori yang dipatok dengan harga berbeda. Tiket termurah dihargai sebesar USD1.500 (sekira Rp19,3 juta), sedangkan yang paling mahal dihargai USD10.000 atau Rp129,3 juta.

Fakta ini menunjukkan bahwa olahraga bukan lagi kegiatan olah raga. Industri olahraga membuat kegiatan itu sebagai “olah uang”. Ada baiknya, tapi banyak pula buruknya. Merah Putih

1 Comment

  1. Dorcas

    December 30, 2015 at 12:21 am

    My Dad’s account always said: Consider term life insurance to provide education funds for your children.
    Especially if you are a single parent, term life insurance is a very affordable type of protection that can provide
    for college costs and other expenses for your children. Once your kids have finished their education, you can drop the coverage.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.