Novel 1984, Kemungkinan Terkelam Selingkuh Pers-Penguasa

Nama pria tokoh utama dalam novel 1984  itu adalah Winston Smith. Dia laki-laki biasa yang bekerja pada Kementerian Kebenaaran (Ministry of Truth)- sejak 30 tahun lalu. Kementerian ini adalah satu dari empat kementerian yang ada – tiga yang lainnya adalah Kementerian Kasih Sayang, Kementerian Limpah Ruah, dan Kemeterian Perdamaian.

Sebagai petugas negara, Winston memiliki tugas yang sangat spesifik. Dia ditempatkan pada Dapartemen Catatan. Tugasnya adalah mengoreksi seuruh bentuk catatan, buku, maupun dokumen lain. Koreksi diperlukan jika catatan, buku, atau dokumen lain itu, memuat data yang tidak sesauai dengan keperluan partai (saat ini).

Salah satu dokumen yang sangat sering ia koreksi adalah The Times, koran resmi negara Oceania. Perintah untuk mengoreksi datang dari atasannya. Perintah itu datang jika media itu memuat data yang tidak sesuai dengan ucapan Bung Besar saat ini. Bung Besar adalah sebutan bagi pemimpin tertinggi Partai sekaligus kepala negara.

Misalnya, pada awal tahun Bung Besar meramalkan bahwa negara akan memproduksi 150 juta sepatu.Pada akhir tahun, ternyata hanya 50 juta sepatu yang dapat doproduksi. Maka, tugas Winston adalah mengoreksi semua catatan yang pernah terbit agar seolah-olah Bung Besar meramalkan bahwa target produksi sepatu ada 50 juta. Denga cara demikian, negara, Partai, dan Bung Besar tidak pernah keliru.

Untuk apa rekayasa data  itu dilakukan? Itu dilakukan agar rakyat percaya bahwa kata Bung Besar selalu benar. Praktik ini dilakukan dengan kesadaran bahwa kebenaran yang diperoleh rakyat adalah kebenaran yang diperoleh melalui media, buku, dan catatan lainnya. Dengan mengontrol secara mutlak isi media, buku, dan catatan lain, negara berarti bisa mengontrol kebenara pada pikiran rakyatnya.

Mekanisme ini selalu berhasil karena rakyat Oceania sendiri tidak berkomunikasi dengan warga negara lain. Mereka tidak mendapat data pembanding atas kebenaran yang disediakan oleh negara. Efektifitas strategi ini  mencengangkan, sebab rakyat lebih percaya data-data itu dibandingkan dengan realitas empiris yang ditemuinya.

Katakanlah, misalnya,negara mengumumkan bahwa negara telah memproduksi 100 juta alas kaki. Rakyat akan mempercayai pernyataan itu meski mereka mendapati separuh dari jumlah mereka ternyata nyeker dan alas kaki sulit sekali diperoleh.

Kebohongan negara melalui media adalah bagian dari strategi Partai menancapkan kekuasaan secara total. Dengan menyuplai jenis dan porsi informasi kepada rakyat, negara mengontrol pikiran yang bergejolak di benak rakyat.

Strategi ini ditopang dengan sebuah sistem bahasa baru yang disebut Newspeak. Sistem bahasa ini dikembangkan dari bahasa Inggris- mereka menyebut Oldspeak – dengan sejumlah modifikasi. Newspeak – secara bertahap – diupayakan dapat menggantikan Oldspeak pada 2050.

Salah satu cara kerja bahasa Newspeak adalah memangkas makna kata sehingga sama persis dengan makna yang dikhendaki Partai. Misalnya, kata “free” dikemas dengan demikian rupa sehingga bermakna  tunggal seperti pada kalimat “Kucing ini bebas dari kutu”. Kata “free” yang mengacu pada makna “kebebasan berpikir”, “kebebasan berpendapat”, dan “kebebasan hidup” dimusnahkan samasekali.

Jika “free” dalam arti kedua itu sudah tidak lagi berkembang – bahkan sebagai konsep – rakyat tidak akan dapat memikirkannya. Jika rakyat tidak bisa memikirkannya, mereka tidak akan mengidamkannya. Dan karena rakyat tidak mengidamkannya, maka rakyat tidak akan tergerak untuk meraih dan memilikinya.

Selain itu, skema ini diperkuat dengan sebuah sistem pengawasan total terhadap rakyat. Negara memasang alat bernama teleskrin di setiap rumah rakyat yang dianggap penting untuk merekam aktivitas rakyat. Tidak hanya aktivitas, teleskrin juga merekamsuara, ekspresi wajah, dan igauan saat tidur. Jika ada satu saja ada yang menunjukkan tanda ketidaksetujuan – apalagi perlawanan terhadap Partai – maka rakyat akan segera “ditangani” oleh Polisi Pikiran.

Penulis novel ini, George Orwell, membimbing  pembaca untuk memikirkan kemungkinan terburuk perseligkuhan penguasa dengan media. Jika penguasa berhasil membangun media yang terpercaya bagi rakyat dan pada saat yang sama berhasil menguasai isi media, maka negara menguasai pikiran rakyat. seburuk apa pun kebijakan yang dibuat negara, itu tidak penting, karena media bisa “membenarkannya”.

Dengan control penuh terhadap media, negara bahkan memiliki kekuasaan untuk membinasakan warganya tanpa terlihat hal itu sebagai sebuah tindakan yang keji. Caranya, culik dan bunuh rakyat yang jadi sasaran. Kemudian – ini adalah tugas Departemen Kebenaran – hapus seluruh dokumen dan bukti bahwa orang tersebut pernah ada. Beritakan bahwa orang tersebut meninggal sebelas tahun silam.

“Kami mengendalikan materi karena kami mengendalikan pikiran. realitas itu letaknya di dalam batok kepala,” demikian kata O’Brien, salah satu anggota Partai Inti, yang mendasari pekerjaan negara memanipulasi media dan pikiran rakyatnya.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

KETERANGAN:
Rubrik Resensi Buku Terbuka bagi Anda, para pembaca PORTALSEMARANG.COM. Bagikan ulasan tentang buku yang Anda baca dengan mendaftar di menu Registrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.