New Normal, Solusi atau Momok bagi Negeri

Oleh : Ditya Febriana

New Normal mengharuskan hidup berdampingan dengan virus yang nyata sudah memakan banyak korban di seluruh dunia. Efektifkah penerapan wacana New normal di Indonesia saat ini.

Korea Selatan yang sebelumnya digadang-gadang telah berhasil mengatasi Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, kini telah memasuki kluster ke-2 kasus Covid-19 setelah menerapkan kebijakan New Normal satu bulan yang lalu. Dilansir dari CNBC Indonesia pada Jumat (29/5/20) menyatakan bahwa pemerintah Korea Selatan secara resmi memberlakukan kembali aturan sosial distancing selama dua minggu ke depan, dari 29 Mei hingga 14 Juni.

Data dari Wordlometers pada Senin (1/6/20) mencatat Korea Selatan memiliki penambahan jumlah kasus sebesar 35 kasus, sehingga total kasus menjadi 11.503 kasus. Setelah beberapa waktu lalu mengalami fase landai dalam grafik jumlah kasus Covid-19.

Diketahui kluster ke-2 di Korea ini akibat adanya ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan di tempat-tempat umum (klub malam, restoran, maupun tempat kerja). Laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) pada Jumat (8/5/20), dalam Reuters.com menyatakan setidaknya terdapat 15 orang pengunjung klub-klub malam yang berada di kota metropolitan Seoul, Itaewon, telah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19.

Beberapa waktu lalu pemerintah gencar dalam mencanangkan wacana penerapan New Normal Life di Indonesia. Bapak Jokowi dan ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita dalam CNBC Indonesia (27/5/20), menyatakan bahwa terdapat kesamaan arti New Normal menurut pendapat mereka yaitu kita harus berhadapan dengan virus atau berdamai dengan virus corona, hingga vaksin ditemukan.

Namun melihat grafik kasus Covid-19, belum menunjukkan tanda grafik akan stabil atau bahkan mengalami penurunan jumlah kasus, justru jumlah kasus ini terus meningkat setiap harinya. Sekarang, Senin (1/6/20) tercatat Indonesia memiliki penambahan jumlah kasus sebesar 467 dan total kasus menjadi 26,940, dengan total 1,641 kasus mati akibat Covid-19. Penambahan kasus ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang melanggar kebijakan dan anjuran yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya. Lonjakan ini menjadi berkali-kali lipat setelah perayaan Idulfitri beberapa hari yang lalu.

Bahkan kerap dijumpai masyarakat yang menjadi egois dengan berbangga diri jika tidak mengikuti peraturan, kebijakan, maupun anjuran yang telah ditetapkan, hingga muncul #IndonesiaTerserah, beberapa waktu lalu. Juga dijumpai masyarakat yang berpendapat dan berperilaku tidak manusiawi dalam sosial media dengan mementingkan kebahagiaan dan kepentingannya sendiri, seperti prank sembako sampah oleh Ferdinan cs beberapa waktu lalu. Bahkan sebagai aparatur negara yang seharusnya menjadi contoh serta saling menjaga dan melindungi sebagai warga negara, justru didapati seolah menyepelekan adanya wabah Pandemi Covid-19 ini, tak ayal sebagai warganya pun bisa bersikap dan berpikir demikian mengenai Pandemi Covid-19 ini.

Dengan tingkat kedisiplinan rendah yang dimiliki masyarakat, dapatkah wacana New Normal diterapkan di Indonesia dengan semestinya atau justru akan menambah jumlah korban dari virus yang belum ada vaksinnya ini.

Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, dalam GridHealth (10/5/20) menjelaskan, New Normal Life adalah bagian dari strategi yang diterapkan sebelum vaksin ditemukan, dalam penerapannya benar-benar harus diperhatikan, namun pelonggaran pembatasan sosial idealnya dilakukan setelah melewati puncak kurva epideminya.

Dari pendapat tersebut, , New Normal Life sendiri sebenarnya bisa dikatakan sebagai kehidupan menuju akhir dari wabah pandemi. Sebab New Normal Life semestinya diterapkan dengan hasil yang lebih efektif apabila wabah pandemi sudah menunjukkan tahap penurunan jumlah kasus atau bahkan sudah tidak ditemukan lagi grafik jumlah kasus dalam suatu daerah, namun masih harus tetap menaati berbagai peraturan protokol kesehatan yang justru semakin ketat, agar tidak ada lonjakan kluster ke-2 dalam grafik kasus, seperti yang terjadi di Korea Selatan.

Selain itu, sebelum menetapkan kebijakan New Normal ini, pemerintah harus memantau dengan teliti mengenai kesiapan pelaksanaannya, terutama mengenai pengadaan protokol kesehatan serta sosialisasi mengenai New Normal Life dan virus itu sendiri di daerah-daerah yang ada di Indonesia, juga kesiapan rencana antisipasi (fasilitas rumah sakit dan perekonomian) apabila terjadi kegagalan dalam pelaksanaan kebijakan ini.

Pada dasarnya pemberitahuan wacana penerapan New Normal Life di Indonesia sendiri tampak seperti keputusasaan pemerintah atas hasil yang belum optimal dari seluruh pengambilan keputusan oleh pemerintah guna mengatasi Pandemi Covid-19. Berbagai upaya telah dikerahkan oleh pemerintah namun dalam praktik di lapangan terlihat masih belum atau tidak maksimal penerapannya. Dengan berbagai alasan yang terlihat mementingkan ego dan kesenangan diri untuk melanggar kebijakan maupun anjuran pemerintah tersebut. Dimana pelanggaran ini dilakukan disetiap lapisan masyarakat, tak terkecuali aparatur negara pun ikut andil dalam ketidakoptimalan hasil praktik kebijakan dan anjuran tersebut di lapangan.

Sebenarnya New Normal ini bisa menjadi solusi yang tepat, jika setiap lapisan masyarakat memiliki serta memegang teguh rasa tanggung jawab dari rasa kemanusiaan dan tidak egois atau bersikap menyepelekan virus pandemi ini. Sebab dengan penerapan New Normal, berarti kita dapat beraktivitas seperti biasa, namun dengan menaati protokol kesehatan yang benar.

Dengan praktik yang tepat, semua sektor dalam pemerintahan dapat berjalan dan memulihkan kembali keadan, hingga semua sektor pemerintahan membaik dan normal kembali. Bagi masyarakat bisa melakukan aktivitas seperti biasa (bersekolah maupun bekerja), tidak lagi merasa jenuh dengan hanya berdiam diri di rumah, dan memulihkan perekonomian keluarga. Jadi, semua lapisan masyarakat dapat menjalani kehidupan seperti biasa, bagi masyarakat yang bergantung pada batuan sosial dari pemerintah tidak lagi harus bergantung pada bantuan tersebut yang belum tentu tepat sasaran.

Namun jika kebijakan New Normal ini diterapkan sebelum pandemi mulai memasuki masa damai atau bahkan benar-benar dapat diatasi. Dengan tingkat kedisiplinan, rasa empati, dan tanggung jawab yang rendah pada setiap lapisan masyarakat dalam upaya mengatasi pandemi ini, maka New Normal tidak terlihat akan menjadi solusi melainkan hanya terlihat seolah menjadi pelepasan tanggung jawab atas ketidakcakapan pemerintah dalam mengatasi Covid-19. Berupa bentuk seleksi alam yang menganut hukum alam, dimana yang memiliki kekebalan tubuh yang kuat akan bertahan dan yang memiliki kekebalan tubuhnya lemah maka ia akan terseleksi dari muka bumi.

Semakin lama pandemi ini berlangsung, maka semakin parah dampak yang akan ditimbulkan, bukan hanya keselamatan warga namun juga kesejahteraan dan keberlangsungan hidup warga selama dan setelah Pandemi ini berlangsung menjadi taruhannya. Akan tetapi pemerintah juga jangan terburu-buru dalam menerapkan suatu kebijakan yang mana justru akan berdampak pada semakin parahnya penambahan jumlah korban, kemunduran berbagai sektor dalam pemerintahan, dan waktu yang semakin terbuang sia-sia tanpa hasil apa pun.

Untuk itu kiranya warga maupun pemerintah benar-benar harus berperan, bergandeng tangan, dan saling bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain, dalam membantu melancarkan kebijakan dan anjuran-anjuran yang telah ditetapkan pemerintah. Kunci keberhasilan dari kebijakan New Normal ini berada di tangan kita yang mempraktikkan, setiap diri masyarakat dan tak terkecuali aparat negara. Hingga kemudian New Normal ini benar-benar dapat diterapkan dengan semestinya, bukan menjadi momok yang menakutkan terhadap bertambahnya jumlah korban dan jatuhnya sebuah negara, akibat berbagai sektor yang lumpuh sebagai dampak dari kebijakan yang belum tepat dalam pelaksanaannya.

[Ditya Febriana]

Opini ini hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah Jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.