Narrative Fallacy: Kenapa Kesuksesan Seseorang Tak Bisa Ditiru?

Di tulisan kemarin, saya bicara sedikit tentang Manny Pacquiao. Pahlawan Filipina ini saya sebut bersama Pele dan Carles Puyol karena determinasinya.

Kita tahu, Pacquaio petinju yang hebat. Bukan cuma hero Filipina. Ia juga kebanggaan Asia.

Kini, ia adalah salah satu petinju dengan karier paling gemilang. Masih aktif, meski sudah jadi anggota senat di negaranya.

Kisah sukses Pacquaio adalah kisah yang amat dramatis.

Memang sih, dunia tinju dipenuhi cerita dramatis. Cerita tentang orang-orang yang berjuang keluar dari kemiskinan lewat olahraga. Orang yang ingin meninggalkan jalanan menuju istana.

Meski begitu, dunia tinju tak akan gampang memiliki talenta seperti Pacquaio. Begitu pula Filipina, tak akan mudah memiliki hero olahraga seperti dia.

Dunia olahraga mungkin sudah berkembang pesat. Fasilitas latihan makin lengkap. Perhatian kepada bidang ini juga makin besar. Baik dari pemerintah maupun industri.

Tapi melahirkan orang hebat seperti Pacquiao bukan cuma soal latihan. Ada faktor alam yang sulit didefinisikan.

“Faktor alam” itulah yang membuat kesuksesan seseorang tak bisa dikopi.

Para ilmuwan mungkin bisa membuat konsep tentang petinju ideal. Lalu merancang program latihan yang canggih. Biar lahir petinju baru seperti Pacman.

Tapi itu sama sekali tak menjamin akan lahir petinju hebat sepertinya.

Sebabnya adalah: narrative fallacy.

Ketika merumuskan konsep tertentu, para ilmuan biasanya mempelajari pola. Jika pola itu konsisten, ia bisa dimaklumatkan sebagai teori. Sesuatu yang diyakini kebenarannya.

Berdasarkan teori itu, ada penjelasan-penjelasan logis mengapa terjadi ini dan itu. Otak menerimanya karena memang logis.

Tetapi yang logis tidak selalu menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi.

Betapa pun logis, teori selalu berangkat dari penyederhanaan-penyederhaan. Teori disusun dengan memberi perhatian pada sejumlah variabel. Tapi musti diingat: teori juga dibuat dengan mengabaikan banyak variabel.

Variabel-variabel terabaikan itulah yang membuat teori tak bisa sama dengan kenyataan. Selalu ada jarak. Selalu ada perbedaan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa teori (dan kebanyakan cerita tentang kesuksesan) mengandung bias. Kesalahan. Narrative fallacy.

Para guru yang cerdik menyadari itu. Karena itu, guru yang cerdik tak akan memaksakan succes story orang lain untuk muridnya yang lain.

Sebab, cerita-cerita tentang kesuksesan selalu mengandung fallacy. Ketika diterapkan, hampir pasti meleset.

Para penulis, mentor, para pengajar harus mencari cara mengatasi narrative fallacy. Jika tidak teratasi, setiap kisah sukses sejatinya hanya karangan yang dilogis-logiskan.

Saat mulai menulis buku The Everyting Store, jurnalis Amerika Brad Stone dicekat pertanyaan tentang narrative fallacy ini.

Narasumber utama untuk buku itu, bos Amazon Jeff Bezzos, bertanya kepadanya “Bagaimana caramu mengatasi narrative fallacy?”

Bezos tahu betul, kisah hidupnya unik dan kompleks. Sulit dituturkan ulang.

Kalaupun ditulis dalam versi panjang, tidak mungkin menggambarkan yang sesungguhnya. Akhirnya, biografi hanya jadi nukilan-nukilan. Yang seolah terhubung karena dilogis-logiskan.

Karena itulah, nukilan-nukilan itu tak cukup berharga. Meski logis, ia tak bisa menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Dan karena itu: jalan kesuksesan yang tertulis di dalamnya tidak bisa menjadi formula.

Salam,
Rahmat Petuguran

Sumber foto:
https://www.thesun.co.uk/…/manny-pacquiao-life-story-phili…/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.