Muslihat Uang

Apakah tuhan menciptakan uang? Tidak, dia memang menciptakan bumi dan langit. Ia juga menciptakan malaikat, jin, dan manusia. Tapi ia tak menciptakan uang. Uang tak lahir dari rahim (kasih sayang) tapi hasil illegal agreement antara manusia dengan setan. Uang adalah anak haram, tapi anak haram yang didambakan.

Bagaimana hubungan manusia dengan uang kini? Awalnya manusia dominan dan mendikte. Tapi ketika uang mulai “dewasa”, keduanya jadi setara. Kini uang justru ambil kendali. Tiap kali bernegosiasi dengan uang, manusia hampir selalu kalah. Uang menjelma jadi pelobi yang meyakinkan sekaligus jadi perayu yang melalaikan.

Salah satu bukti kekalahan negosiasi manusia adalah lahirnya postulat bahwa kebutuhan manusia tak terbatas. Manusia kalah karena terjebak asumsi bahwa uang adalah alat pemenuhan kebutuhan. Uang membuat manusia lupa bahwa yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidupnya, pertama-tama, adalah makanan.

“Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikeringkan, ketika ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang,” begitu kata Eric Weiner, orang yang melakukan perjalanan panjang membandingkan kebahagian warga dunia di berbagai negara.

Posisi tawar manusia terhadap uang dewasa ini makin lemah karena uang semakin perkasa. Uang bermetamorfosa sehingga mudah guna sekaligus bertambah nilainya. Dulu uang berwujud benda solid yang nyata manfaatnya. Di Romawi misalnya, garam pernah disepakati sebagai uang. Lebih berkembang, uang menjelma  emas, batu “mulia” yang langka perolehannya. Kini uang beruwujud kertas yang sangat sederhana meski rendah nilai fungsionalnya. Setelah jengah berwujud kertas, uang kini berwujud angka. Seberapa banyak digitnya, sebesar itulah nilainnya.

Kekalahan negosiasi manusia terhadap uang berefek panjang. Kini manusia terjebak pada asumsi ketakberhinggaan. Uang membuat menusia jadi demikian naïf bahwa ketakberhinggaan adalah nyata. Salah satu buktinya, manusia benar-benar bisa menyimpan uang dalam jumlah yang cukup bagi 100 generasi penerusnya pada satu rekening saja. Uang bisa dimiliki tanpa dimiliki.

Dalam kaidah gramatikal bahasa Inggris, jumlah uang dinyatakan dengan “much” dan bukan “many”. “Much” biasanya digunakan sebagai penanda bagi benda-benda uncountable seperti udara, butir pasir, butiran debu, butiran bubuk, dan semacamnya. Adapun “many” digunakan untuk benda-benda terbatas yang terhitung: rumah, sepatu, kursi.

Benarkah uang uncountable dalam arti tak bisa dihitung? Tidak juga. Baik nominal maupun fisik uang bisa dihitung oleh bank sentral sebuah negara. Yang tak bisa dihitung adalah ambisi manusia untuk memiliknya. Tak ada alat ukurnya, tak ada indicator maksimalnya. Punya sejatu pingin dua juta. Punya lima juta pengin sepuluh juta.

Lantas, apakah manusia akan selalu kalah dalam negosiasi panjang dengan uang? Ya, manusia akan selalu kalah. Manusia bertekuk lutut kepada uang. Manusia rela melepas martabat kemanusiaannya untuk uang. Manusia bisa kehilangan akal sehatnya karena uang. Manusia bisa kehilangan nuraninya karena uang.

Meski begitu, manusia bukannya tak punya peluang menang. Uang punya satu titik lemah: yakni spiritualitas. Sekalipun lahir dari hubungan “haram”, uang punya manfaat. Ya manfaat ekonomis, manfaat politis, juga menfaat spiritual.

Mendekati uang dari aspek ekonomis amat berisiko membuat manusia tamak. Uang akan menciptakan perasaan bahwa manusia membutuhkan apa pun yang bisa ia beli. Mendekati uang dari sisi politis juga amat berisiko membuat manusia jadi dzalim. Uang bakal meletup-letupkan nafsu paling purba dalam sejarah manusia: nafsu berkuasa.

Pendekatan yang relatif lebih menguntungkan bagi manusia adalah pendekatan spiritual. Pendekatan ini mensyaratkan manusia, pertama-tama, harus abai pada nominal. Kedua, manusia juga harus mengabaikan manfaat praksis uang. Lepas dari dua hal itu akan membantu menusia fokus memaknai uang pada proses, baik proses memperolehnya maupun membelanjakannya.

Jika ikhtiar di atas berhasil, asumsi lama tentang akan tergantikan prinsip ini. Jika diperoleh dengan baik uang adalah berkah. Jika diperoleh dengan cara haram uang adalah musibah. Jika dibelanjakan dengan cara benar uang bakal memuliakan. Jika dibelanjakan dengan cara keliru uang bakal menistakan.

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.