Meramal Perubahan Kebijakan Politik Media Pascapelantikan Anies-Sandi

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Media online nasional memberitakan itu dengan nada pemberitaan yang beragam.
 
Kompas.com, Okezone, Metrotvnews.com, dan Viva menurunkan berita yang cenderung normatif. Isi pemberitaan berkaitan dengan jalannya acara pelantikan, tokoh-tokoh yang hadir, serta pernak-pernik yang mewarnainya.
 
Hanya Detik.com yang menerbitkan berita dengan frame negatif, misalnya dengan menerbitkan berita berjudul: Pasukan Oranye Bersihkan Sampah Pendukung Anies-Sandi.
 
Metrotvnews.com sebenarnya memiliki catatan menurunken pemberitaan yang negatif pula, misalnya menurunkan berita berjudul: Mobil Dinas Anies-Sandi Seharga Rp2 Miliar yang menggiring pembacanya untuk menilai keduanya bermewah-mewahan. Tapi pada hari pelantikan, pemberitaan media ini lebih netral.
 
Arah kebijakan media akan menjadi topik yang menarik dibahas usai pelantikan ini. Saya meramalkan, akan ada adaptasi kebijakan redaksi dalam beberapa waktu ke depan untuk “menyesuaikan diri” dengan gubernur baru.
 
Sorotan kepada Anies dan Sandi tentu saja akan semakin meningkat karena mereka akan beraktivitas sebagai pejabat publik. Hal-hal pribadi, remeh-temeh, akan banyak diulas.
 
Pertanyaannya: apakah media akan cenderung kritis terhadap keduanya seperti selama ini atau justru akan berbelok arah mendekat ke gubernur baru?
 
Di Balik Redaksi
 
Dengan dilantiknya Anies Sandi, secara resmi mereka akan menjadi pengambil keputusan tertinggi di pemerintah DKI Jakarta. Semua infrastruktur birokrasi akan di bawah kontrol keduanya, termasuk unit dinas yang menangani pemberitaan.
 
Pemprov DKI memiliki hubungan masyarakat dan dinas informasi yang bisa diberdayakan sebagai saran komunikasi. Kedua unit kerja ini tak cuma memproduksi konten informasi sendiri, tetapi juga memanfaatkan media mainstream.
 
Kedua unit kerja ini akan menjalin kerja sama dengan media maisntream dalam aneka bentuk: konferensi pers, press rilis, penerbitan advertorial, dan iklan.
 
Dengan sumber daya finansial yang dimilikinya, pemprov bisa merangkul media mainstrem dengan aneka cara. Karena itulah, arah pemberitaan media sangat mungkin akan berubah.
 
Saya bukan sedang meragukan integritas para jurnalis, tetapi bicara tentang kerja sama antara lembaga pemerintah dengan korporasi. Kerja sama ini berada di ruang yang belum tentu bisa dijangkau oleh jurnalis.
 
Oleh karena itu, saya tidak kaget kalau media-media yang selama ini cenderung mengkritik Anies-Sandi, akan mlipir dan bekerja sama dengan mereka.
 
Adapun media yang selama ini dekat Ahok-Djarot, baik karena alasan profesional maupun ideologis, akan berhenti memberi sorotan kepada keduanya. Ahok mungkin akan menjadi bahan pemberitaan, terutama menjelang bebas dan rencana kariernya setelah itu. Tapi Djarot, setelah lengser, kehabisan nilai berita yang akan membuat jurnalis tak akan sering lagi meliriknya.
Persepsi Publik
 
Saluran komunikasi yang “dikendalikan” Anies-Sandi, pada akhirnya, akan membuat pemberitaan cenderung menguntungkan mereka.
 
Perlahan, ini akan berdampak pada opini publik. Dengan kekuasaan yang sudah ada di tangan, disertai perhatian media yang melimpah, kedua orang ini akan leluasa bermanuver untuk meraih simpati publik.
 
Kecuali kedua orang ini membuat blunder dan kesalahan yang mendasar, media akan lebih menyorot mereka dari aspek positifnya.
 
Karena itulah, opini publik lama kelamaan akan bergeser. Pendukung mereka semakin loyal, massa mengambang mulai bersimpati, adapun pembencinya akan ada yang mulai netral.
 
Dalam waktu satu dua tahun, olok-olok terhadap mereka berdua akan berkurang drastis. Orang-orang yang mengutukinya sebagai gubernur saracen juga akan berkurang.
 
Cair dan Dinamis
 
Saya meramalkan skenario itu karena persepsi publik adalah sesuatu yang sangat dinamis. Cair. Simpul perubahan persepsi publik terletak di empat titik. Pertama, Anies Sandi sendiri. Kedua, media. Ketiga, internet influencer. Keempat, aktivis medsos.
 
Anies Sandi sebagai objek sorotan utama hanya harus bekerja, jangan buat pernyataan bodoh, dan manuver aneh. Mereka mestinya fokus pada janji-janji politik saat kampanye. Tidak perlu meniru gaya populis Jokowi yang nyempung ke got atau gaya populis Ahok yang marah-marah ke bawahan atau mecat kepala sekolah sesuka-suka.
 
Media mainstrem – sebagaimana saya ulas di atas – akan mulai didekati humas Pemprov dan barangkali dinas komunikasi dan informatika. Kerja sama pemerintah-media akan merekatkan keduanya.
 
Internet influencer, Anies memiliki orang seperti Pandji. Tapi tidak tahu, apakah dia akan tetap menjadi corong setelah Anies terpilih. Tapi kalaupun Pandji ogah, akan banyak internet influencer yang mendekat dan siap bekerja sama.
 
Yang terakhir adalah “aktivis medsos”. Kelompok inil lazimnya diisi oleh orang-orang yang yakin neytatus atau ngetwit adalah kegiatan intelektual. Kelompok ini cenderung independen, tapi dalam banyak hal juga di-drive oleh media mainstream dan internet inlfuencer.
 
Pahlawan Baru
 
Jika perubahan arah kebijakan media seperti yang saya ramalkan betul terjadi, amat mudah untuk menebak kelanjuttannya: akan muncul pahlawan baru.
 
Sama seperti Ahok yang bukan siapa-siapa awalnya, ketika menjadi Gubernur Jakarta bisa menyita perhatian publik dan menjadi “pahlawan” bagi banyak orang. Baik Anies maupun Sandi memiliki peluang juga untuk tampil menjadi pahlawa, meski modal sosial mereka tentu saja berbeda.
 
Sebagaimana tak ada kawan dan lawan abadi, dalam politik juga tak ada pahlawan abadi.
Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
 
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *