Menurut Peneliti Etnolinguistik, Inilah Makna Filosofis Tumpeng

tumpeng

Bagi kebanyakan orang Jawa, tumpeng merupakan makanan yang tidak asing lagi. Makanan ini biasanya disajikan pada upacara adat yang berkaitan dengan daur hidup seseorang, terutama saat mitoni dan syukuran kelahiran.

Makanan ini biasanya terbuat dari beras. Bentuknya sangat khas, yaitu kerucut. Dalam upacara, tumpeng biasanya disajikan dengan lauk tertentu.

Menurut peneliti etnolinguistik dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang Dr Imam Baehaqie, bentuk dan nama tumpeng memiliki makna filosofis yang mendalam.

Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap masyarakat di Wonogiri, ia menyebutkan bahwa kata tumpeng merupakan akronim dari tumuju ing pengeran (menuju kepada Tuhan).

Nama ini seleras dengan bentuk tumpeng yang besar di bawah dan mengerucut ke atas. Bentuk ini melambangkan perjalanan yang dimulai dari bawah dan berakhir ke atas. Dalam bentuk ini ada nasihat bahwa hidup seseorang semestinya diarahkan untuk beribadah kepada Tuhan.

Dalam artikel ilmiah di Jurnal Litera, Imam menyebutkan bahwa masyarakat Wonogiri mengenal berbagai jenis tumpeng.

Salah satu tumpeng yang dikenal masyarakat sana adalah tumpeng pitu. Jumlah pitu atau tujuh menunjukkan fungsi tumpeng jenis ini untuk upacara mitoni. Tumpeng jenis ini juga disebut sebagai tumpeng pandhedhel. Dinamakan tumpeng pandhedhel karena digunakan sebagai pengharapan agar jabang bayi lahir dengan lancer karena telah di-dhedhel (didorong).

Jenis tumpeng lain yang ada di masyarakat adalah tumpeng bathok bolu. Nama tumpeng ini berasal dari nama bathok (tempurung kelapa) yang memiliki tiga lubang (bolong telu/bolu).

Secara semiotis tumpeng bathok bolu melambangkan permohonan agar tumbuh dan berkembangnya janin atau benih dalam rahim ibu. Jabang bayi dismbolkan dengan adanya telur pada bathok bolu tersebut.

Di wonogiri ditemukan pula tumpeng playon. “Tumpeng playon adalah tumpeng yang diletakkan di encek dengan lauk ingkung atau ayam panggang. Sajian ini dinamakan tumpeng playon karena terkait dengan cara pengambilannya, yaitu dengan cara mlayu ‘berlari”. Dengan sesaji berupa tumpeng playon ini diharapkan kelak anak yang lahir pikirannya cerdas, pintar, dan gesit, serta penuh inisiatif” terang Imam.

Latar kultural pengadaan sesaji tumpeng playon adalah adanya pandangan masyarakat pelaku sesaji yang turun-temurun bahwa roh halus sangat menyukai panggang ayam.

 

2 Comments

  1. Pingback: Kupas Mitos tentang Nikah ‘Melangkahi’ sang Kakak yang Katanya Bikin Berat Jodoh. Hmm, Benarkah? – MENIT LIFESTYLE

  2. Pingback: Kupas Mitos tentang Nikah 'Melangkahi' sang Kakak yang Katanya Bikin Berat Jodoh. Hmm, Benarkah? - IDNPRENEUR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.