Menuju Tatanan Baru New Normal

Pandemi covid-19 berdampak serius pada perekonomian masyarakat. Baik dari masyarakat ekonomi mikro, maupun makro semua terpengaruh. Namun di balik pandemi ini juga terdapat suatu hal positif yang dapat kita ambil dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Seperti yang kita ketahui pemerintah menerapkan beberapa kebijakan untuk mengahadapi pendemi ini. Seperti kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), social distancing, dan menekankan untuk lebih peduli akan kesehatan. Efeknya sangat jelas dirasakan. Contohnya pandemi ini memaksa perilaku manusia untuk menahan diri mengurangi mobilitas menjadikan mobil-mobil terparkir di garasi-garasi rumah, pabrik-pabrik tidak lagi mengepulkan asap, sebagai penyebab tingginya polusi. Sehingga membawa berkah bagi ekosistem di mana kita berpijak. Dan membuat kualitas udara dan lingkungan global membaik itu merupakan dampak tak terduga dari pandemi ini. Orang—orang pun menjadi lebih perhatian mengenai pentingnya menjaga kesehatan diri agar imunitas mereka kuat dan kebal terhadap virus corona.

Belakangan ini penerapan fase baru menghadapi pandemi covid-19 semakin gencar dipersiapkan dan disosialisasikan. Setelah berakhirnya memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama dua bulan, pemerintah berencana membuat skenario baru dengan sebutan new normal. Berbagai upaya dalam penerapan new normal mulai direncanakan, seperti di kantor-kantor pemerintahan, lembaga-lembaga pendidikan, maupun transportasi umum menerapkan protokol kesehatan.

Di tengah pandemi yang kian meluas dan menginfeksi jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia. Pemerintah menggaungkan atau dapat dikatakan mengajak kepada seluruh masyarakat untuk menerapkan dan mengikuti prosedur atau protokol kesehatan new normal. Dilansir kompas.com (26/05/2020), new Normal pada akhirnya menjadi kondisi yang harus dihadapi masyarakat agar dapat hidup berdamai dengan ancaman virus corona ini sampai ditemukannya vaksin yang efektif, untuk beberapa waktu kedepan.

Akibat dari pernyataan tersebut, penerapan kebijakan skenario new normal diterapkan dimana-mana dan memberikan sejumlah keleluasaan kepada masyarakat dengan ketentuan harus menjalankan protokol kesehatan. Tak lupa pemerintah membuka kembali aktivitas dan aksesibilitas seperti tempat ibadah, hiburan, belanja dan liburan yang diyakini dapat memulihkan perekonomian baik dalam skala makro dan mikro. Sekaligus mengontrol penyebaran dengan menjalankan protokol kesehatan.

Respon publik pun beragam. Banyak kalangan berpendapat kebijakan itu tidak pas mengingat kurva covid-19 masih belum turun ditambah lagi ancaman gelombang kedua yang mulai terjadi di berbagai negara, pemerintah dianggap memilih ekonomi dari pada nyawa sehingga timbullah persepsi publik tentang herd immunity. Sebagian kalangan lain bisa menerima situasi ini mengingat sudah cukup lama berada dalam situasi isolasi dan mengakibatkan mengalami kesulitan ekonomi baik makro maupun mikro.

Di saat-saat seperti inilah diharapkan pemerintah dapat  lebih tegas dan konsisten dalam menghadapi pendemi covid-19 ini. Seperti mulai dari melakukan sosialisasi penggunaan masker, social distancing, selalu mencuci tangan dan penerapan protokol kesehatan semakin gencar dilakukan. Dan untuk masyarakat diharapkan dapat  mengikuti kebijakan pemerintah guna menekan persebaran mata rantai persebaran covid-19 agar grafik persebaran covid-19 terus menurun dan diharapkan bisa hilang, serta menekankan agar membuat perubahan perilaku publik jadi new normal secara terus menerus agar lahir perilaku baru ramah lingkungan dan sehat.

[Addin nugroho]

Opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Tekhnologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.