Menolak Fanatik dengan Sosiolinguistik

Pengetahuan sejarah siswa Indonesia ternyata lebih baik dibandingkan siswa Amerika.
 
Buktinya, siswa Indonesia bisa menyebut nama-nama presidennya secara berurutan kurang dari 10 detik. Siswa Amerika perlu lebih dari 50 detik, lima kali lebih lama.
 
Membanggakan, kan?
 
***
 
Anekdot itu saya dengan pertama kali tahun 2005. Biasanya anekdot itu digunakan untuk menyindir standar tunggal dalam pengukuran sosial.
 
Para pengguna standar tunggal kerap berasumsi bahwa kemampuan satu orang/masyarakat bisa diperbandingkan secara berhadap-hadapan dengan orang/masyarakat lain. Pangukuran semacam ini dilakukan dengan menafikan variabel sosiokultural yang sangat mempengaruhi karakter masing-masing orang/masyarakat.
 
Anekdot itu mendadak saya ingat ketika orang mempersolakan “Alfateka” yang diucapkan Presiden.
 
Penyebutan itu memang tidak tepat. Tapi menjustifikasi ketidaktepatan itu untuk membangun prasangka bahwa Presiden bukan penganut agama yang taat adalah ketidaktepatan lain yang lebih sulit diterima.
 
Jika orang Jawa sepertinya tak bisa menggunakan bahasa Arab dengan makhraj yang benar, itu lumrah. Sebab, kemampuan seseorang memproduksi bunyi-bunyi bahasa dibentuk oleh latar belakang sosiokulturalnya.
 
Dalam kajian bahasa, pengaruh sosiokultural itu melahirkan dialek dan idiolek.
 
Secara sederhana, dialek adalah variasi bahasa yang terbentuk karena kebiasaan kelompok, baik kelompok geografis, tingkat sosial, maupun periode hidup.
 
Adapun idiolek adalah ciri berbahasa yang dimiliki orang per orang. Idolek bisa terbentuk karena pendidikan, usia, gender, selera, dan variabel sosial lain.
 
Dua konsep itu dipelajari dalam sosiolinguistik karena ada kesadaran bahwa variasi bahasa merupakan gejala yang lumrah. Anak kembar yang hidup di rumah yang sama dan diasuh orang tua yang sama saja bisa punya perilaku bahasa yang beda, apalagi orang dari kultur yang beda.
 
Sosiolinguistik memberi wawasan kepada orang yang mempelajarinya bahwa variasi bahasa dalam masyarakat adalah gejala yang lumrah.
 
Dalam sosiolinguistik, bukan justifikasi mana benar dan mana salah yang diutamakan. Justru, menemukan hubungan variasi tuturan dengan latar belakang sosial jauh lebih penting.
 
Dengan wawasan demikian, orang bisa menjaga jarak sehingga terhindar dari fanatisme berbahasa.
 
Orang-orang kaya dan terpelajar mungkin haqul yakin bahwa bahasanya adalah yang paling baik. Mereka mungkin berargumentasi bahwa bahasa mereka lebih sistematis dan akademis.
 
Tapi sebaliknya, orang-orang kelas bawah bisa juga merasa bahwa bahasanya lebih baik. Alasannya, bahasa mereka lebih ekspresif dan jujur.
 
Nah, sikap itu tidak sejalan dengan semangat sosiolinguistik yang berpandangan bahwa pengukuran baik dan benar ekspresi bahasa harus disesuaikan dengan konteks sosialnya.
 
Kayaknya sih begitu. Hehe.
 
Kalau orang Bali kesulitan melafalkan konsonan [t] dan menggantinya dengan /t/ retrofleks, bukan berarti mereka salah.
 
Kalau orang Sunda tidak bisa melafalkan konsonan [p], itu bukan berarti mereka salah. Itu pitnah!
 
Kita juga tidak perlu menyalahkan Donald Trump kalau suatu saat main ke Indonesia dan tak bisa mengatakan “jemb*t” sefasih orang Jepara. Trump tidak salah.
 
Yang salah dari Trump, justru, adalah meninggalkan Stormy Daniel tanpa memberi pesangon yang cukup. Ups! Hehe
 
Salam,
Rahmat Petuguran
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.