Menjaga Kesehatan Mental Psikologi Anak di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Rizky Nikmatul Khasanah

Dampak pandemi virus corona telah dirasakan oleh dunia pendidikan. Dilansir dari kontan.co.id (06/03/2020), bahwa wabah virus corona (COVID-19) telah berdampak terhadap sektor pendidikan, hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan mengancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Salah satu akibat dengan adanya penularan Covid-19 ini sekolah melakukan pembelajaran secara daring. Dan hal ini yang menyebabkan beberapa dari siswa senang, karena pembelajaran secara daring tersebut.

Kemungkinan membuat siswa menjadi malas belajar. Wajar saja siswa menjadi malas belajar, hal ini dikarenakan kebanyakan siswa ketika di rumah hanya berdiam diri saja, tidak semangat dalam melakukan pembelajaran daring dan mempunyai waktu yang lebih lama untuk bermain, bahkan lebih memlih untuk tidur. Semakin lama anak di rumah semakin tidak rajin dan menutup banyak peluang anak untuk berkarya dan melakukan banyak hal yang bermanfaat.

Kebijakan dari pemerintah yaitu penerapan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah mengakibatkan kebanyakan warga untuk tetap dirumah, sehingga banyak orang yang terkena dampak dari PSBB tersebut terutama anak yang masih mengenyam pendidikan. Kini anak menjadi terganggu dalam menutut ilmu secara langsung dan dianjurkan melakukan pembelajaran daring dari rumah masing-masing. Itu juga akan berdampak pada kesehatan mental psikologi anak.

Sebagaimana dikutip oleh WHO (2004) jargon yang digunakan oleh WHO, “there is no health without mental health” menandakan bahwa kesehatan mental perlu dipandang sebagai sesuatu yang penting sama seperti kesehatan fisik. Mengenali bahwa kesehatan merupakan kondisi yang seimbang antara diri sendiri, orang lain dan lingkungan membantu masyarakat dan individu memahami bagaimana menjaga dan meningkatkannya.

Dilansir dari promkes.kemkes.go.id (08/06/2018), kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Kesehatan mental merupakan aspek terpenting yang seharusnya kita jaga dengan erat karena kesehatan fisik bukan lagi menjadi satu satunya aspek yang menjadi nomor satu. Disamping itu, ada kesehatan mental yang harus juga kita tau dan pahami betul makna pentingnya kesehatan mental itu. Keadaan di rumah saja tidak jarang membuat anak merasakan kebosanan, lesu, bingung, malas, bahkan tidak jarang anak merasakan stress yang berawal dari ketidak nyamanan ketika 24 jam berada di rumah saja.

Pada hal ini kita ketahui bahwa yang berperan banyak membersamai anak ketika dirumah adalah orang tua, saudara, dan keluarga. Melihat banyaknya anak anak yang terserang permasalahan seperti bosan, cemas, bingung, bahkan stress ketika berada di rumah saja yang selalu menuju pada kesehatan mental anak. Lantas bagaimana cara menjaga kesehatan mental psikologi anak selama adanya pandemi ini?.

Yang memiliki peran ataupun tugas untuk sama sama menjaga dan memelihara kesehatan mental pada anak adalah mereka semua yang berada di rumah. Ada banyak cara menjaga kesehatan mental. Yaitu di antaranya adalah selalu bersyukur, menghargai, dan menghormati yang di sekeliling kita, melakukan sesuatu yang kita sukai demi mengembangkan bakat atau minat, olahraga, dan juga mempererat komunikasi interpersonal orang tua dengan anaknya.

Dalam ranah ini, pemeran ibu, ayah, dan saudara di lingkup rumah adalah sosok yang menentukan bisa tidaknya seseorang anak menjaga kesehatan mental mereka sendiri. Pastinya juga didukung oleh keadaan ataupun kondisi rumah yang juga memberikan kenyamanan kepada anak.

Maka dari itu, bisa dimulai dari membuat kondisi kamar anak ataupun rumah secara keseluruhan bersih, rapi, dan juga nyaman menjadi tempat belajar maupun bermain anak. Dengan kondisi dan juga lingkungan yang baik itu pula lah, anak anak dapat merasa nyaman sehingga dapat menjalani komunikasi interpersonal dengan orang tua yang baik juga kedepannya.

Dengan komunikasi interpersonal yang baik, seorang anak nantinya diharapkan mendapat tempat yang nyaman dan aman untuk mencurahkan segala hal yang tengah dirasakannya. Emosi emosi positif baik negatif seorang anak dapat tersalurkan dengan bercerita, menangis, tertawa, dan lain lainnya ketika sedang di rumah saja dan bersama orang tua. Ketika hal ini terjadi, maka secara perlahan kita sudah bisa menjaga dan merawat kesehatan mental anak ketika sedang di rumah saja.

[Rizky Nikmatul Khasanah]

Artikel ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta didik mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.