Menis Getir Berbisnis (Penerbitan) Buku

Bisnis buku pernah menjadi salah satu bisnis yang paling menguntungkan. Tapi kondisi di sektor ini sangat fluktuatif. Beberapa pengusaha buku membuktikan, menjalani bisnis ini seperti menaiki selancar di atas gelombang. Naik dan turun.

Pendiri Diva Press Group Edi Mulyono menhakui hal itu. Melalui Facebook, ia menceritakan manis getirnya merintis bisnis bidang penerbitan. Ia bersyukur, setelah lima belas tahun, perusahaannya berkembang pesat. Di balik perkembangan perusahaan yang beralamat di Jogja itu, tersimpan sejumlah cerita yang oleh Edi disebut: mengenaskan.

Diva mulai menerbitkan buku tahun 2001. Saat itu Edi, sang pendiri, pemilik, sekaligus karyawan, masih berstatus mahasiswa program magister Filsafat Islam dan Perbandingan Agama UIN Yogyakarta. Buku pertama yang diterbitkan adalah Konflik Antaragama karya Bernard Lewis. Meskipun dibanderol dengan harga miring Rp12.500, ternyata buku itu sulit terjual.

“Saya titipkan buku itu di beberapa bakul buku di lingkungan IAIN Jogja (kini UIN). Setiap siang saya pantau penjualan buku itu. Saya lalu membawa buku itu ke Shopping Centre. Menawarkan ke beberapa toko buku,” kenangnya.

Alih-alih mendapat sambutan bagus, buku yang ditawarkan Edi justru dilempar oleh penjual. “Buku jelek gini. Nggak mau,” kata penjual buku sembari melempar buku ke atas tumpukan buku di kiosnya. “Kalau mau titip saja. Kalo nggak mau ya sudah. Nggak laku buku beginian.”

Bermodal keberanian, Edi menemui bos distributor buku.Ia berniat meminta bantuan supaya buku terbitannya bisa dijual melalui jaringan distribusi si bos. Awalnya, hanya tanggapan negatif yang Edi terima. Bos perusahaan distributro ini ogah mengambil buku Edi karena memprediksi penjualannya akan jeblok. “Kamu ini asal aja bikin buku,” sahutnya tanpa menoleh. “Kamu tinggal cetak, aku yang jualnya setengah mati. Nggak ambil aku,” tulis Edi menirukan perkataan bos.

Tapi Edi tak menyerah. Setengah memohon, Edi terus mendesak agar bos distributor mau menjualkan bukunya. Bos besar akhirnya luluh dan mau mengambil buku Edi, seribu eksemplar.

Dengan sepeda motor pinjaman, Edi mengantarkan sendiri bukunya dari kos ke kantor distributor. Dia haraus bolak-balik mengangkut buku yang telah dipak dengan kardus.  “Bolak balik. Jarak yang saya tempuh dari kost (bukan kantor) ke kantor distributor itu sekira 5 km. Bolak balik 6-8 kali. Di depan kaki ada, di jok belakang disusun dua dus besar diikat rafia. Hujan menemani,” katanya.

Meskipun mendapat kesulitan pada penerbitkan buku pertama, Edi tak menyerah. Dia tidak boleh berhenti menerbitkan satu buku saja. Sebab menurutnya, kesinambungan adalah kunci bisnis penerbitan buku. Tapi ini juga bukan kondisi yang mudah diputuskan karena buku perdananya belum laku. Apalagi, biaya cetak dari buku itu berasal dari hutang dan belum dilunasi.

Ia memberanikan diri menemui pemilik percetakan di Jogja. Dia nembung untuk mencetak buku kedua, tapi dengan ngutang. Buku kedua yang diterbitkan Edi adalah Seven Theories of Religion karya Daniel L. Pals. Bukunya lumayan tebalsehingga ongkos produksinya mahal. Biaya cetak sekitar Rp14 juta. Biaya pracetak untuk penerjmah dan lay out sekitar Rp600 ribu.

Persoalan muncul karena buku serupa ternyata telah diterbitkan penerbit lain. Saat datang ke bos distributor, bos distributor sama sekali tidak mau menjual bukunya. Ia akhirnya lari ke distributor lain yang lebih kecil. Dari distributor ini ia memperoleh uang Rp20 juta dengan sistem BG (sejenis cek mundur 3-4 bulan). Uang itulah yang digunakannya untuk membayar percetakan.

Modal kepercayaan itulah yang jadi modal usaha Edi dalam pernebitan buku-buku berikutnya. Dengan agak tidak percaya diri, dia nembung ke percetakan lain supaya bisa mencetakkan bukunya dengan cara hutang. Berkat track recordnya yang lurus, percetakan percaya kepada Edi. Dari sinilah ia bisa mencetak buku ketiga dan seterusnya. Bahkan seorang pengusaha percetakan pernah menawarinya untuk berlangganan cetak, meski ngutang.

Bisnis penerbitannya mulai stabil sekitar tahun 2002-2003 berkat pesanan buku-buku Kahlil Gibran dari distributor buku di Solo. Karena pemesanannya jumbo, Edi bisa mengambil keuntungan lebih banyak dari biasanya. Pada periode itu, buku-buku Kahlil Gibran sedang diminati banyak orang.

“Buru-buru pulang, menyalakan komputer, melacak file-file terjemahan Kahlil Gibran. Semuanya ketemu. Tapi tak cukup untuk sepuluh judul. Saya lalu menemui Kiai Faizi di Losmen Hantu yang saya tahu punya buku Kahlil Gibran dalam versi bahasa Arab. Saya pinjam buku itu, foto kopi, lalu menghubungi beberapa kawan IAIN yang pintar menerjemah,” katanya.

Keuntungan dari proyek inilah yang membuat Edi bisa memiliki modal lumayan lapang untuk mengembangkan usahanya.  Kini, meskipun bukan yang terbesar, Diva Press menjadi salah satu penerbit buku yang besar di Joga. Penerbit ini menerbitkan berbagai jenis buku, dari buku anak, kebudayaan Jawa, hingga perbandingan agama.

Penerbitan Indie

Edi termasuk saah satu pengusaha penerbitan yang sukses. Namun di luar sana, ada banyak pengusaha penerbitan yang harus menghentikan usaha sebelum sempat berkembang. Seperti kembang, usaha mereka layu sebelum mekar. Masalah pokoknya: laba penjualan tak cukup untuk menutup biaya produksi yang tinggi.

Hariman salah satunya. Pria yang tinggal di Semarang ini pernah merintis bisnis penerbitan pada tahun 2005. Ia menerbitkan buku fiksi. Di luar rencananya, buku tidak laku. Dia harus menanggung rugi karena biaya cetak tidak terganti

Untuk menyiasati kondisi itu, beberapa penerbit mengembangkan model penerbitan indie. Teknologi percetakan memungkinkan buku ditucetak dalam jumlah terbatas. Dulu, untuk mencetak buku, percetakan hanya melayani minimal 500 eksemplar. Dengan print on demand, penerbit sekarang bisa memesan buku hanya dalam jumlah puluhan. Ini membuat ongkos produksi bisa dicicil. Mesin yang digunakan adalah printer, bukan offset.

Nulisbuku.com adalah salah satu contoh sukses yang menggunakan model penerbitan indie. Perusahaan ini didirikan oleh Briliant Yotenega dan Aulia Hamlimatusadiah. Ide dasar bisnis penerbitan ini adalah melibatkan penulis sebagai penerbit sekaligus. Nulisbuku.com hanya menjadi fasilitator agar buku karya penulis bisa terbit.

Melalui nulisbuku.com, setiap penulis bisa meng-upload naskah. Tanpa dipungut biaya. Mereka baru mengeluarkan biaya, kalau naskah itu dicetak menjadi buku. Itupun hanya dengan Rp 40.000 untuk satu eksemplar.

Di sinilah keterlibatan penulis dengan penerbit terjalin. Naskah yang masuk baru akan dicetak ketika ada yang membeli. Harga buku ditentukan oleh penulis sendiri. Selisih ongkos produksi dengan harga jual akan dibagi dua untuk penulis dan Nulisbuku.com. Misalnya, sebuah buku oleh penulisnya dijual dengan harga Rp 50.000. Harga itu kemudian dikurangi dengan biaya produksi Rp 40.000, maka keuntungannya sebesar Rp 10.000. Dari nilai ini, 60 persennya untuk penulis dan 40 persennya untuk Nulisbuku.com.

Di Nulisbuku.com, penulis sendiri yang memasarkan bukunya. Kesuksesan dalam pemasaran akan sangat menentukan banyak tidaknya buku yang akan dicetak. Nulisbuku.com juga akan membantu mensosialisasi dengan memposting 12 kicauan di akun twitter resmi mereka yang kini sudah memiliki 76.900 follower. Juga akan dipromosi melalui facebook Nulisbuku.com. Rahmat

Foto: asriswear.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.