Menikmati Wisata Akademik University of Bristol

KESEMPATAN menginjakkan kaki di Bristol, United Kingdom (UK), adalah kesempatan istimewa bagi saya. Selain untuk kuliah, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berinteraksi dengan banyak orang di sana. Tidak kalah berharga, saya juga berusaha mempelajari tradisi masyarak Inggris yang tertib dan penuh hormat.

Kesempatan ke Bristol saya peroleh setelah saya lolos mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Saya memilih University of Bristol sebagai tempat untuk melanjutkan studi pada Mathematics Education (M.Sc). Beasiswa ini telah saya perjuangkan cukup lama, sejak 10 Desember 2015. Pada 15 September 2016 saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Inggris untuk pertama kalinya.

Dari ibukota London, Kota Bristol dapat dijangkau dengan bus selama 3 jam perjalanan. Kata pertama yang muncul kala itu adalah “hangat”. Memang suhu di Bristol pada waktu itu sekitar 15o C, tidak terlalu panas dan dingin.

Lokasinya yang berada di bagian selatan UK membuat kota ini menjadi salah satu kota terhangat di UK. Bristol juga merupakan kota yang tenang, terutama di bagian pemukiman penduduk yang jaraknya sekitar 30-40 menit (dengan bus) dari city center.

Bristol, seperti kota-kota lain di UK menggunakan bus sebagai transportasi umum. Bagi orang desa seperti saya, kaget saat melihat bus yang pintu masuknya tidak setinggi bus-bus pada umumnya di Indonesia. Semua bus dilengkapi sarana serta tempat bagi penyandang disabilitas, space untuk kereta bayi serta priority seat bagi manula, ibu hamil, dan orang sakit. Baik di Bristol maupun di kota lain, biasanya untuk tiket bus bagi mahasiswa selalu ada potongan harga baik daily, weekly, mothly, ataupun yearly ticket.

Sementara itu, tiket di Bristol umumya menggunakan paper tiket (dipesan di bus) dan m-ticket yang bisa dipesan melalui aplikasi first bus di playstore. Namun beberapa orang seperti manula biasanya menggunakan kartu tertentu yang bisa di-tap di mesin yang disediakan. Hal yang menarik bagi saya saat di bus adalah antrian rapi para penumpang saat masuk maupun keluar bus. Saat bus berhenti di bus shelter, penumpang yang naik menunggu penumpang yang turun keluar dari bus. Mereka selalu mengatakan “Thank you” kepada driver dan menggunakan kata “please” saat membeli tiket.

Terbantu Google Maps

Mobilitas selama di Bristol juga sangat mudah dengan adanya bantuan Google Maps yang dapat diakses melalui smartphone. Kita dapat memperoleh internet gratis selama di bis di samping beberapa tempat seperti di toko maupun swalayan. Cukup dengan menuliskan tempat tujuan dan titik awal, Google Maps akan memberikan bagaimana informasi untuk menuju daerah tujuan berikut dengan bis nomor berapa yang harus kita naiki.

Lokasi bus stop yang dituju juga bisa dideteksi melalui rute yang ditunjukkan oleh google maps. Tidak hanya itu, hampir di setiap bus stop terdapat time display information terkait kapan bis sampai di bus stop tersebut dan rute yang dilalui oleh bis yang berhenti di bus stop tersebut. Di dalam bis biasanya penumpang difasilitasi informasi terkait bus stop apa saja yang akan dilewati selama perjalanan.

Berbicara mengenai kuliah di luar negeri pastinya berbeda dengan kuliah di Indonesia. Masih teringat di benak saya, hari pertama saya dan teman-teman melakukan kegiatan registrasi ulang di Wills Memorial Building (salah satu gedung di University of Bristol). Antara mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal dibedakan ruang registrasinya.

Selain itu, sudah ada beberapa perwakilan mahasiswa yang ditugaskan di beberapa spot yang berbeda guna membantu kelancaran proses registrasi. Sehingga saat berada di loket, kami tidak menghabiskan waktu untuk mencari-cari dokumen yang mungkin masih terselip di dalam tas. Hal yang paling membuat saya kagum adalah respon saat saya sudah well-prepared dengan dokumen saya. Mereka selalu bilang “Ah, lovely”, atau “ Thank you, you are very organized”.

Sebelum memasuki hari kuliah aktif, saya terlebih dahulu mengakses sistem informasi akademik yang di kampus kami diberi nama mybristol serta mengakses blackboard (website yang terkait dengan unit yang kita ambil di term tertentu).

Di website blackboard sendiri sudah ada materi perkuliahan yang perlu dipelajari sebelum hari dilaksanakannya pembelajaran tersebut. Selain itu ada juga list tugas yang harus dikerjakan untuk unit-unit tersebut yang diambil. Bahkan kami juga dianjurkan untuk berdiskusi melalui website tersebut sebagai salah satu bentuk dari penilaian yang dilakukan oleh dosen.

http://www.bris.ac.uk/news/2017/may/new-balloon.html

Iklim Akademik di Bristol

Selama kuliah di University of Bristol, ada 3 term yang akan saya lalui, yaitu autumn, spring, dan summer. Berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan sistem semester. Masing-masing term ada mata kuliah wajib, mata kuliah pilihan/umum (bisa diambil mahasiswa yang jurusannya berbeda), dan mata kuliah tambahan yang boleh tidak diambil (Academic Learning Languange).

Selain itu, volume kelas masing-masing unit juga berbeda. Ada kelas yang mahasiswanya 10-15 orang, ada yang 30-60 orang, dan ada juga mata kuliah yang sistemnya seperti bimbingan skripsi di Indonesia. Pada term spring nanti saya juga akan mengambil mata kuliah dimana saya dipasangkan dengan guru di salah satu sekolah di Bristol.

Hari pertama saya memasuki perkuliahan dengan mahasiswa partimte cukup menjadi perjuangan yang berat. Pasalnya kuliah di sini lebih menekankan aspek-aspek seperti critical thinking, reading, dan discussion. Meskipun saya sudah membaca artikel di reading list yang diberikan, tetapi masih saja tertatih-tatih. Terlebih karena di Indonesia tidak terbiasa berpikir kritis, yang ada asal nerima apa yang dibilang di bacaan yang dibaca.

Sementara itu, di kelas saya (Master of Mathematics Education), selain 4 orang dari Indonesia (saya yang paling muda, yang lain angkatan 2009 dan 2010), ada juga 4 orang Inggris (3 guru dan 1 dosen), 1 orang dari Antigua (guru), 1 orang dari Denmark, dan 1 orang dari Cina. Kelas kami serasa ruang meeting yang hanya diisi 11 mahasiswa dan seorang dosen.

Saat berdiskusi, kebiasaan orang Inggris dalam menyampaikan pendapat di forum kecil seperti di kelas saya adalah asal bicara, tanpa mengangkat tangan seperti yang kebanyakan orang Indonesia lakukan. Sehingga, di awal-awal perkuliahan saya dan teman-teman Indonesia lainnya sedikit kesulitan saat hendak berpendapat. Hingga akhirnya dosen kami memutuskan untuk menggunakan sistem angkat satu tangan di pertemuan kedua dan seterusnya bagi mereka yang hendak menyampaikan gagasan dan ide.

Keunggulan kuliah di kelas yang mahasiswanya sedikit seperti di kelas saya adalah adanya peluang untuk berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris akademik. Saya belajar dari mendengar apa yang mereka sampaikan terkait dengan pembelajaran matematika juga tentang bagaimana mereka menggunakan kata-kata akademik di forum diskusi. Menantang memang, apalagi satu kelas dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun mengajar dan saya baru saja lulus dari pedidikan S1 tahun lalu. Memang sudah menjadi fakta umum bahwa kebanyakan orang di UK lebih memilih bekerja setelah lulus dari S1, tidak langsung S2 seperti saya. Hal ini juga dikarenaka biaya belajar di universitas sangat tinggi.

Atmosfir lain yang saya rasakan ketika belajar di University of Bristol adalah adanya study center dan perpustakaan yang dilengkapi berbagai fasilitas seperti silent study, group study, wheelchair access, 24/7 access, serta beberapa komputer untuk menunjang kegiatan belajar. Beberapa dilengkapi dengan tempat isi ulang air minum, kafe, serta diperbolehkan untuk makan sambil belajar. Menarik bukan? Jadi tidak kedinginan belajar di luar ruangan.

Yang lebih asik lagi, untuk mahasiswa pascasarjana bisa meminjam buku maksimal 35 buku. Kita juga bisa memperpanjang buku melalui website mybristol. Ada pula notifikasi jika masa peminjaman sudah hampir berakhir atau ada yang mengajukan permintaan untuk meminjam buku yang kita pinjam.

Tak Sulit Beribadah

Kuliah di Bristol tidaklah sulit bagi umat muslim seperti saya. Di University of Bristol ada organisasi yang disebut Bristol Islamic Society yang mewadahi para mahasiswa (S1 maupun postgraduate) untuk belajar agama seperti Bahasa arab, tajwid, juga kegiatan sosial seperti charity event dan masih banyak lagi. Biasanya di gedung Student Union, organisasi ini juga memfasilitasi umat muslim untuk beribadah sholat Jumat bersama.

Tak jauh dari gedung ini, terdapat pula prayer room yang bisa digunakan untuk melaksanakan sholat bagi umat Islam. Untuk memperoleh akses ke ruangan ini, mahasiswa harus mendaftar terlebih sehingga students card yang dimiliki bisa langsung di-tap saat memasuki female maupun male prayer room. Keamanan memang dijaga sangat ketat sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke tempat ini. Beberapa daerah di Bristol juga memiliki masjid yang bisa digunakan untuk sholat seperti Bristol Central Mosque, Shah Jalal Jame Mosque, dan masih banyak lagi.

Sebagai pendatang baru, saya sendiri menggunakan aplikasi ATHAN yang dapat diunduh melalui playstore guna mengetahui jadwal sholat. Kita juga bisa mengecek arah kiblat melalui aplikasi ini. Pun ketika diberlakukannya daylight saving (pada hari Minggu taerakhir di bulan Oktober dan Maret) dimana waktu di Inggris mundur 1 jam, aplikasi ini otomatis memperbarui jadwal sholat. Terkait daylight saving time ini memberikan manfaat dan tantangan bagi umat islam. Hal ini dikarenakan saat daylight saving, umat islam bisa berpuasa dengan waktu yang pendek Karena malam lebih lama daripada siang, dan sebaliknya saat siang lebih lama daripada malam.

Hal lain yang menarik bagi saya sejauh ini selama kuliah di University of Bristol adalah lokasinya yang strategis dengan pusat kota serta beberapa tempat-tempat cantik di Bristol yang bisa dikatakan instagramable seperti College Green, Clifton suspension bridge, St. Mary Redcliffe, Cabot Tower, dan Bristol Harbourside. Jadi tidak perlu jauh-jauh kalau mau upload foto di instagram ataupun ingin menghilangkan kejenuhan akibat tugas kuliah.

Zeni Rofiqoh, mahasiswa University of Bristol

Catatan:
Tulisan ini pertama dipublikasikan di Majalah Merah Putih, Januari 2016.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *