“Menikmati” Propaganda di Sekitar Kita

Tepat pukul 22.00 WIB saya menyelesaikan Wolf Warior. Seperti kebanyakaan film tentara-tentaraan, film ini menawarkan adegan laga dar der dor. Juga: bak buk bak buk.

Yang beda, jika kebanyakan film laga yang saya nikmati selama ini adalah produksi Hollywood, Wolf Warior diproduksi Chunqiu Time Co, China. Film disturadarai dan dibintangi aktor kelahiran Beijing, Wu Jing.

Siapa produsen film ini, bagi saya, penting diperhatikan karena mempengaruhi point of view film terhadap persoalan yang diulasnya. Juga, hal-hal ideologis di baliknya.

Jika pada kebanyakan film Hollywood tokoh Asia, Latin, dan Afrika digunakan sebagai antagonis, film ini sebaliknya. Tokoh bertampang Amerika dan Inggrs justru ditempatkan sebagai antagonis. Adapun tokoh Asia, China persisnya, dimapankan sebagai pribadi paripurna: smart, tangguh, nasionalis, dan punya selera humor.

Itu antara lain direpresentasikan melalui tokoh Tomcat, tentara bayaran. Dia dan kawan-kawannya berusaha membunuh Le Feng untuk memuaskan ambisi bos narkoba yang ingin balas dendam atas kematian adiknya.

Pilihan siapa yang memerankan tokoh apa adalah bagian dari strategi produsen mempengaruhi persepsi penonton terhadap objek tertentu. Itu lumrah pada karya seni, termasuk dalam sastra, seni rupa, atau tari.

Toh, sejak dulu karya seni memang bukan lahir untuk semata hiburan. Seni adalah karya ideologis yang padanya melekat kepentingan-kepentingan ideologis. Atau bahkan, hiburan itu sendiri bersifat ideologis.

Dulu, banyak sekali film Hollywood yang menggunakan aktor Rusia sebagai penjahat. Mereka memerankan tokoh mafia, teroris, maniak kekerasan, atau tokoh apa pun yang terkesan keji.

Setelah Rusia tidak lagi jadi musuh kultural yang “diperhitungan” oleh Amerika, Hollywood menggunakan aktor bertampang Arab (Islam?) sebagai penjahat. Lazimnya, tokoh bertampang timur tengah berperan sebagai teroris. Wataknya: kejam, sedikit tolol, dan doyan seks.

Saya menikmati propaganda-propaganda itu. Saya menikmati cara sutradara membimbing saya harus menyanyangi dan membenci siapa. Sembari itu, saya berusaha mengeja, bagaimana kebencian saya terhadap tokoh dalam film bisa terakumulasi dan suatu saat bisa berubah menjadi kebencian yang seseungguhnya.

Toh, rasa sayang dan kebencian ternyata juga proyek sosial. Keduanya bisa ditanam, dirawat, dan dipanen. Seseroang yang memiliki cukup otoritas kultural bisa mempengaruhi siapa tokoh yang harus kita cintai dan tokoh yang harus kita hujat.

Meskipn manusia tampak bersifat otonom, memiliki kuasa absolut atas dirinya, mustahil ia hidup dalam ruang kosong. Otonomi manusia atas dirinya justru diperoleh dalam ruang sosial yang saling mempengaruhi. Individu satu mengajarkan kepada individu lain tentang konsep baik dan buruk. Individu lainnya lagi memiliki konsep baik dan buruk yang berbeda lagi.

Kecintaan kita pada Tanah Air, misalnya, adalah proyek sosial yang disponsori negara. Negara memulai proyek ini melalui sekolah-sekolah dengan mengajarkan PMP, PPKn, atau Sejarah. Hasilnya – barangkali – mayoritas warga negara percaya bersikap patriotis adalah baik.

Proses semacam itu bisa terjadi di ruang sosial yang sangat sempit. Pada ruang asmara misalnya. Kecintaan seorang pria pada kekasihnya juga bisa dibaca sebagai proyek sosial. Kecintaan itu tumbuh melalui serangkaian proses sosial yang melibatkan individu, persepsi, dan perilaku.

Pada tahap TEPETEPE kecintaan itu disemai.
Pada tahap EKER-EKER, kecintaan itu dipupuk.
Pada tahap ICAPICUP kecintaan itu dipanen.

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.