Mengingat Teknologi Diri, Menyambut Teknologi Dominasi

Setiap tindak manusia memiliki rasionalitas. Meskipun ini pernyataan yang cenderung generalitatif  tapi relatif mudah diterima jika dihubungkan dengan fakta bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Karena itulah, tindakan-tindakan individu maupun kelompok dapat ditelisik rasionalitas yang memungkinkannya.

Fakta itulah yang membuat kita harus melibatkan sejarah pemikiran untuk memahami sejarah tindakan.

Sejarah sebagai sebuah peristiwa hanyalah satu sisi mata uang adapun sejarah pemikiran adalah sisi yang lain. Agar bisa memahami sebuah peristiwa sebagai kepingan utuh maka suatu peristiwa harus dipahami dengan memahami rasionalitas yang memungkinkannya.

Michele Foucault membuka buku Teknologi-teknologi Diri dengan membagi bahwa ada empat jenis teknologi. Pertama, teknologi produksi, yaitu yang berkaitan dengan cara manusia memanipulasi bentuk dan fungsi objek.

Kedua, toknologi tanda. Teknologi ini berkaitan dengan cara manusia memproduksi makna memalui simbol, bahasa, dan semacamnya.

Ketiga, teknologi dominasi. Teknologi ini berkaitan dengan upaya subjek sosial mengukuhkan kekuasaannya sehingga (tampak) legitim.

Keempat, teknologi diri, yaitu teknologi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan manusia bertindak atas dirinya.

Teknologi Diri: Stoa dan Kristen

Memahami asal-usul teknologi diri bukanlah pekerjaan mudah. Ada dua kendala. Pertama, teknologi diri mungkin saja sudah berkembang sejak manusia mengembangkan bentuk awal peradabannya. Tidak banyak bukti yang tersisa dari era tersebut.

Kedua, teknologi diri berkaitan dengan sesuatu yang abstrak yaitu ide dan kesadaran. Karena abstrak, ia hanya mungkin bisa dilacak melalui artefak-artefak yang merepresentasikan keberadaannya, antara lain praktik tindakan dan buku.

Untuk mengatasi tantangan itu, Michele Foucault memfokuskan kajiannya pada pemikiran era Helenistik (Yunani dan Romawi) dan Kristen.

Pada era Yunani dan Romawi ada sejumlah pemikir utama yang pemikirannya tentang perawatan diri dan pengenalan diri dapat ia telusuri. Pemikir itu antara lain Sokrates, Plato, Delfi, Epikorus, Philo dar Alexandria, Alkibiades, Lucius Annaeus Seneca, hingga Aelius Aristides.

Pada jalur pemikiran Kristen, nama-nama yang muncul antara lain Yohanes Krisostomus, Yohanes Kasianus, dan Thomas Aquinas.

Bagi pembaca pemula seperti saya, nama-nama yang amat asing dan sulit dihapal.  Namun Foucault memberi penekahan bahwa pemikiran para filsuf dan negarawan itu telah menjadi landasan bagi praktik teknologi diri pada masa itu.

Alkibiades melakukan praktik menulis deskripsi sebagai alat pengendalian diri. Ia menulis apa yang telah dilakukan dan apa yang dilakukan secara detail agar dirinya dapat mengingat hal-hal penting yang telah dilakukan.

Senece mengembangkan latihan reflektif-administratif dengan membedakan tindakan yang telah dilakukan dan yang seharusnya dilakukan sebagai aktivitas harian. Dalam aktivitas refleksi ini ia tidak menjadikan diri sebagai hakim yang memvonis benar dan salahnya tindakan. Ia hanya memilah tindakan yang telah dilakukan dan yang harus dilakukan agar tindakannya pada masa depan sesuai dengan yang seharusnya dilakukan.

Dari berbagai pemikiran itulah lahir berbagai metode perawatan diri dari retret hingga melakukan kegiatan di alam terbuka. Dari pemikiran itu lahir tradisi melete (meditasi) dan gymnasia yaitu pelatihan fisik.

Sementara itu, dalam tradisi Kristen muncul praktik exomologesis sebagai bagian dari praktik perawatan diri. Secara sederhana saya memahami bahwa exomologesis  adalah pengakuan diri di hadapan publik bahwa dirinya berdosa.

Pengakuan ini jadi ritual penting yang memungkinkan penganut Kristen bisa memperbaiki perilaku dirinya. Dengan mengaku berdosa seorang Kristen bisa diterima kembali dalam komunitas Kristennya.

Menuju Dominasi Negara

Sejak era Stoa dan Kristen awal, tindakan merawat diri masih dipandang sebagai praktik yang berorientasi pada individu. Praktik itu diperlukan bagi diri manusia sebagai individu untuk mengendalikan tindakan dan praktik-praktik kehidupannya.

Namun pada abad 17-an terjadi belokan yang mebuat teknologi diri berubah menjadi teknologi politik yang kemudian berkembang menjadi dominasi negara.

Beolkan itu dimulai ketika pada 1779 terbit buku System einer vollstaendigen Medicianiche Polizei oleh penulis Jerman bernama J.P. Frank.

Buku itu dianggap penting karena untuk pertama kalinya tersurat usulan program sistematis bagi kesehatan publik pada negara modern.

Sejak itulah urusan perawatan diri bukan lagi urusan privat individu, melainkan urusan negara untuk menjaminnya.

Gagasan itu melandasi lahirnya gagasan-gagasan lanjutan yang membuat urusan individu di bidang lain kemudian menjadi urusan negara. Seperti urusan agama, kesehatan mental, moral, dan lainnya.

Ada perkemangan yang menunjukkan bahwa pada awalnya negara mengurusi urusan tertentu seperti pangan, kesehatan, dan militer, namun kemudian berkembang ke urusan apa pun yang melibatkan manusia.

Dari situlah lahir institusi yang dalam bahasa Jerman disebut Polizei, semacam dewan birokrasi yang bertanggung jawab menjamin kehidupan berlangsung dengan lancar.

Namun “kehidupan yang lancar” dalam konteks ini kemudian mengalami pemakaan ulang yang radikal. Itu terjadi ketika yang dimaksud kehidupan di sini adalah “kehidupan negara”, bukan orang per orang sebagai individu.

Di sinilah gagasan bahwa individu hanya penting sejauh ia berkaitan dengan kelancaran kehidupan negara bermula. Oleh karena itu, terjadi pembalikan karena mengasumsikan individu hadir untuk negara, bukan negara untuk individu. Pemikiran itu merupakan pintu bagi berkembangan teknologi-teknologi dominasi.

Rahmat Petuguran
Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.