Mengenal Dewan Sportivitas, Para Penjaga Roh Olahraga

Dua pembalat yang terlibat kecelakaan di Sirkuit Sepang yaitu Valentino Rossi dan Marq Marquez langsung dipanggil pengawas begitu balapan selesai. Keduanya diwawancara oleh Race Direction MotoGP mengenai kejadian yang membuat Marquez terjatuh itu. Hasilnya kontroversial: Rosi dinyatakan bersalah dan mendapat pengurangan poin.

Lepas dari kontroversi sanksi, kerja dewan pengawas patut diacungi jempol. Mereka telah berupaya supaya event olahraga tetap hidup dengan roh sportivitas.

Jauh sebelum tragedi terjadi, tidak banyak orang yang tahu bahwa Moto GP memiliki pengawas balapan. Mereka adalah orang dengan pengetahuan tertentu yang dipilih untuk menjaga agar balapan berjalan dengan sportivitas tinggi. Mereka berhak menjatuhkan justifikasi apakah seorang pembalap telah bersikap sporitif atau sebaliknya: curang.

Eberadaan komite ini sangat penting. Sebab, dalam cabang olahraga apa pun, sportivitas adalah hal vital. Begitu vitalnya, sportivitas kerap disebut sebagai nyawa olahraga. Tanpa sportivitas, olahraga seperti aktivitas tanpa jiwa. Barangkali seperti zombie atau Frankenstein – tokoh rekaan novelis Mary Shelley.

Dalam lembaga olahraga seperti PSSI, dewan etik juga telah lama berdiri. Mereka bertugas layaknya watchdog atau anjing penjaga untuk mengingatkan pengurus supaya menjalankan organisasi sesuai visinya. Mereka berhak menegur atau bahkan menjatuhkan sanksi kepada pengurus. Tugas mereka hampir sama dengan Komisi Yudisial yang bertugas mengawasi kinerja hakim.

Saat menggelar kompetisi, PSSI juga memiliki komisi disiplin (komdis) yang salah satu tugasnya mengawasi pertandingan selama kompetisi bertanding. Mereka mengawasi pemain, pelatih, suporter, bahkan penyelenggara pertandingan.

Salah satu keputusan besar yang pernah dilakukan Komdis PSSI adalah memberikan sanksi kepada PSIS dan PSS Slema karena sepakbola gajah. Sepakbola gajah adalah pengaturan skor pertandingan dengan memasukan bola ke gawang sendiri. Ini dilakukan agar tim kalah. Lazimnya, olahraga gajah dilakukan karena tim ingin menghindari lawan kuat di laga berikutnya.

Komdis PSSI juga pernah menjatuhkan sanksi kepada 154 perangkat pertandingan turnamen Piala Kemerdekaan 2015 yang diselenggarakan Tim Transisi bentukan kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora).  Ini angka yang fantastis. Dari 154 perangkat pertandingan ini, 59 di antaranya adalah wasit, 61 asisten wasit, 30 pengawas pertandingan dan 4 inspektur wasit. Mereka dilarang memimpin pertandingan atau turnamen yang diotorisasi PSSI selama tiga tahun.

Tidak hanya mengawasi saat laga berlangsung, komisi disiplin juga memantau sebelum laga dilaksanakan. Salah satu pekerjaannya adalah memastikan setiap atlet terbebas dari doping. Oleh karena itu, tes doping bagi atlet wajib digelar.

Beberapa waktu lalu, misalnya, Federasi Anti Doping Dunia (WADA) mengeluarkan rekomendasi agar keikutsertaan Rusia di cabang atletik pada Olimpiade Brazil 2016 dicoret. Rekomenadsi ini diturunkan karena sejumlah atlet Rusia terindikasi menggunakan doping.

Skandal ini terkuak setelah WADA mengeluarkan laporan hasil penyelidikan Komisi Independen pada Senin, 9 November lalu. Komite Independen itu telah melakukan penyelidikan sejak Desember 2014 lalu.

Bagaimana dengan di Piala Dunia? Dalam kompetisi olahraga paling populer itu, ada ribuan pengawas pertandingan yang diterjunkan. Mereka mengawasi langsung di lapangan, memeriksa rekaman pertandingan, bahkan mengawasi jejaring sosial untuk mengawasi sportivitas. Itu semata-mata dilakukan agar kompetisi olahraga berjalan sportif. Tugas yang mulia, kan? Mat

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *