Mengenal Bobos, Generasi Baru Orang Kaya

Kawan saya adalah seorang bohemian. Dia senang bepergian, mengunjungi tempat-tempat menarik dengan sepeda motor. Ia tidur di hotel murah, di kampus tempatnya dulu pernah belajar, di sebuah kamar kecil yang ia sewa di pinggiran kota. Dan dia tidak pernah menggunakan hem atau batik, kecuali saat ia menghadiri resepsi pernikahan.

Yang membuat saya masih tidak percaya hingga saat ini adalah, dia memiliki penghasilan yang hampir sama dengan seorang profesor. Penghasilan yang diperolehnya itu berprospek terus meningkat karena produk teknologi informasinya kian mendapat momentum untuk digemari masyarakat. Dengan penghasilan itu, ia juga seorang borjuis.

Teman saya tadi, yang saya ragu ia akan berkenan namanya disebut di sini, adalah sebuah generasi baru orang kaya. Mereka lahir dari rahim meritokrasi, bukan aristokrasi. Dengan etos dan keenceran otaknya, ia membangun mesin pencari uang pada satu sisi, namun pada sisi lain ia menunjukan sikap antimaterial. Sebuah dua sikap yang ganjil jika terjadi pada tahun 50-an, saya kira.

Di tingkat dunia, generasi baru orang kaya ini diwakili orang Mark Zuckerber atau pendahulunya Steve Jobs. Mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat perlawanan terhadap konsep kemapanan model aristokrasi dengan menunjukkan konsep kemapanan baru yang oleh David Brooks disebut borjuis bohemian (bobo).

Generasi bobo kini tampi dominan sebagai pemimpin di lembaga kebudayaan dan swasta, tetapi tampaknya ogah untuk masuk ke institusi pemerintah. Mereka memimpin perusahaan –perusahaan kreatif yang secara luas mempengaruhi hidup masyarakat. Mereka neghasilkan ribuan doal dari menciptakan aplikasi, mengelola blog, atau memproduksi video untuk YouTube.

Dengan orientasi pada kerativitas, orang-orang kaya ini berusaha mengurangi ikatan terhadap institusi sosial yang mengekang. Mereka menghindari berurusan dengan lembaga pemerintah, kecuali dalam keadaan terpaksa untuk mengurus dokumen kependudukan. Bahkan ada kecenderungan, mereka meninggalkan universitas.

Gaya hidup yang ditunjukkan generasi bobo ini sungguh tampak asyik. Mereka bisa menghasilkan banyak uang tanpa harus bersikap konsumtif. Mereka memiliki banyak waktu luang tetapi tetap bisa produktif. Mereka membeli dan membaca buku bukan karena tugas kampus, tetapi karena minat yang besar pada isu tertentu.

Keganjilan gaya hidup para bobo ini agaknya sebuah antitesis bagi gaya hidup kelas menangah baru perkotaan yang muncul pasca-1998. Mereka adalah generasi muda yang bekerja penuh waktu tetapi tetap berkekurangan, berpenghasilan rendah namun hedonis dan suka pamer, juga mengadopsi kedisiplinan militer untuk bekerja di sektor swasta. Mereka adalah generasi tahun 60-an yang kebetulan hidup tahun 2000-an.

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.