Mengapa Perempuan (Selalu) Terpinggirkan?

Di banyak kebudayaan, perempuan menempati kelas sosial kedua. Itu realitas objektif yang tak tertolak. Penomorduaan itu terepresentasi dalam pembatasan, pembagian beban kerja, kekerasan, dan pelekatan sterotipe yang telah melembaga.

Peminggiran perempuan merupakan realitas yang menyejarah. Proses ini berlangsung berbad-abad dan terus diwariskan. Karena didukung pengetahuan yang hegemonik, peminggiran perempuan jadi tampak normal dan niscaya.

Masalah itu tak terselesaikan meski ada gerakan transformatif yang berusaha mendudukan perempuan dalam posisi yang secara politik benar. Gerakan feminisme belum berhasil mewujudkan cita-citanya. Bukan cuma karena mendapat kendala dari luar, feminisme gagal juga karena gerakan ini dirongrong oleh kerapuhan ideologis dari dalam.

Saya tertarik mempersoalkan secara historis awal-usul peminggiran perempuan. Dari berbagai bacaan yang acak, ada tiga teori peminggiran perempuan.

Teori pertama, Engel (dalam Fakih, 1994) menyebutkan peminggiran perempuan terjadi sejak masa petarnian. Pertanian memungkinkan manusia menghasilkan makanan melebihi yang dibutuhkannya. Keberlimpahan ini melahirkan konsep kepemilikan pribadi (privat property) yang tidak pernah dikenal manusia pada era meramu dan berburu.

Konsep kepemilikan menegaskan bahwa satu benda dimiliki secara sah oleh individu tertentu. Laki-laki menjadi kelompok yang diuntungkan oleh sistem ini karena mereka memiliki peran dominan dalam proses produksi.

Barang-barang melimpah yang diproduksi pada masa pertanian dianggap hak milik laki-laki. Perempuan menjadi bergantung kepada laki-laki. Bahkan kelanjutannya, perempuan dianggap sebagai bagian dari hak milik (property) laki-laki sebagaimana barang hasil produksi.

Teori kedua saya dapat dari buku Sapiens karya Yuval Noah Harari. Teori ini dikembangkan berdasarkan teori evolusi.

Peminggiran perempuan bermula ketika laki-laki dan perempuan melakukan kontak seksual. Hubungan itu membuat tubuh perempuan mengalami perubahan signifikan karena hamil. Adapun laki-laki tidak mengalami perubahan sama sekali.

Ketika hamil, perempuan cenderung kehilangan kelincahan. Kondisi ini membuat peran sosialnya berkurang, misalnya tidak lagi ikut berburu atau meramu. Perempuan harus lebih banyak diam dia gua atau desa.

Kondisi itulah yang membuat perempuan bergantung kepada laki-laki. Mereka menyandarkan kehidupan kepada laki-laki yang secara fisik masih lincah dan produktif menghasilkan makanan.

Ketidakproduktifan pada masa hamil dan menyusui membuat daya tawar perempuan berkurang. Mereka terpaksa membiasakan diri dengan aturan yang ditetapkan laki-laki.

Teori ketiga saya sarikan dari buku Dr Kaukab Sidqie berjudul Menggugat Tuhan yang Maskulin. Dalam buku itu, Sidqie menunjukkan bahwa tafsir terhadap kitab suci didominasi oleh pengetahuan maskulin.

Tafsir yang maskulin cenderung menguntungkan laki-laki, hampir di setiap bidang kehidupan. Laki-laki berusaha melegitimasi superioritasnya menggunakan kitab suci. Dengan begitu, maskulinitas bisa disampaikan seolah-solah sebgai sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Menurut Kauka, salah satu modus yang dilakukan ulama maskulin adalah dengan memopulerkan hadis tertentu namun menyembunyikan hadis lain.

Mengenai kepemimpinan perempuan, misalnya, Kaukab menganalisis bahwa para “ulama” berusaha menyembunyikan kepempinan Aisyah dalam Perang Jamal. Para “ulama” tersebut berargumentasi bahwa saat terjadi Perang Jamal, situasinya adalah darurat. Kepempimpian perempuan saat itu dapat terjadi akibat pengecualian.

Kaukab juga menduga, “ulama” yang male oriented menghilangkan jejak perempuan Islam dalam jihad. Nama Ummu Amarah, perempuan yang melindungi nabi setelah pasukan Islam kocar-kacir dalam Perang Uhud, tidak mendapat tempat yang berarti dalam literasi Islam. Padahal, Umm Amarah telah memiliki jasa yang amat besar, yakni melindungi Rasulullah dari sabetan pedang tentara kafir Quraisy. Ia sendiri terluka di 12 bagian tubuh, salah satu lukanya cukup dalam, hingga baru sembuh setahun kemudian.

Tafsir maskulin selaras dengan tesis Foucault yang dengan skeptisme tinggi mencurigai pengtahuan sebagai instrumen kekuasaan. Pengetahuan agama tampaknya tidak luput dari kecenderungan itu.

Tentu saja banyak teori lain. Jika kawan-kawan tahu, silakan berbagi lewat kolom komentar. (Gambar: africanrubiz.org)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.