Mengapa Manusia Perlu Teman dan Pertemanan?

Ada banyak anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Teman dan pertemanan adalah salah satunya. Teman adalah orang lain dengan ikatan batin yang kuat. Pertemanan adalah segala sesuatu yang memungkinkan ikatan batin itu terjadi. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain, seperti air dan sungai.

Hubungan pertemanan bisa terjalin karena berbagai hal. Tetapi intensitas komunikasi, biasanya, adalah faktor yang paling memungkinkannya terjadi. Komunikasi yang intens membuat hati satu orang dengan orang lain bertaut dan saling mengisi. Akhirnya dua individu dengan dua tubuh yang berbeda terhubung dalam ikatan yang sama.

Ada berbagai penjelasan ilmiah yang pernah dikemukakan orang untuk menjelaskan fenomena teman. Dari perspektif psikologis, teman dan pertemanan muncul karena manusia dalam kondisi senantiasa sepi. Ada ruang kosong dalam diri manusia yang membuatnya harus menemukan orang lain. Jika ruang kosong itu dibiarkan tak terisi, akan menyebabkan kedirian manusia tidak paripurna lagi.

Kita bisa belajar dari Jim Preston, tokoh fiksi dalam film The Passenger. Dalam film karya Mortem Tyldum itu, Jim dikisahkan terbangun sendirian dalam perjalanan menuju galaksi lain. Penumpang lain masih tidur hingga 90 tahun ke depan. Selama dua tahun Jim hidup sendirian dalam pesawat ruang angkasa. Meskipun segala kebutuhan fisiknya terpenuhi, ia merasa begitu menderita karena tak ada satu pun teman.

Dari perspektif sosiologis, pertemanan bisa dipahami sebagai gejala yang menunjukkan adanya kebutuhan bersosialisasi. Manusia ingin terhubung dengan manusia lain. Dalam keterhubungan itu ada transaksi yang memungkinkan satu orang bertukar manfaat satu dengan lain. Pertukaran manfaat  membuat seseorang dapat melengkapi kediriannya menjadi pribadi yang lebih paripurna.

Meski begitu, bersosialisasi tak hanya untuk tujuan praktis demikian. Dalam sosialisasi itu sendiri ada manfaat. Dengan bersosialisasi, seseorang menumbuhkan kemanusiaan dalam dirinya. Dengan berkomunikasi, seseorang dapat memahami peran sosialnya. Seseorang dapat mereka-reka, posisi dirinya di tengah entitas lain. Sebab, kebermakaan diri seseorang ditentukan oleh relasinya dengan orang lain.

Orang berteman satu dengan lain karena adanya persamaan. Tetapi di lain waktu, orang bisa berteman dengan demikian dekat justru karena perbedaan. Dalam perbedaan, satu orang dengan lainnya saling melengkapi. Ketika satu dengan lain terlibat perdebatan, satu dengan lain itu terlibat transaksi saling melengkapi. Orang-orang itu mengevaluasi keberadaannya, mengevaluasi pandangannya, dengan mengadaptasi pandangan orang lain.

Dengan situasi demikian, perkawanan adalah sebuah keniscayaan. Orang memerlukan pertemanan agar hidupnya semakin lengkap, bahkan paripurna. Persoalannya, kemampuan berteman tidak selalu diasahlatihkan. Bahkan, dalam masyarakat industri, nalar kompetisi yang justru lebih lazim diajarkan. Orang dididik untuk saling bersaing, saling mengalahkan, bukan mengikat perkawanan satu sama lain.

Nalar kompetisi demikian tergambar dalam tradisi orang meranking. Tiap-tiap orang berusaha menjadi yang terdepan dengan mengalahkan orang lain. Agar menjadi yang terdepan, dia harus menjadi lebih hebat atau justru membuat orang lain menjadi lebih lemah darinya. Ini bisa terjadi dalam masyarakat, lingkungan kerja, atau bahkan di sekolah. Pertemanan kerap diabaikan karena kita memberi perhatian terlalu banyak bagi nalar berkompetisi.

Inilah yang, jika memungkinkan, perlu dievaluasi. Kompetisi memang dapat membuat seseorang merasa superior. Tetapi perkawanan juga tak kalah penting. Perkawanan membuat satu orang dengan orang lain terjalin dalam ikatan yang sulit didefinisikan. Lebih dari itu, pertemanan membuat hidup seseorang lebih memiliki makna.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *