Mengajari Anak Agar Gemar Berderma

Bill Gates dan Mark Zuckerberg memiliki kesamaan. Pertama, mereka sama-sama kaya berkat teknologi informasi. Kedua, mereka sama-sama memiliki mental filantropi. Mereka menyumbangkan jutaan dolar uang untuk kepentingan masyarakat dunia. Bagaimana memahami tindakan ini dari sudut pandang psikologi?

Tindakan dua orang pengusaha itu, pada satu sisi, adalah sebuah keganjilan. Mereka rela mendermakan uang dalam jumlah sangat besar untuk orang yang tidak mereka kenal. Padahal, mereka telah bersusah payah mengumpulkannya.

Di sisi lain, tindakan dua pengusaha itu dinilai wajar, bahkan normal. Sebagai miliuner, segela kebutuhan ekonomi mereka sudah tercukupi. Mereka memiliki uang jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Wajar jika mereka “membuang” mereka melalui lembaga amal.

Sejumlah orang bahkan memberikan catatan kritis – cenderung nyinyir sebenarnya – bahwa tindakan mereka adalah strategi menghindari pajak. Senada, ada pula yang menilai kegiatan mereka strategi public relation, supaya citra persoanlnya baik. Kedua argumentasi sama-sama dapat diterima akal sehat karena Amerika memang negara yang menerapkan pajak besar bagi pengusaha. Di sisi lain, mereka adalah pemilik perusahaan besar, yang memiliki “kewajiban” menjaga citra baik diri dan perusahaannya.

Meskipun dengan publikasi tidak seheboh Gates dan Zuckerberg, di Indonesia juga ada begitu banyak filantropi. Mereka menyumbangkan sebagian uang mereka untuk kepentingan masyarakat yang dicintai dan dihormatinya. Ada yang menderma dalam jumlah miliaran, ada pula yang menderma dalam jumlah jutaan.

Kebutuhan

Tindakan filantropisme dapat ditelusuri dari dua sudut pandang. Pertama, menggunakan analisis Maslow tentang hierarki kebutuhan. Kedua, menggunakan teori ideologi. Kedua pendekatan ini bisa pula dikolaborasikan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya.

Maslow mengklasifikasi lima jenis kebutuhan. Mulai dari yang terendah hingga tertinggi, enam jenis ebutuhan tersebut adalah biologis, rasa aman, cinta dan kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri. Belakangan ada pula yang menambahkan: spiritualitas.

Para pengusaha kaya adalah kelompok manusia yang telah selesai dengan urusan-urusan mendasar seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan. Dengan kondisi keamaan dan finansial saat ini, mereka tidak perlu khawatir akan bangkrut dan jatuh miskin. Prestasi mereka juga diakui oleh masyarakat luas. Mereka dipuji berbagai media sebagai jenius, sebagai pengusaha sukses, bahkan kerap dijadikan sampul majalah.

Oleh karena itu, tindakan altruis lebih patut ditempatkan pada puncak priamida kebutuhan. Mereka berderma karena panggilan spiritual. Dalam konsep sederhana, Krintzman (2205) mengartikan spirituality “includes a sense of connection to something bigger than ourselves, and it typically involves a search for meaning in life.”

Selain berdasarkan teori kebutuhan, tindakan filantropi juga dapat dipahami dari persepektif ideologis. Ideologi adalah seperangkat keyakinan yang diyakini kebenaranya oleh seseroang sehingga menjadi dasar pertimbangan pengambilan keputusan. Ideologi adalah argumentasi dasar yang menjadi bibit justifikasi benar dan salah dalam seseroang.

Ideologi yang anut seseroang menumbuhkan imajinasi tentang kondisi ideal ketika seseroang menghadapi sesuatu. Gambaran ideal itulah yang berusaha diraih dengan serangkaian tindakan. tindakan tersebut bahkan tetap harus dilakukan meskipun harus berkonsekuensi pada pengorbanan tertentu, baik pengorbanan uang, waktu, bahkan nyawa.

Seseroang yang mendermakan uangnya, besar kemungkinan, adalah pribadi yang memiliki dorongan berbagi karena ideologi yang dianutnya. Ideologi semacam ini tidak selalu berkaitan dengan ideologi besar seperti sosialisme, tetapi sebuah ideologi yang muncul dari interaksi individu dengan lingkungannya.

Pelajaran Berderma

Bagi para pendidik, persoalan mengapa seseorang perlu berderma relatih telah selesai, terutama karena berderma telah disepakati sebagai tindakan mulai. Baik agama maupun hukum adat di Indonesia, lazimnya, menganjurkan manusia untuk berbagi dengan orang. Namun, bagaimana mengajarkan anak-anak dan siswa supaya melakukan tindakan ini?

Majalah ekonomi Forbes memberikan enam cara bagi orang tua untuk mengajarkan filantropi kepada anak-anak. Pertama, buatlah kesepakatan dengan suami/istri tentang strategi apa yang akan digunakan. Kedua, mulailah berbicara tentang kemuliaan memberi kepada anak-anak. Ketiga, melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan.

Keempat, libatkan keluarga dalam sebuah acara amal. Kelima, ajarkan lterasi finansial. Dan keenam, buatlah akun khusus untuk beramal. (Sumber gambar: rsistewardship.com)

Endah Santi Prastatiwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.