Mengajari Anak Agar Cinta Lingkungan

Terjadi berbagai bencana pada pertengahan Juli 2016 lalu. Bencana terjadi hampir serempak di Purworejo, Banjarnegara, Kebumen,  dan Kendal. Jika diakumulasi, jumlah korban jiwa mencapai puluhan orang. Adapun lainnya mengalami kerugian materil yang cukup besar.

Meskipun longsor dan banjir disebut “bencana alam”, penyebabnya sebenarnya tidak murni dari alam. Jika ditelusuri lebih jauh, bencana itu disebabkan oleh ulah manusia. Banyak tindakan eksplorasi dan eksploitasi yang menyebabkan keseimbangan alam terganggu. Kerusakan-kerusakan kecil berdampak besar karena dilakukan terus-menerus.

Agar bencana semacam itu tidak terulang lagi, masyarakat perlu mengubah cara pandangnya terhadap alam. Alam tidak lagi dipandang sebagai sumber kenikmatan, melainkan sebagai rumah. Selama ini, kebanyakan orang memandang bumi sebagai penyedia segala jenis kebutuhan manusia. Dengan pandangan seperti itu, manusia merasa berhak mendapatkan apa pun yang dibutuhkannya.

Pandangan ini berakibat buruk bagi kelestarian. Banyak gunung dirobohkan untuk ditambang logamnya, menyisakan lobang menganga tak terukur lebarnya.  Banyak hutan dibakar untuk dijadikan lahan pertanian, membuat suplai oksigen jauh berkurang. Adapun laut terus diselami, diambil ikan dan sumber lain di dalamnya.

Selain harus menghentikan tindakan eksploitatif itu, manusia juga memiliki tanggung jawab mewariskan pemahaman ekologis kepada generasi berikutnya. Tindakan ini diperlukan supaya generasi mendatang bisa bertindak lebih arif terhadap lingkungan. Diharapkan, kelak mereka menjadi generasi pemelihara. Ilmu pengetahuan yang mereka miliki bukan digunakan untuk mengeksploitasi bumi, melainkan menjaganya agar tetap lestari.

Bumi adalah Rumah

Untuk mendidik anak-anak menjadi pecinta lingkungan, pandangan yang bisa ditawarkan adalah menjadikan bumi sebagai rumah. Analogi ini akan sangat berdampak besar. Sebagai rumah, bumi adalah tempat yang harus dijaga agar tetap nyaman. Kenyamanan rumah memengaruhi kebahagiaan penghuninya.

Selama ini, banyak orang mengira bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh sesuatu yang jauh darinya. Tetapi kenyataannya, setiap penghuni menyumbangkan kerusakan sendiri-sendiri. Tindakan kecil yang dilakukan oleh seseorang berdampak besar karena dilakukan oleh orang lain sekaligus. Dengan membentuk pandangan bahwa bumi adalah rumah, kita akan mendorong anak berpartisipasi menjaganya. Kita yang memiliki, kita yang menjaga.

Untuk memperkuat pandangan itu, anak-anak juga perlu dibekali keterampilan hidup yang mendasar. Di beberapa negara, misalnya, anak-anak sudah diajarkan untuk memilih produk makanan ramah lingkungan. Mereka akan menghindari membeli jajan yang dibungkus plastik. Pasalnya, plastik akan menghasilkan sampah yang sangat sulit diuraikan. Memilih produk penghasil sampah sama saja dengan menghasilkan sampah itu sendiri.

Sejuta Kebaikan Pohon

Hal penting lain yang perlu disampaikan kepada anak-anak adalah pentingnya pohon. Makhluk hidup ini bukan hanya menghasilkan bahan makanan bagi hewan dan manusia. Lebih dari itu, pohon adalah penjaga ekologis yang sangat penting. Ada jutaan manfaat yang bisa diperoleh manusia dari pohon.

Pertama, pohon adalah paru-paru alam yang menyerap karbondioksida dan mengubahnya menjadi oksigen. Semakin banyak pohon, semakin banyak oksigen di sekitar kita. Itu berarti, udara semakin sejuk. Dalam jangka panjang, stok oksigen di sekitar kita mempengaruhi kesehatan pernapasan. Adapun kesehatan pernapasan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kesehatan manusia secara umum.

Secara ekologis, pohon juga berfungsi menjaga siklus hidrologi supaya tetap seimbang. Menurut penelitian, hutan mampu membuat lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah 60-80 persen. Dengan kemampuan ini, keberadaan pohon dapat meningkatkan cadangan air tanah. Dengan cara ini, kita bisa memiliki cadangan air yang lebih banyak sehingga tidak perlu khawatir mengalami kekeringan.

Pohon membuat air hujan terserap ke dalam tanah. Dengan begitu, air hujan tidak bergerak di permukaan tanah dan menyebabkan erosi. Tanah akan tetap terjaga kesuburannya sehingga bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman.

Mengajarkan 3R

Ada kecenderungan, negara-negara berkembang menghasilkan lebih banyak sampah daripada negara-negara maju. Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan. Pertama, di negara maju masyarakat telah memiliki kesadaran ekologis yang baik. Kedua, infrastruktur pengolahan sampah sudah memadai. Ketiga, adanya regulasi yang ketat dari negara untuk mengendalikan jumlah sampah.

Masyarakat terdidik cenderung berpikir panjang. Mereka akan merasa bersalah jika menjadi salah satu penyumbang kerusakan alam. Nah, untuk itu, mereka berusaha membekali diri dengan keterampulan reuse, reduse, dan recycle.

Reuse artinya menggunakan kembali barang-barang lama yang memiliki nilai guna, baik sesuai fungsi lama maupun fungsi baru. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Adapun recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Yuk, kita mulai dari sendiri. Kita mulai sekarang juga.

Sumber gambar: yotyogyakarta.wordpress.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.