Mencoba Simpatik kepada Pemuda Rusak Motor karena Ditilang

Sangat mudah bersikap antipatik terhadap pemuda itu. Di video itu, pemuda itu tampak kasar dan bodoh. Ia merusak sepeda motor dengan brutal. Konon, karena marah karena ditilang polisi.
 
Komentar negatif terhadap pemuda itu berhamburan. Banyak cacian dilontarkan. Tak aneh, karena begitulah mentalitas pengguna internet. Impulsif. Sering sok suci.
 
Tapi, bisakah kita mengajukan sikap lain terhadapnya? Sikap yang mungkin saja tak akurat secara faktual tapi lebih adil dalam hubungan sebagai sesama manusia?
 
Misalnya, kita anggap bahwa marah adalah energi destruktif yang wajar. Sebaik-baik kemarahan tentu yang bisa diredam. Tapi dalam kondisi tertentu akumulasi kemarahan tak bisa lagi ditahan. Agar tak membusuk, harus diekspresikan.
 
Dengan begitu, kemarahannya itu sehat. Normal.
 
Kedua, untuk ukuran etiket umum, kemarahannya memang berlebihan. Lebay!
 
Tapi tidak setiap hal harus diukur dengan parameter umum kan? Karena manusia unik, mugkin perlu ada ruang pengecualian. Ia salah dalam etika umum, tapi mungkin saja benar menurut etika tertentu.
 
Kedua, publik menilai ia marah karena ia ditilang. Seolah-olah ada hubungan linear “karena ia ditilang maka ia marah-marah”.
 
Bagi orang yang mengalami, dua peristiwa tidak pernah terjadi selinear itu. Ada banyak sebab lain yang membuat kemarahannya menjadi-jadi.
 
Apakah pemuda ini sedang bermasalah dengan keluarganya? Apakah ia punya trauma karena pernah diperlakukan tidak adil oleh penegak hukum? Apakah ia baru kehilangan pekerjaan yang amat dicintainya? Atau kesemua itu?
 
Pengetahuan kite terhadap sesuatu adalah pengetahuan yang selalu simplikatif. Kita membuat simpulan hanya berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Fakta-fakta lain kita abaikan, bukan karena fakta itu tidak berperan, tapi karena kita tidak mengetahuinya.
 
Ketiga, kita kehilangan simpati terhadap pemuda itu karena kita menganggapnya keliru.
 
Ya, berkendara tanpa helm, tanpa SIM dan STNK adalah keliru. Tapi dari mana sumber penilaian itu? Penilaian itu lahir karena kita mendudukkan pemuda dan polisi dalam hubungan kewargaan yang formal: pemuda adalah warga dan polisi adalah aparatus negara.
 
Bisakah pengetahuan tentang hubungan kewargaan itu kita tinggalkan dulu? Sebagai alternatif, mari gunakan pengetahuan lain bahwa jalan-jalan dengan orang tercinta adalah hak yang lebih fundamental bagi manusia melebihi kewajiban formalnya mematuhi aturan negara?
 
Tentu sulit bersimpati kepada pemuda itu. Kamus pengetahuan kita telanjur mengartikan ekspresinya sebagai tindakan bodoh dan kasar. Bodoh dan kasar adalah perilaku buruk.
 
Untu bersimpati kepada yang buruk, kita perlu menonaktifkan dulu sistem pengetahuan yang menghasilkan penilaian itu. Tentu sulit. Sekali lagi, sulit.
 
Tulisan ini adalah eksperimen. Eksperimen gagal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.