Menata Kawasan Jantung Kota

Kawasan Simpang Lima Semarang

Oleh HR Haryanto

TAHUN 2007 Pemkot Semarang mencanangkan ”Semarang Pesona Asia” (SPA) namun tidak diketahui hasilnya barangkali karena tidak ada koordinasi yang baik dan evaluasi secara berkesinambungan terkait program tersebut.

Bahkan kemudian ada sentilan dari Gubernur Bibit Waluyo yang menyatakan bahwa Kota Semarang kotor dan semrawut.
Ada kesan program SPA, antara lain yang diwujudkan dengan membuat city walk di kawasan Kota Lama dan memasang videotron di Simpanglima itu, kurang didukung konsep yang matang dan tidak terintegrasi sehingga ”nasib” SPA berikut city walk-nya menguap begitu saja.

Penulis teringat kembali setelah membaca tulisannya (SM, 11/ 07/07) berjudul ”Menata Taman Simpanglima”. Terkait dengan dengan program Pemkot,  fungsi Simpanglima seyogianya perlu direvitalisasi agar bisa menjadi taman, yang tidak hanya sekadar dipandang namun juga berfungsi dan dapat dimanfaatkan oleh publik.

Untuk mewujudkannya, tentu butuh penataan yang matang dan terkoordinasi, antara lain pohon peneduh yang ada perlu dilengkapi dengan tanaman hias dan lampu taman, sitting group, dan air mancur yang artistik. Untuk menjaga supaya tetap terpelihara dan bersih, perlu dipasang papan peringatan serta petugas Satpol PP dan Dinas Kebersihan mengawasi secara rutin. Kalau perlu desain perencanaannya dilombakan sehingga melibatkan masyarakat.

Mengingat kepadatan di sekitar kawasan itu, saat ini Pemkot perlu memikirkan untuk  mengalihkan kegiatan resmi seperti upacara atau pergelaran musik yang menyerap banyak penonton ke Stadion Diponegoro, Mugas, atau Lapangan Kalisari sehingga keramaian tidak selalu terpusat di satu tempat. Dengan demikian Simpanglima bisa terjaga fungsinya sebagai taman jantung kota.

Bahkan, untuk menciptakan suasana yang baru dan mempercepat pengembangan wilayah perluasan kota, tidak ada salahnya mengalihkan pergelaran musik ke Gunungpati atau Mijen, yang kini sedang dikembangkan.
Terkait dengan penataan integralistik Simpanglima, jika terwujud dengan baik masyarakat bisa menikmati. Apalagi dilibatkan dalam perencanaannya sehingga merasa ikut memiliki keindahan dan kenyamanan yang dibutuhkan sambil bercengkerama bersama keluarga atau teman, berolahraga pagi, atau duduk di bangku taman seraya menikmati keindahan air mancur. Untuk mendukung kegiatan itu, perlu membatasi motor dan mobil yang lewat di kawasan itu pada Minggu pagi atau hari libur.

Paket Wisata

Sejatinya Simpanglima lebih memungkinkan dijadikan city walk, mengingat ”fasilitas” dan ”properti” lainnya sudah ada, misalnya hotel, mal, masjid, pertokoan, serta tempat kuliner, termasuk PKL-nya, yang sudah ditata Pemkot. Warga bisa makan atau berjalan-jalan santai dengan nyaman dan aman tanpa khawatir tertabrak kendaraan. Dengan demikian kawasan Simpanglima menjadi fasilitas publik yang dibutuhkan semua lapisan masyarakat.

Dengan penataan secara terpadu, nantinya Simpanglima tak hanya menjadi ikon tapi bisa menjadi kebanggaan. Hal itu ada relevansinya dengan anggapan bahwa wajah kota merupakan cermin baik buruknya pengelolaan pemerintahan dalam aspek penataan ruang. Masyarakat pasti ingin ibu kota Jawa Tengah bisa mewujudkan jati dirinya secara utuh.
Sebetulnya banyak potensi wisata hiburan atau wisata tempat-tempat bersejarah di Semarang yang bisa digali. Sebut saja sepanjang Banjirkanal Barat yang kini sudah dibenahi, bisa dijadikan tempat rekreasi air dengan perahu bermotor, untuk event olahraga air, atau disediakan fasilitas permainan yang memadai untuk anak-anak dan remaja.
Bila ditata secara maksimal, tentu akan menambah daya tarik pengunjung dari luar kota, termasuk wisman terutama dari Belanda, yang memiliki ikatan emosional dengan Semarang.

Di beberapa tempat tepian tanggul yang diperkeras dengan beton, bisa dibuat selter PKL seperti di Taman Menteri Supeno. Secara insidental juga bisa digelar pertunjukan/ pementasan sendratari atau tari-tarian daerah Jawa Tengah. Ini semua bisa dikemas dalam satu paket kunjungan wisata. (10)

— HR Haryanto, warga Semarang

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/07/139092/Menata-Kawasan-Jantung-Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.