Memulai Bisnis Fashion dengan Modal Passion

Pakaian adalah salah satu kebutuhan primer. Untuk memenuhi kebutuhan pakaian, orang rela membelanjakan sebagian penghasilan rutinnya. Uang yang beredar untuk konsumsi pakaian juga sangat besar. Karena itulah, bisnis pakaian (fashion) jadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Untuk menghitung besaranya uang yang beredar dalam bisnis, coba deh kita hitung dari lingkungan terdekat. Kita hitung, berapa kali kamu beli baju dalam sebulan? Beberapa orang baru beli pakaian kalau pakaian lama sudah rusak. Tapi sebagian orang, beli pakaian bisa sepekan sekali karena memenuhi selera fashionnya.

Jika diakumulasikan, berapa potong yang diperlukan dalam sebuah keluarga? Kalau satu RT atau RW? Kalau satu kelurahan dan bahkan kota bagaimana? Bukankah semua orang membutuhkan pakaian?

Dengan pertimbangan itulah bisnis fashion tetap bisa diharapkan sebagai bisnis masa depan. Tapi, sebagimana bisnis bidang lain, perlu strategi menekuni bidang fashion ini. Strategi sangat diperlukan karena kompetisi pada bidang ini juga cukup ketat. Meskipun ceruk (eluang) peluang pasarnya sangat besar, pebisnis di bidang ini juga banyak. Ada yang kelas kecil cseperti toko, hingga ada kelas kakap seperti retail.

Berawal dari Passion

Banyak pengusaha bidang fashion sukses karena punya ketertarikan (passion) pada bidang ini. Lantaran punya passion, mereka menikmati bisnis seperti menikmati permainan. Untung dan rugi bisa dinomorduakan, yang penting bahagia. Justru karena bahagia, mereka biasanya melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa terasa lelah.

Ada beberapa orang yang sukses di bidang ini dan bisa jadi teladan. Di Semarang, misalnya, ada Dea Valencia yang sukses dengan brand Batik Kultur Dea. Awalnya ia memanfaatkan batik lama milik ibunya untuk diolah untuk dipakai sendiri. Rancangan Dea ternyata disukai banyak orang. Mulai saat itu banyak orang yang mulai pesan batik kepada Dea.

“Saya benar-benar belajar dari awal sejak saya mulai jatuh cinta dengan batik. Jadi semua motif batik yang saya jual designnya adalah hasil karya saya sendiri. Tentu banyak yang saya adaptasi dari model batik lawasan. Awal tahun 1900-an, banyak orang Belanda yang belajar membatik.Mereka adaptasi beberapa dari dongeng Belanda. Nah, ini yang saya modernisasi,” kata Dea.

Dea mengaku memulai Batik Kultur dari nol. Awalnya ia hanya bisa memproduksi 20 potong baju. Namun seiring berkembangnya waktu, Dea bisa memperbesar kapasitas produksi hingga 800 ribu. Harga jual batik rancangannya juga lumayan tinggi, dari 250 ribu sampai di atas sejuta. Tidak heran kalau omset usahanya bisa mencapai 300 juta rupiah.

Menemukan Pembeda

Sebagaimana orang memilih makanan, orang memilih pakaian dengan pertimbangan estetis. Orang memilih pakaian supaya tampak menawan atau santun. Ada juga orang yang memilih  supaya tampak trendi. Kecenderungan itu musti dibaca oleh para pengusaha pemula. Dengan begitu, para pengusaha bisa melahirkan produk-produk yang disukai.

Di sinilah pentingnya memunculkan unsur pembeda. Supaya sukses berbisnis fashion, produk yang kita tawarkan ke konsumen harus lain dari produk yang ada. Pembeda menciptakan nilai jual. Dari situlah orang akan mulai melirik produk kita. Bahkan kalau konsumen sudah suka, harga yang mahal pun tidak jadi masalah. Mereka siap mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan barang kesukaannya.

Nah, pertanyaannya: bagaimana memunculkan produk yang beda? Kata orang bijak, tidak ada hal yang benar-benar baru. Sesuatu yang baru hari ini ternyata hanya unsur-unsur lama yang dikombinasikan. Selain itu, sesuatu yang baru di Indonesia ternyata sesutu yang sudah lama di luar negeri. Bahkan sesuatu yang sangat jadul, bisa menjadi baru kalau dihadirkan lagi.

Tiga strategi itu bisa digunakan menghadirkan produk baru. Pertama, cobalah mengombinasikan unsur-unsur yang sekarang sedang digemari. Berbagai unsur yang itu akan menghasilan sesuatu yang unik, terlihat baru. Kedua, bacalah perkembangan fashion di negara-negara lain. Jika di sana muncul produk baru, bisa langsung diadaptasi sebelum orang lain mengadaptasinya.

Ketiga, buka arsip model-model pakaian jaman dulu. Model-model jadul biasanya memiliki sisi unik tersendiri. Kamu bisa hadirkan model lama itu dengan “semangat” baru. Hubungkan desain yang retro atau jadul itu dengan semangat zaman masyarakat era sekarang. Insya Allah banyak orang yang tertarik. Foto: Altrusa Club of Appleton

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *