Memilih Basa-Basi yang Tak Benar-benar Basi

Ada begitu banyak basa-basi saat Idul Fitri lalu. Orang berjumpa satu sama lain dan saling menyapa. Sapaan digunakan sebagai pembuka pembicaraan. Beberapa berhasil membuat suasana cair dan menggembirakan. Adapun beberapa lainnya justru terdengar menyebalkan.

Thomas dan Wearing (2003) menyebut basa-basi sebagai social lubricant. Barangkali keduanya mengandaikan bahwa pembicaraan seperti rotasi roda as dalam pusat laher. Supaya as berputar kencang, diperlukan pelumas.

Saya sepakat dengan metafora itu, meski tak seluruhnya. Agar komunikasi berlangsung lancar, memang diperlukan pelumas. Ini penting dipikirkan – sebab – basa-basi juga turut menentukan kesuksesan komunikasi. Jika dalam drama, basa-basi mungkin sama pentingnya dengan teknik muncul.

Seorang guru, usianya mungkin baru awal empat puluh tahun, pernah membahas persoalan itu dengan saya. Dia khawatir apersepsinya ketika membuka pelajaran di kelas membosankan. Jika itu benar-benar terjadi, ia berarti membuang momentum emas untuk menarik perhatian siswa.

Penasaran, saya memintanya merekam aktivtas awal pembelajarannya. Tiga hari berturut-turut.

Yang kami temukan ketika memutar rekaman itu adalah hal yang sama. Ia memberi salam. Ia menanyakan kabar siswa. Usai itu, ia melanjutkan menanyakan siswa yang tidak datang. Rangkaian ungkapan itu lebih menyerupai template. Ia seperti kasir minimarket yang terikat standard operasional procedur (SOP) ketika memulai pelajaran.

Kepadanya, saya menyarankan lima hal. Kelima hal ini barangkali tak benar-benar baru. Tapi saya kira, saran ini membantu kita memilih basa-basi yang tak benar-benar basi.

Pertama, kata paling ajaib bagi seseroang adalah namanya. Ya, setidaknya begitu menurut Maxwell. Buktinya, seorang anak berusia 5 tahun mungkin telah menguasai sekitar 1.000 kata. Namun Cuma satu kata yang bisa membuatnya segera menoleh jika disebutkan: namanya.

Nama membuat perbincangan terasa personal dan mungkin intim. Itu pun bertingkat. penyebutan nama resmi akan terasa berjarak. Tapi penyebutan nama kecil (jawa: parab) membuat sapaan jadi dekat. Saking akrabnya, anak-anak (ini agak kurang ajar) suka memangil teman dengan nama bapaknya.

Menyebut nama pun ada strateginya. Ini perlu disesuaikan dengan karakter orang bersangkutan. Ada orang-orang yang merasa nyaman dipanggil dengan sapaan gelar akademik. Misalnya, saya menyapa setiap profesor dengan Prof (diikuti nama). Ada yang suka dipanggil dengan singkatan. Dosen FISIP Undip Triyono Lukmantoro misalnya, tampak akrab disapa Mas TL. Adapun Mantan Rektor Unnes Prof Arie Trie Soegito ternyata tampak lebih nyaman disapa Pak AT.

Kedua, ada perbedaan kegemaran antara laki-laki dan perempuan. Ini bukan simpulan yang saya ambil semata-mata berdasarkan uraian jenaka John Gray dalam Men Are from Mars, Women Are from Venus. Perbedaan laki-laki dan perempuan – nyatanya – ada dan melekat pada hal-hal biologis, kultural, dan psikologis.

Perempuan yang memiliki bayi konon selalu suka diajak bicara tentang baby-nya. Saking sukanya, saat ada orang menanyakan berapa umurnya, dia akan jawab lengkap dengan ukuran popok, durasi tidurnya, merk bedak yang digunakan, sampai proses persalinannya.

Terus terang, saya ragu basa-basi semacam itu akan cukup membantu digunakan kepada pria, meski ia juga sedang kasmaran dengan anak pertamanya yang berusaia setahun.

Kepada laki-laki, saya anjurkan berbasa-basi tentang hobinya. Akik lah. Liverpool lah. Sepeda motor lah. Sepeda tua lah.

Laki-laki, konon, adalah makhluk paling suka berorientasi pada kekuasaan. hobi digunakan olehnya (kami?) untuk menunjukkan kelas dan kekuasaannya.

Ketiga, lakukan deduksi dan mintalah konfirmasi. Deduksi, sebagaimana dilakukan Serlcok Holmes, adalah teknik pengambilan simpulan dari fakta-fakta terpisah menjadi fakta yang lebih utuh. Kemampuan semacam ini dimiliki setiap orang, meski kecanggihannya bermacam-macam.

Ketika Anda bertemu teman lama, Anda mungkin akan lihat dia menggunakan kaos eksklusif yang hanya diproduksi terbatas oleh distro di Surabaya. Dari bentuk lipatan dan warnanya, umur kaos itu tak lebih dari dua minggu. Dari fakta-fakta kecil itu, anda bisa lakukan konfirmasi “Baru traveling dari Surabaya lagi?”

Konfirmasi membuat Anda tampak lebih rendah hati. Adapun simpulan– sebagaimana dilakukan Holmes – membuatnya tampak congkak dan sok tahu. Konfirmasi juga membuka pembicaraan lebih luas pada topic lain.

Keempat, hindari pertanyaan klise “kelas berapa? kapan lulus? kerja di mana?” pada awal pembicaraan. Percayalah, sebelum Anda menanyakan hal itu, sudah ada beberapa orang yang menanyakannya pada mitra bicara Anda.

Selain membuat Anda tampak tak kreatif – kata teman saya Lilis K Ismail – pertanyaan itu berpotensi menyinggung perasaan. “Kelas berapa?” adalah pertanyaan sensitif bagi siswa yang tinggal kelas. “Kapan lulus?” bisa bikin mual mahasiswa level 14. Dan “kerja di mana?” akan membuat blogger, fotografer freelance, dan penulis lepas kesulitan menjawab dengan singkat.

Kelima, belajar menjadi pendengar yang baik. Kalimat tanya yang baik berkisar antara 4 sampai 12 kata. Jika pertanyaan itu sudah tuntas, sebaiknya kita berhenti bicara dan memfokuskan pandangan kea rah wajah mitra bicara. Biarkan dia menjawab dengan durasi yang cukup.

Ada beberapa orang yang punya kecenderungan dominan saat ngobrol. Orang-orang seperti ini menganggap pengalaman dan gagasannya adalah sesuatu yang amat berharga, unik, dan original, meski ribuan orang lain juga punya pengalaman dan gagasan yang sama.

Ada pula yang orang yang selalu menarik topic pembicaraan pada kasus yang dialaminya. Misalnya “O, gitu? Aku juga bla bla blab la bla…”

Kawan bicara yang baik, saya kira, seperti teman bermain pingpong. Dia tahu kapan harus melesakkan bola dan kapan menunggu untuk menerima bola dari kawan bicara. Dengan begitu permainan akan mengasyikan, bukan?

Rahmat Petuguran, blogger yang lama nggak naik kelas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.