Memelihara Insting Saling Menyelamatkan

TERJEBAK di sebuah kapal terapung pengeboran minyak yang meledak tentu pengalaman yang mengerikan, bahkan bagi profesional sekalipun. Ledakan di mana-mana, api berkobar menyambar apa saja. Sementara kilang itu terletak beberapa mil dari pantai, perlu 35 menit bagi regu penyelamat untuk datang.

Orang-orang yang terjebak pada situasi mengerikan pasti mengalami tekanan batin yang dahsyat. Kematian terbayang di depan mata. Untuk menghindarinya, dia harus mengerahkan semua tenaga tersisa untuk menyelamatkan diri.

Tetapi bukan pilihan itu yang diambil Mike Williams dan Jimmy Harrell – setidaknya yang digambarkan dalam Deepwater Horizon. Dengan tubuh yang terluka akibat ledakan, keduanya justru memilih berusaha menyelamatkan yang lain. Nyawanya dipertaruhkan.

Kehendak untuk menyelamatkan orang lain, saya kira, adalah kehendak yang hanya dimiliki pribadi dengan karakter otentik. Kehendak itu muncul dari sesuatu yang ada di dalam, yaitu hati nurani. Kehendak semacam itu tidak sekadar muncul karena kontrak-kontrak sosial, melainkan berasal dari sesuatu yang amat esensial dalam manusia: hati.

Film Deepwater Horizon unggul karena berhasil mengeksplorasi sisi welas asih manusia dalam situasi kacau yang mengerikan. Film itu menunjukkan bahwa insting manusia tidak sekadar menyelamatkan dirinya, tetapi menyelamatkan objek lain yang dicintainya. Insting itu mengatasi berbagai hal, termasuki ketakutan dan kengerian yang nyata.

Di era seperti sekarang, ada kecenderungan manusia gemar berkompetisi satu sama lain. Kecenderungan itu memunculkan identitas imajiner sebagai aku dan kamu, kami dan mereka. Cara identifikasi demikian memunculkan hasrat saling mengalahkan. Padang tingkat tertentu, hasrat itu berkembang menjadi hasrat untuk saling mengenyahkan.

Inilah yang barangkali dilakukan oleh para teroris. Tindakan teror yang mereka lakukan lazimnya berangkat dari persepsi bahwa dirinya adalah pihak yang benar dan orang lain sebagai pihak yang salah. Kecenderungan itu menajam menjadi kebencian yang sulit dikendalikan. Dari situ, muncul kehendak untuk menghabisi.

Padahal, kalau mau meluangkan waktu untuk merenung, dalam diri setiap manusia sejatinya ada bekal alami untuk saling mengasihi. Manusia satu sama lain punya kecenderungan tertaut secara alamiah dalam tautan kasih sayang. Tautan ini membuat seseorang adalah bagian tak terpisahkan dari orang lain. Dari situ, dorongan untuk saling melindungi muncul.

Orang-orang seperti Mike dan Jimmy dalam film ini adalah orang yang berhasil menjaga insting melindungi dalam ruang terdalam hatinya. Mereka tidak membiarkan insting itu rusak, koyak, oleh kebencian dan intervensi hitungan untung rugi. Oleh karena itu, dalam kondisi mengerikan seperti kebakaran Deepwater Horizon, insting itu langsung membinging mereka bertindak.

Terus terang saja, film ini berhasil memaksa saya untuk mengevaluasi diri apakah insting melindungi orang di sekitar masih terpelihara ata tidak. Saya khawatir, kehidupan masyarakat urban seperti yang saya jalani membuat insting itu tergerogoti. Pasalnya, kehidupan masyarakat urban melatih saya untuk berpikir terlalu cermat soal untung rugi.

Dari situ, saya menengok kembali, apakah tindakan-tindakan yang saya lakukan selama ini menunjukkan adanya insting melindungi atau tidak. Jangan-jangan, saya masuk dalam kategori gerombolan para pengecut yang ingin sselamat sendiri. Tipe orang seperti ini akan pergi meraih sekoci dan pergi secepat mungkin ketika kapal terbakar, abai bahwa teman-temannya masih harus berjibaku dengan api yang menjilat-jilat.

Semoga tidak.

Rahmat Petuguran
Foto: standard.co.uk

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.