Back Door Java, Membentuk Negara Melalui Rumah Tangga

Sejak setahun lalu saya pindah tempat tinggal dari Manyaran ke Pakintelan, Gunungpati, dari kawasan urban ke kawasan yang lebih rural. Dibandingkan tempat tinggal lama, tempat tinggal saya yang baru memberikan lebih banyak interaksi antarwarga.

Setiap Kamis malam saya bersama kepala rumah tangga lain mengikuti tahlil bersama. Tiap selapanan (35 hari sekali) ada rembuk warga yang diselenggarakan bergilir di rumah warga. Jika ada warga yang punya hajat menikahkan atau mengkhitani anaknya, saya juga diundang untuk kenduren.

Sebagaimana di kampung lain, warga di Kampung Krajan, Pakintelan, tempat saya tinggal juga berencana mengadakan malam tirakatan untuk memperingati hari kemerdekaan. Saya yang warga baru ditunjuk menjadi bendahara panitia, menerima urunan 15 ribuan dari tiap rumah tangga.  Saya juga diajak untuk berkunjung dari rumah ke rumah untuk menarik donasi dari warga, selain berkeliling mengambil jimpitan.

Selain forum-forum itu, ada satu forum yang tampaknya juga sangat penting bagi warga kampung saya ini, terutama bagi kaum perempuan, yaitu pertemuan bulanan PKK.  Organisasi PKK masih sangat diminati. Ibu-ibu biasanya menghadiri acara ini dengan pakaian seragam. Tapi saya sendiri tidak pernah tahu, apa saja aktivitas mereka selama pertemuan. Yang jelas, di sudut kampung kami, tugu PKK yang berisi 10 program pokok PKK masih berdiri di perempatan kampung. Semakin gagah karena baru-baru ini dicat oleh sejumlah mahasiswa KKN.

Ketika terlibat atau sekadar menyaksikan aneka pola interaksi antarwarga yang dilembagakan itu, saya mengira itu merupakan representasi kehidupan guyub dan gotong royong khas masyarakat desa. Forum-forum itu, saya kira, adalah warisan dari leluhur orang Jawa yang menyukai kehidupan kolektif. Tetapi menurut etnolog dari Univeristy of Ledthbrige, Kanada ,Jan Newberry, aneka pertemuan itu bukan sesuatu yang semata-mata berjalan alami sebagai inisiatif warga. Di balik itu, ada kekuatan negara yang menghendakinya.

Newberry meresum pengamatannya terhadap warga kempung dalam buku setebal 283 halaman berjudu Back Door Java.

Ia, misalnya, mencatat bahwa PKK mulai dirintis pada 1957 dari sebuah seminar mengenai ekonomi rumah tangga yang diadakan oleh Bagian Pendidikan dan Lembaga Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, di Bogor, Jawa Barat. Dari situ,disusunlah daftar topik pendidikan yang dianggap cocok untuk masyarakat yang sedang berkembang antara 1960-1962 oleh sebuah sebuah komite yang beranggotakan Kemneterian Pendidikan, Kementerian Pertanian, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Agama, dan Kementerian dala m Negeri (hlm. 7).

Gubernur Jawa Tengah memasukkan PKK sebagai bagian dari rencana pembangunan daerah pada pertengahan 1960-an. Pertiwi adalah oragnisasi yang pertama kali dibentuk bagi istri-istri pejabat yang kemudian diberi amanah menyebarkan program PKK. Di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah didirikan pusat-pusat latihan PKK. Pada 1970-an, pusat-pusat latihan PKK itu dibiayai oleh anggaran daerah (hlm. 7).

Melalui organisasi PKK, negara masuk dalam kehidupan rumah tangga rakyatnya hingga pada aspek-aspek yang sangat domestik. Ibu rumah tangga dijadikan sebagai kader PKK dan diberi seperangkat pengetahuan untuk diterapkan dalam tata laksana rumah tangga.

Dari pintu itulah negara memiliki infrastruktur untuk mengintervensi kehidupan rakyat sampai pada urusan-urusan yang sangat kecil. Misalnya, tentang menu makanan yang sebaiknya dipilih untuk anggota keluarga, jenis tanaman yang harus ditanam di pekarang, sampai pada bagaimana mendidik anak. Branson dan Miller (dalam Newberry, 2006) menyebut, PKK yang menurut sejumlah kalangan lahir dari semangat pergerakan perempuan pada masa perjuangan kemerdekaan telah berubah menjadi sebuah organisasi masyarakat di bawah pemerintah nasional.

Ketika menguraikan dalam pengantar, Newberry tampak sangat antusias menjelaskan peran pintu belakang (back door) dalam interaksi masyarakat kampung di Jawa. Pintu belakang adalah ruang interaksi antarpenghuni rumah, terutama untuk urusan-urusan domestik. Melalui pintu belakang, perempuan satu dengan perempuan lain biasanya saling mengirim makanan. Aktivitas itu sangat tidak sopan dilakukan jika harus dilakukan melalui pintu utama, terutama jika sedang ada tamu. Dari situlah, simpulan bahwa pintu belakang orang Jawa adalah jantung kehidupan rumah tangga tampaknya bisa diterima.

Ketika mendefinisikan gotong royong ala Indonesia, Soekarno juga menyebut pintu belakang sebagai salah satu kunci. “Apa yang dimaksud gotong royong? Gotong royong adalah ketika kamu menerima tamu dan tidak memiliki gula dan kopi, tetanggamu akan mengirimkan kamu gula dan kopi lewat pintu belakang. (Silakan baca Soekarno Penyambung Lidah Rakyat untuk pernyataan selengkapnya.)

Perhatian Newberry tentang pintu belakang orang Jawa tampak pada bab-bab digunakan sebagai metafora. Pintu belakang ia jadikan sebagai perumpaan bagi masuknya program negara dalam kehidupan rumah tangga rakyatnya, salah satunya melaui program PKK ini.

Buku Back Door Java disusun oleh Newberry atas penelitiannya selama beberapa tahun di perkampungan Jogja dan Solo. Ia mengamati kampung sebagai satuan sosial dan mengamati interaksi antarpenduduknya sebagai gejala etnografis. Kampung sebagai satuan sosial ternyata tidak mudah dirumuskan, karena tidak bisa didefinisikan semata-mata secara geografis, tidak pula secara adminsitratif, melainkan melibatkan perasaan. Oleh karena itu, ia menyebut kampung sebagai satuan perasaan.

Sebagai dokumen etnografis, buku ini kuat dalam pencatatan terhadap hal-hal kecil. Untuk mendefinisikan rumah, rumah tangga, dan kediaman misalnya ia menggunakan persepsi orang per orang, tidak menggunakan definisi sosiologis yang terkadang menggeneralisasi. Untuk mendefinisikan kampung, misalnya, ia muter-muter dari pemikiran satu orang ke pemikiran orang lain untuk mendapatkan definisi yang lebih utuh.

Dalam buku ini, Newberry memberi gambaran yang detail bagaimana cara orang kampung hidup, tetapi tidak terlalu berambisi meneorikan bagaimana kehidupan orang kampung. Membuat teori besar tampaknya bukan minat etnolog sepertinya. Ini salah satu hal yang membuat buku ini menarik.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.