Membandingkan Lutung Kasarung dan Beauty and The Beast, Menikmati Nostalgia Masa Kecil

Beberapa saat yang lalu, dunia dihebohkan dengan munculnya film live action dari dongeng Aladin yang membuat banyak orang berlomba-lomba berkunjung ke bioskop dan menyanyikan lagu A Hold New World. Apa kamu salah seorang diantaranya?

Kebanyakan orang menganggap dongeng hanyalah cerita fiktif yang hanya cocok dibaca oleh anak-anak. Tapi nyatanya banyak kok orang yang sampai usia dewasa masih menggandrungi cerita dongeng. Apalagi masih banyak dongeng-dongeng terkenal yang diadaptasi ke dalam cerpen, novel, bahkan sudah banyak yang diangkat ke layar lebar seperti cerita Aladin tadi.

Well, dongeng memang punya daya tarik tersendiri yang membuat para penggemarnya susah move on meskipun ceritanya gitu-gitu aja dari zaman nenek-nenek kita masih kecil.

Nyatanya keberadaan dongeng ini sebenarnya cukup penting lho sebagai salah satu hasil kebudayaan dari masyarakat. Makanya, kita sebagai bagian dari warga Indonesia harusnya bangga karena kita punya banyak sekali dongeng yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang keberadaannya sangat erat dengan kebudayaan masing-masing masyarakat pemilik dongeng tersebut.

Pernah bayangin gak sih kalau seandainya dongeng-dongeng kita bisa terkenal layaknya cerita Cinderella, Beauty and The Beast, Peter Pan dan dongeng-dongeng lain favorit kamu. Pasti keren. Bisa juga tuh dijadikan sarana memperkenalkan budaya Indonesia yang mengedukasi sekaligus menghibur.

Pastinya kalian udah gak asing dong dengan semua dongeng-dongeng itu. Atau jangan-jangan sudah ada yang lupa? Harusnya sih gak ya. Dongeng-dongeng itu kan sudah dengan setia menemani dan mewarnai masa kecil kita. Siapa sih yang gak tau cerita Lutung Kasarung dan Beauty and The Beast. Yuk kita bandingkan biar dapat pencerahan kalau dongeng itu bukan hanya untuk anak-anak dan bisa lebih tahu dan paham tentang makna di balik dongeng-dongeng tersebut.

Secara keseluruhan cerita Lutung Kasarung dan Beauty and The Beast ini bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih yang bersatu tanpa memandang status sosial ataupun paras pasangannya.

Baik Lutung Kasarung maupun Beauty and The Beast keduanya berlatar di sebuah kerajaan. Dongeng memang tergolong sebagai karya sastra lama, jadi gak heran kalau ceritanya masih berkutat tentang keluarga kerajaan dan penghuni istana lainnya atau biasa disebut istana sentris.

Dalam dongeng Lutung Kasarung diceritakan bahwa tokoh Purbasari  merupakan seorang putri dari kerajaan Pasundan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Sedangkan dalam cerita Beauty and The Beast tokoh Beast merupakan seorang pangeran tampan yang dikutuk karena kesombongannya oleh seorang penyihir yang menyamar menjadi pengemis.

Istana sentris memang merupakan sifat dasar dari kebanyakan prosa lama di belahan dunia manapun. Hal ini karena para pujangga yang bertugas membuat karya sastra biasanya juga tinggal di lingkungan istana. Selain itu, pada zaman dahulu ada anggapan bahwa raja dan keluarganya adalah manusia mulia utusan Tuhan yang menjadikan raja dan keluarganya seakan menjadi pusat peradaban bagi masyarakat di zaman itu. Kepercayaan yang ekstrim juga, menyamakan raja sebagai utusan Tuhan.

Persamaan dongeng Lutung Kasarung dan Beauty and The Beast juga ada pada tokoh utama laki-lakinya. Baik cerita Lutung Kasarung maupun Bauty and The Beast, Lutung dan Beast sama-sama memiliki wujud buruk rupa. Beast merupakan perwujudan dari pangeran tampan yang dikutuk. Sementara Sang Lutung digambarkan sebagai sosok kera baik hati perwujudan dari Guruminda, seorang pangeran dari kayangan yang sedang menjalani ujian yang diberikan ibunya. Keduanya memiliki seorang wanita cantik dan baik hati yang menerima mereka apa adanya dalam sosok Purbasari dan Belle.

Selain itu, persamaan kedua dongeng tersebut juga tampak pada akhir ceritanya.  Seperti cerita dongeng pada umumnya, kedua dongeng ini memiliki akhir yang bahagia dengan bersatunya pasangan masing-masing.

Diceritakan Beast yang pada awal cerita merupakan makhluk buruk rupa yang dikutuk akhirnya berubah kembali menjadi pangeran yang tampan setelah Belle menyatakan cintanya.    Sedangkan Sang Lutung diceritakan berubah ke wujud aslinya sebagai laki-laki yang tampan dan gagah setelah kakak Purbasari yang jahat, Purbararang menantangnya untuk beradu ketampanan kekasih masing-masing sebagai syarat Purbasari untuk kembali ke kerajaan dan mendapatkan tahta.

Menariknya, sebagai salah satu karya sastra lama, Lutung Kasarung telah menyampaikan salah satu pesan persamaan gender di dalam nya. Purbasari, sebagai seorang putri hendak diangkat menjadi seorang ratu oleh Prabu Tapa Agung. Hal tersebut menunjukkan adanya keterbukaan bagi perempuan untuk memimpin sebuah kerajaan. Padahal di masa modern seperti ini diskriminasi kepada perempuan masih sering didengar dan  dirasakan oleh perempuan hampir di setiap masyarakat dari berbagai belahan dunia. Hebat kan?

Hal ini sangat berbeda dengan gambaran sosok Belle dalam cerita Beauty and The Beast. Sejak awal, Belle diceritakan hanya merupakan sosok gadis biasa yang amat menyayangi ayahnya. Belle dapat tinggal di istana dengan Beast karena ia menukarkan dirinya dengan sang ayah agar ayahnya dapat terbebas dari kurungan Beast. Dalam cerita pun, Belle digambarkan sebagai sosok wanita yang lemah yang pada awal cerita hanya bisa menuruti kemauan Beast dan menerima  kekerasan yang dilakukan Beast padanya.

Pada cerita Lutung Kasarung, saat Purbasari hendak kembali ke kerajaannya, Purbararang mengajukan syarat agar ia bisa kembali tinggal dan menduduki tahtanya kembali yakni beradu panjang rambut dan ketampanan pasangan masing-masing. Hal tersebut menunjukkan Purbararang ingin menunjukkan kemampuannya bukan sebagai seorang ratu yang memerintah rakyat tetapi ia mengandalkan keunggulannya sebagai seorang wanita dengan perannya di wilayah domestik.

Bagi seorang wanita, rambut merupakan mahkota yang menunjukkan standar kecantikan di zaman dahulu. Purbararang ingin menunjukkan bahwa ia tidak kalah cantik dari adiknya Purbasari yang sejak awal terkenal dengan kecantikan dan kebaikan hatinya. Bukan hanya itu, ia menunjukkan keunggulannya yang lain dengan memamerkan tunangannya, Indrajaya yang juga terkenal akan ketampanannya. Bagi kebanyakan wanita, merupakan kebanggaan tersendiri apabila ia memiliki pasangan yang berparas tampan. Hal itu juga menunjukkan keberhasilannya sebagai seorang wanita.

Purbararang juga menantang Purbasari untuk beradu kelezatan masakan masing-masing yang menunjukkan peran wanita pada peran domestiknya untuk bisa melayani suaminya dengan baik.     Ketiganya menunjukkan bahwa Purbararang ingin membuktikan bahwa ia unggul dalam perannya sebagai seorang permaisuri yang melayani raja bukan seorang ratu yang mengurus rakyatnya. Sebaliknya Purbasari, tidak memiliki kemampuan-kemampuan tersebut sebaik Purbararang. Namun, ia dapat mengalahkan Purbararang dalam tiga perlombaan tersebut dengan bantuan Lutung Kasarung.

Berbeda dengan apa yang terjadi pada sosok Belle. Belle diceritakan menjadi seorang permaisuri mendampingi Beast yang telah kembali tampan karena kutukannya telah dipatahkan. Belle sama sekali tidak menunjukkan peran superiornya sebagai perempuan seperti yang ada pada diri Purbasari.

Tau gak, cerita Beauty and the Beast versi Disney diambil dari buku dongeng berjudul La Belle et la Bête karangan Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve yang dirilis pada 1740.  Buku La Belle et la Bete sendiri terinspirasi oleh kisah nyata Petrus Gonsalvus dan tunangannya, Catherine! Petrus mengidap hypertrichosis, yang membuat sekujur badan dan wajahnya dipenuhi rambut tebal dan gelap.  Karena kondisinya tersebut, Petrus dibawa dari kampung halamannya di Kepulauan Canary ke Prancis untuk menjadi tontonan keluarga kerajaan.

Catherine, seorang pembantu di lingkungan kerajaan, tidak tahu tentang kondisi Petrus sampai akhirnya keduanya bertemu pada hari pernikahan. Namun, sekalipun Catherine mengetahuinya, itu tidak mengganggunya. Pasangan Petrus dan Catherine kemudian dikaruniai empat putra dan tiga putri. Di antara anak-anak tersebut, dua putra dan ketiga putri mewarisi kondisi Petrus. Keluarga itu pun menjadi terkenal di seantero Eropa.

Huft, berat juga kan pembahasannya? Nah, sekarang jelas kan kalau dongeng juga punya makna yang mendalam di balik ceritanya yang klasik dan romantis. Masih berpikir kalau dongeng itu hanya cerita untuk anak-anak?

Ratu Syakrila, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar: dongengceritarakyat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.