Membaca Tato di Tatoo untuk Semua

Tato punya sejarah panjang. Inilah salah satu seni visual tertua di dunia. Pada rezim orde baru tatoo diaosiasikan dengan premanisme. Namun kini tidak lagi. Kini tatoo telah berkembang menjadi produk fashion. Bahkan, bisa jadi, kini tato digunakan untuk membangun identitas seseorang. Ya, identitas sebagai pribadi yang terbuka, bebas, atau dinamis.

Inilah yang mendorong Karamba Art menggelar event bertajuk “Tato untuk Semua”, 11-12 April. Acara yang digelar di Copa Kopi, Sekaran menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya pegiat seni yang bergelut dengan tatoo, tapi juga publik luas.

“Acara ini bukan untuk mendoktrin masyarakat supaya bertato, melainkan untuk mempertemukan orang-orang yang mencintai seni tattoo, artist tattoo, bersama dengan orang awam ataupun bahkan yang kontra dengannya dalam sebuah acara lintas disiplin seni dan komunal kreatif,” kata Galih Pratama, salah satu pegiat Karamba Art.

Pecinta Tato

Sejumlah tatto artist, antara lain Freddy Mock (Mock Tattoo), Danang Total Spike, Tarom (Barokah Tattoo), Bob Sick (Jogja), dan Digie Sigit (Jogja) hadir dalam acara itu. Mereka mengajak audience untuk berdialog tentang tattoo dari berbagai perspektif dengan santai.

Acara ini bukan untuk mendoktrin masyarakat supaya bertato, melainkan untuk mempertemukan orang-orang yang mencintai seni tattoo, artist tattoo, bersama dengan orang awam ataupun bahkan yang kontra dengannya dalam sebuah acara lintas disiplin seni dan komunal kreatif.

Galih Pratama

Acara dilanjutkan dengan tattoo performance dari Fauzi Zakaria (Saloon Tattoo Syndicate), Bandung (Tanam Tinta Tattoo Parlour), dan Tarom (Barokah Tattoo). Tarom mempertontonkon hand tapping, salah satu tattoo tradisional asli Indonesia.

Selain itu ada pula aksi body painting dari Achnis Rasyid, Arief Hadinata, Yuyut Baskoro, Heru Budi Kuncoro. Musisi-musisi indie Semarang tampil apik di sela-sela aksi ‘mempercantik’ tubuh itu. Mereka adalah tendotruction, sistem bususk dari dalam ft. terror incognita, rentjang rentjong, slavers ungaran, lhaiyo, dan buttercookies.

Lapak Tato

tatoDeretan lapak-lapak urban dari berbagai komunal kreatif juga turut meramaikan acara ini, ada Karamba Art Merch, appleater, hysteria, tugitu unite (Solo), juga lard (Magelang). Mereka menjajakan merchandise limited edition, zine, juga pernak-pernik second hand. Ada pula launching zine Mixmagz dari Karamba Art Movement, yang saat ini sudah sampai volume 5.

Acara akan berlanjut pada tanggal 12 april 2012, dimana band-band indie Semarang seperti drunk by pizza, naik pitam, KBRI, dan oichi damn akan tampil menghibur para audience. Selain itu ada screening film pendek dan launching program ‘kolektiv werk’.

Kolektiv werk adalah program baru Karamba Art Movement yang mengajak para pesertanya untuk berkarya bersama di ruang publik. Karya-karya itu nanti bakal dipublikasikan di web, buku kompilasi, juga pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.