Memahami Industri Media

Malam ini saya dan beberapa kawan mengikuti kelas menulis reportase dan opini yang diselenggarakan oleh Rumah Buku Simpul Semarang yang diampu oleh kawan, rekan dan saudara Rahmat Petuguran. Pada kesempatan kali ini kami membedah tentang industri media mulai dari materi informasi sebagai kebutuhan, industri media, fungsi pers, usaha media dan kooperasi media.

Informasi merupakan hak dasar yang melekat pada setiap individu, setiap manusia membutuhkan informasi untuk bertahan hidup dan memperoleh gambaran tentang dunia serta sebagai modal pertimbangan untuk menetapkan pilihan yang sifatnya ideologis, politis dan kultural. Informasi juga sebagai pertimbangan untuk menentukan suatu perbuatan dan perkatan ditinjau dari baik/buruk atau benar/salah sehingga informasi sangat penting bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan individu lain dan lingkungan.

Informasi juga bisa menjadi alat ekonomis, pada masa lampau terutama pada masa perang. Informasi diperjual belikan layaknya barang/jasa. Biasanya agen intelejen dipekerjakan untuk mendapatkan informasi mengenai musuh dan para agen tersebut menjual informasi kepada pihak yang berkepentingan. Mereka mendapatkan imbalan berupa uang sebagai ganti atas informasi yang telah diperolehnya. Kemudian Informasi berkembang menjadi sebuah industri media berupa media cetak yang bertujuan untuk memperoleh nilai ekonomis. Industri media cetak ini dimulai pada abad 18 di eropa.

Pada saat itu media cetak atau koran diperjual belikan berdasarkan berita pada hari itu, para pelaku industri media cetak berlomba-lomba untuk membuat headline yang sensasional/bombastis untuk memperoleh pembeli yang dijajakan di jalanan kota. Namun metode ini tidak bertahan lama karena ketidakpastian berlangsungnya media cetak tersebut karena tidak stabil kondisi isu/berita yang ada dilapangan sehingga perlu inovasi yang baru.

Kemudian koran beralih dari jalanan sesuai headline pada hari itu menjadi berlangganan. Pembeli membayar biaya tertentu untuk memperoleh koran yang didapat dalam jangka waktu tertentu, hal ini tentu saja tidak bergantung pada berita hari itu dan media cetak bisa mendapat keuntungan ekonomis yang pasti sehingga keberlangsungan industri media cetak tetap terjaga masa depanya. Efek yang ditimbulkan dengan industri media cetak melalui sistem berlangganan adalah koran tidak menjual headline tetapi menjual brand atau vendor sehingga pada masa ini persaingan antar brand/vendor mulai terasa dan mereka mencari pembeli tetap untuk menjadi pelanggan mereka.

Zaman berkembang dan industri media juga semakin maju. Informasi tetap mempunyai nilai ekonomis karena mempunyai pengaruh untuk membentuk cara pandang ataupun opini masyarakat sehingga banyak pihak yang berkepentingan masuk dalam industri media guna memperoleh manfaat dari efek yang ditimbulkan misalkan dalam kepentingan politik maupun ekonomi.

Industri media mengandalkan finansial yang besar, sehingga dana operasional juga melonjak akibatnya media mau tak mau harus mencari sumber pendanaan salah satunya adalah dari iklan. Kita tahu bahwa menurut UU No 40 pasal 3 fungsi pers adalah untuk informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial namun disana juga menjelaskan bahwa pers juga bisa sebagai lembaga ekonomi akibatnya pers sebagai informasi kadang menjadi nomor dua setelah ekonomis, hal ini tentu menjadi masalah karena banyak media yang hanya menjadikan pers sebagai alat untuk memperoleh profit semata.

Hal ini juga bisa menjadi paradoks, dilain sisi pers harus memuat informasi yang bermanfaat namun kadang iklan yang ditampilkan adalah bersifat membodohi. Apalagi dalam pendanaan iklan, seorang fund rising akan selalu dekat dengan para pengusaha/korporasi sehingga aspek independen media menjadi berkurang karena akan terjadi konflik kepentingan antara media dan pengusaha/korporasi.

Akibatnya media menjadi alat monopoli pemodal besar yang dengan kekuatan finansialnya menjadikan media sebagai penunjang bisnis yang lain dalam korporasinya ataupun afiliasi kepentingan politik. Nah tentu saja hal ini tidak sehat karena media tidak lagi berpihak kepada kebenaran dan keadilan namun lebih berpihak pada kekuatan finansial dan hanya mencari profit semata tanpa memperdulikan kualitas informasi yang diberikan.

Untuk melawan dominasi media mainstream yang dimomopoli oleh segelintir pemodal maka muncul inovasi kooperasi media yang pada prinsipnya secara sukarela bergotong royong menjalankan media dengan melibatkan banyak orang dan mereka berhak menentukan kemana arah gerak media yang dikelolanya. Hal ini tentu saja menjadi sangat baik karena membuka kesempatan pembaca untuk mengisi konten dan menentukan kemana media itu akan dibawa.

Di era teknologi informasi yang semakin canggih dengan memanfaatkan sosial media kini informasi/berita bisa kita dapatkan secara gratis di media. Banyak situs berita digital yang bisa kita akses. Industri media online sekarang tidak hanya memperoleh dana dari iklan namun juga menjadikan pengakses untuk diperjual belikan. Situs yang populer dan mempunyai jumlah viewers banyak akan mempunyai harga iklan yang sangat mahal, sadar atau tidak kita menjadi alat jual beli iklan di media tersebut. Sehingga produk bisnislah yang berkepentingan untuk meningkatkan konsumen, tidak lagi media yang mencari sumber dana dari iklan.

Nah sebagai kaum berpendidikan hendaknya kita harus memilih dan memilah informasi yang valid dan terverifikasi jangan sampai kita tergiring opininya oleh kepentingan tertentu. Jangan hanya membaca judulnya tanpa isi lantas kita anggap sebagai sebuah kebenaran, kita harus memverifikasinya terlebih dahulu sebelum kita membagikan atau menyebarkan kepada orang lain. Banyak informasi yang berisi ujaran kebencian kepada individu dan kelompok tertentu harus kita hindari. Jangan sampai kita saling fitnah dan bermusuhan hanya karena salah paham karena kita harus menjaga tali persaudaraan antar sesama.

Hanendya Disha Randy Raharja

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *