Melihat Perpustakaan Widya Mitra

PUKUL 10.00, Wadiyono (87) telah mengunjungi Gedung Pusat Budaya Indonesia-Belanda Widya Mitra (Yayasan Widya Mitra), di Jl Singosari II No 12 Semarang. Begitu turun dari Hyundai Atoz-nya, dia langsung masuk ke dalam ruang perpustakaan. Dihampirinya sebuah rak buku di salah satu sudut ruangan itu, tempat berbagai macam majalah berbahasa asing tertata rapi, di antaranya Vrij NetherladElsevierMoesson, dan HP de Tijd.

Wadiyono mengambil Elsevier, majalah politik berbahasa Belanda terbaru yang langsung didatangkan dari negeri asalnya itu. Beberapa saat kemudian, Purnawirawan TNI yang pernah berdinas di Kodam VII Diponegoro tersebut telah serius mencermati artikel-artikel yang terdapat di dalamnya.

Bagi Wadiyono, Elsevier adalah bacaan favorit yang selama 30 tahun telah diakrabinya. Selama rentang waktu tersebut, dia membacanya di perpustakaan yang didanai Kedutaan Besar Belanda di Indonesia itu. Sekali dalam seminggu- biasanya pada hari Rabu, Wadiyono senantiasa meluangkan waktu untuk mengunjunginya. “Dari tahun 1970-an, saya mengunjungi perpustakaan ini, sejak gedungnya masih di Jalan Duwet, sampai sekarang di sini ini,” tuturnya.

Yayasan Widya Mitra didirikan pada tahun 1974, oleh Konsulat Belanda di Indonesia. Menurut Koordinator Budaya Yayasan Widya Mitra Satrio Seno Prakoso, saat itu Pemerintah Belanda ingin memberikan layanan perpustakaan kepada orang-orang Belanda yang tinggal di Semarang. Masyarakat menyebut perpustakaan itu sebagai Perpustakaan Belanda.

Berbahasa Belanda

Bertempat di sebuah gedung di Jl Pemuda, awalnya, hanya orang-orang Belanda totok, dan mereka yang mengerti Bahasa Belanda saja yang mengunjungi perpustakaan itu, sebab lebih dari 80 persen koleksi bukunya berbahasa tersebut. Beberapa kali berpindah tempat, yakni ke Jalan Duwet, Stadion Utara, Imam Bardjo, akhirnya menempati lokasi sekarang ini.

“Waktu masih di Imam Bardjo, jumlah pengunjungnya cukup banyak, rata-rata 40 sampai 50 orang perminggu. Mereka sebagian besar adalah mahasiswa dan peneliti. Di sini (Jl Singosari- Red) jumlah pengunjung agak menyusut,” kata Seno.

Tahun 1995, setelah pengelolaan Perpustakan Belanda diambil alih oleh Yayasan Budaya Indonesia-Belanda Semarang, lingkup kegiatannya diperluas dengan kegiatan budaya dan kursus Bahasa Belanda.

Saat ini, koleksi buku perpustakaan Yayasan Widya Mitra mencapai 6.000 eksemplar, sebagian besar adalah buku sastra dan sejarah. Beberapa buku klasik, seperti “Geschiedenis van Nederlands Indie,” (Sejarah Hindia Belanda) juga terdapat di sana. Itu belum termasuk majalah dan koran-koran berbahasa Belanda. Meskipun pernah menyandang nama perpustakaan Belanda, kini, sebagian besar koleksi buku yang terdapat di dalamnya justru berbahasa Inggris.

Konsekuensi dari perluasan lingkup kegiatan itu, mereka menggelar berbagai event, di antaranya World Press Photo (1999 dan 2002), serta pentas musik Crazy Rocker, kelompok musik indorock dari Belanda. Pada masa mendatang, kata Seno, Widya Mitra, akan menjadi pusat kegiatan seni dan budaya dari berbagai komunitas. (Rukardi-73/SuaraMerdeka.Com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.