Melahirkan Wirausahawan dari Sekolah

Mencermati tulisan saudara Desembriarto berjudul Memunculkan Wirausahawan dari Kampus (Kompas, 12 Juli) lantas di tanggapi Saudara Heru Kristanto dengan tulisan berjudul Pendidikan Kewirausahaan di Perguran Tinggi (Kompas, 23 Julii) sangat menarik. Tulisan keduanya barangkali lahir dari keprihatinan mereka atas banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Sangat disayangkan jika kaum intelektual justru tidak memiliki pekerjaan. Lantas jika lulusan sekolah menengah menganggur apa tidak memprihatinkan?

Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan formal sadar betul bahwa pendidikan nasional yang sudah dan tengah berjalan memiliki beberapa kelemahan. Termasuk tidak mampu menjembatani peserta didik menuju bidang usaha yang diinginkannya. Karena itulah berbagai pembaruan dalam bidang pendidikan nasional terus diupayakan. Mulai dengan merevisi kurikulum lama, mengganti kurikulum, menyusun silabus baru, hingga coba mereplikasi kurikulum yang telah berjalan di negara lain. Setelah kurikulum 1994, kurikulum 2004, sekarang kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Namun sejauh ini, berbagai inovasi pendidikan tersebut belum cukup mampu menghasilkan tenaga muda yang terampil dan profesional seperti yang dikehendaki pasar kerja. Diperlukan pola pembelajaran yang dapat menjembatani peserta didik pada dunia kerja, seperti link and match.

Konsep link and match adalah konsep yang menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia kerja profesional. Konsep ini muncul sebagai refleksi keinginan setiap individu untuk hidup lebih baik setelah menyelesaikan pendidikan. Keahlian dan berbagai keterampilan yang diperoleh dari poses pendidikan selain digunakan sebagai bekal hidup juga dapat dikomersilkan sebagai konsekuensi kehidupan sosial yang saling memerlukan. Dari konteks inilah, mestinya, sekolah mampu membekali peserta didik dengan segenap keterampilan praktis yang diperlukan dalam dunia kerja..

Dalam melakukan fungsi tersebut pendidikan diharapkan mampu membekali tiap peserta didik, yang dalam hal ini berperan sebagai calon tenaga kerja, dengan berbagai keahlian sesuai kebutuhan pasar kerja. Namun karena banyaknya jenis keterampilan dalam dunia kerja, pendidikan di sekolah perlu disesuaikan dengan minat dan kesempatan kerja. Selama ini dikenal ada tiga jenis tenaga kerja. Pertama, tenaga kerja terampil, yaitu tenaga kerja yang menggunakan kecakapan dan keterampilan sebagai dasar profesi. Disinilah kemampuan psikomotor berperan sangat penting sebagai alat utama menyelesaikan jobnya. Kedua, tenaga kerja terdidik, yaitu tenaga kerja yang dihasilkan oleh proses pendidikan pofesional secara teoritis dan analitis. Tenaga kerja terdidik lebih mengutamakan kemampuan kognitifnya, seperti; analisa, pemikiran, hipotesa, observasi, dan eksprimen sebagai dasar profesi. Ketiga, tenaga kerja ahli, yaitu tenaga kerja yang memiliki latar belakang pendidikan formal untuk kemudian dipublikasikan sebagai bekal keterampilan lapangan.

Selama ini, wirausahawan dari sekolah diharapkan lahir dari sekolah menegah kejuruan (SMK). Mengingat sekolah ini memang diperuntukkan bagi peserta didik yang siap terjun ke lapangan kerja. Namun harapan tersebut tampaknya belum dapat terwujud. Kebanyakan lulusan SMK justru mengincar lapangan kerja yang telah tersedia dan enggan (atau tidak mampu) menciptakan lapangan kerja baru.

Jika pemerintah, khususnya Pemerintah daerah (Pemda), menghendaki pola link and match berjalan, hal yang perlu dibangun sejak dini adalah kesinambungan yang proposional antara tenaga kerja dengan pengguna tenaga kerja (stake holder). Menempatkan stake holder sebagai mitra pendidikan yang mau berpartisipasi dalam proses dan menentukan hasil akhir. Ini berarti, sekolah dituntut memiliki jaringan yang jelas agar tenaga kerja yang dihasilkan tidak terbengkalai.

Sebagai dasar berjalannya konsep link and match analisa pasar kerja dan kesesuaian dengan kondisi daerah juga perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menghindari over supply saat tenaga kerja siap terjun dalam dunia kerja profesional. Analisa pasar kerja tersebut meliputi beberapa hal. Pertama, analisa jenis keahlian yang sedang dibutuhkan dan prediksinya di masa depan. Kedua, kapasitas lapangan kerja lokal, nasional dan global. Ketiga, inovasi membuka jaringan dan lapangan kerja baru. Keempat, analisa perubahan kebutuhan masyarakat global.

Mengingat terbatasnya lapangan kerja di daerah, pola link and match memang belum memungkinkan dilaksanakan dengan sempurna. Artinya, konsep ini belum mengakomodasi seluruh peserta didik. Tidak dapat dipungkiri, kesempatan kerja di berbagai bidang kehidupan, seperti bidang pendidikan, kesehatan, pemerintahan, niaga, keuangan dan investasi masih membuka peluang besar bagi calon tenaga keja di daeah. Keadaan ini tentu bertolak belakang dengan kondisi di lapangan karena sebagian kesempatan kerja di daerah justru dikuasai tenaga kerja dari luar. Karena itulah rekruitmen, seleksi peserta, dan penjurusan yang jelas harus dilakukan dengan jeli.

Jika konsep link and match dapat dilaksanakan di daerah sesuai progam maka akan banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh. Pertama, stimulasi terciptanya lapangan kerja baru. Kedua, tenaga kerja terserap sehingga mengurangi pengangguran. Ketiga, terciptanya keseimbangan yang proporsional antara kualitas dan kuantitas tenaga kerja. Keempat, mampu melibatkan stake holder, selain sebagai pengguna tenaga kerja juga sebagai mitra pendidikan. Kelima, tenaga kerja lokal berwawasan global.

Jika kita sadari betul bahwa pendidikan adalah sebuah investasi, yang hasilnya baru dapat dirasakan jauh hari setelah modal ditanamkan, maka tidak ada salahnya jika pola link and match coba mulai diterapkan. Rasanya, kita memang harus segera bergegas menata, memperbaiki, bahkan menampilkan kembali paradigma baru pendidikan. Pendidikan kita sudah terlalu lama kehilangan jati diri, dan untuk menemukannya kembali kita hanya harus berani berinovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.