Mba-Mba Cantik, Yakin Kalian Masih Ngefans dengan Fedi Nuril?

Betul-betul absurd. Banyak perempuan muda di Indonesia mengaku patah hati saat Fedi Nuril nikah. Tak malu dan tak canggung – meski dengan gaya kelakar – mereka mengaku kecewa, sebab mereka berharap dirinyalah yang mestinya jadi istri Fedi Nuril. Duhdek!

Begini ya Mba-Mba yang cantik, tentu hak Sampeyan untuk suka atau tidak suka kepada siapa pun. Tapi menyatakan diri “patah hati” pada lelaki yang baru saja menikahi gadis lain adalah cara yang tepat untuk membuat martabat Sampeyan tampak rendah.

Agar tinemu nalar, mari kita renungkan, mengapa Sampeyan nge-fans dengan dia, ada kerja kultural apa, dan bagaimana dampaknya. Supaya tampak akademis, mari bahas masalah ini dengan pertimbangan-pertimbangan sosiologis.

Pertama, fans Fedi Nuril agaknya mengira Fedi adalah lelaki tampan plus saleh. Saya menduga, citra ini terbentuk karena Fedi pernah memainkan tokoh Fahri, lelaki tampan yang super saleh, super cerdas, super baik (ada ya manusia begini?) di film Ayat-Ayat Cinta. Peran sebagai lelaki pujaan wanita juga ia mainkan di Surga yang Tak Dirindukan.

Supaya film ini laku, para produser memmbuat desain personal brand pada para pemainnya. Tujuannya, supaya banyak orang ngefans dengan artis itu dan dengan senang hati menonton film yang diperankannya. Ini bagian dari strategi jualan film yang hampir selalu dipraktikkan produser mana pun.

Citra Fedi sebagai lelaki tampan dan saleh direproduksi oleh infotainment. Sifat-sifat baik dilekatkan kepadanya agar personal brandingnya terbentuk. Ini strategi standar para penjual benda seni, penjual ketersohoran. Bagi si artis, brand personal semacam ini diterima saja, toh menguntungkan buat dia, dan lebih penting dari itu: harganya cocok.

Kedua, di era simulacrum (Mba-Mba cantik pernah dengar istilah ini kan ya?), sulit membedakan antara realitas dan realitas semu. Atau lebih ektrim lagi: semua realitas adalah semu. Realitas diproduksi dari bagaimana orang mengimajinasikan realitas itu sendiri.

Oke, biar lebih konkret ya Mba, saya beri contoh yang riil saja: bukankah Anda meyakini kebaikan Fedi karena Anda menontonnya di film, televisi, membaca kisah hidupnya di majalah atau infotainment? Brand Fedi Nuril sebagai lelaki saleh cuma akal-akalan industri hiburan. Mereka ingin Sampeyan-Sampeyan mempersepsi Fedi dengan citra yang mereka kehendaki. Pernahkan di antara Sampeyan – Mba-mba yang cantik – bertemu langsung, berbicara secara intens, dan mengamati perilaku Fedi yang asli? Pernah?

Mekanisme yang digunakan industri hiburan untuk mem-branding Fedi sebagai lelaki saleh sama dengan cara mereka mem-branding Syahrini sebagai perempuan ganjen, norak, dan nyebeli. Karakter itu didesain supaya masyarakat memiliki impresi khusus dengan mereka. Nah, impresi atau kesan itulah yang digunakan para produsen untuk menggerakkan Mba-Mba yang cantik – Sampeyan itu – untuk menjadi konsumen: penonton, fans, pembeli.

Lihatlah bagaimana cara infotainmen mem-framing pernikahan Fedi. Mereka menyebut perkanalan Fedi dengan istri dengan istilah: taaruf. Sebutan itu semata-mata digunakan untuk memproduksi kesan islami. Dan Sampeyan percaya? Yakin, mereka islami dan bukan hanya dikesankan islami?

Mba-Mba yang cantik, teori dramaturgi yang cetuskan Erving Goffman, barangkali cocok untuk melihat siapa Fedi Nuril itu. Menurut Hoffman, kehidupan manusia itu seperti drama, seperti sandiwara. Ada pemain panggung, ada sutradara, ada penulis skenario, juga ada pimpro.

Sebagai pemain film, Fedi adalah pemain yang tampil di panggung. Dia bertindak atas arahan “sutradara”. “Sutradara” mengarahkan pemain berdasarkan “skenario” yang ditulis “penulis skenario”. “Penulis skenario” biasanya menulis untuk kepentingan “produser” atau pemilik modal.

Jadi, kalau Mba-Mba yang cantik masih berpikir Fedi adalah lelaki idaman yang tampan, saleh, dan (apalagi) calon penghuni surga: siap-siaplah kecewa. Suatu saat, setelah citra sebagai lelaki saleh tak lagi laku dijual, para pemodal di industri hiburan bisa jadi akan membuat citra baru buatnya. Citra sebagai lelaki jalang, badass, mungkin. Bisa saja kan? Adapun sebagai “pemain” dalam “drama” industri hiburan, besar kemungkinan Fedi akan hayok saja. Asal: harganya cocok.

Salam lemper!

Sumber foto: newsth.com

2 Comments

  1. portal konseling

    January 20, 2016 at 12:39 pm

    pakai analisis jean baudrillard.. simulasi, simulakra, hiperrealitas

    kalau ngefans sama gita gutawa mas coba dibedah dengan pendekatan apa gitu? selama saya belajar menekuni bourdieu, baudrillard, dan sartre, ditambah analisis maslow, rogers, atau bahkan psikoanalisisnya freud dan fromm gak nemu2 kenapa saya ngefans sama gita…

    salam lemper

  2. mamase danang

    April 5, 2016 at 8:23 pm

    Mas ngadmin terlalu berburuk sangka, mas admin pun apa jg sdh pernah bertemu n ngobrol? Satu hal yg karakter fedi yg terlewat kan. Fedi pernah jd seorang gitaris band bernama garasi. Saat itu ia sendiri yg berucap agar kesan fahri perlahan ” hilang” dia sndri tak mau di anggap sok alim tp mmng dia mau belajar agama lbih dalam .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.