Menelusuri Akar Maskulinitas “Islam”

Sebagai laki-laki yang dibesarkan dalam keluarga Islam-Jawa, saya belum pernah secara serius mencoba membedakan, apakah ajaran tentang kedudukan perempuan yang saya warisi dari keluarga dan masyarakat adalah ajaran Islam atau Jawa. Nilai-nilai itu terkadang berhimpit begitu saja, tanpa pertanyaan kritis, apakah masing-masing utuh atau telah saling mempengaruhi satu sama lain.

Mengenai cara saya memandang perempuan, misalnya, tidak jelas apakah keyakinan tersebut berasal dari ajaran Islam, Jawa, atau sinkretisitas keduanya?

Kondisi serupa tampaknya tidak hanya terjadi di Jawa. Di negara-negara Arab, negara asal Islam berkembang, juga telah terjadi kulturisasi Islam. Proses ini mengakibatkan pembauran yang membuat pandangan Islam (bisa) tidak lagi murni, tetapi justru berkombinasi dengan kultur Arab. Ini mengakibatkan cara ulama dan kemudian menafsirkan Islam dengan tafsiran yag bias.

Kondisi inilah yang dikhawatirkan aukab Sidique dan memotivasinya menulis buku Menggugat Tuhan yang Maskulin. Melalui buku ini ia mengkritik maskulinasisai Islam akibat pembauran dengan ajaran-ajaran kultural Arab.

Sejak awal dia telah menaruh kecurigaan, bahwa pandangan “islam” yang cenderung male oriented diakibatkan oleh ego ulama laki-laki. Para “ulama” itu melakukan framing sehingga mengarahan umat Islam pada simpula bahwa Islam lebih mengutamakan laki-laki. Menurut Kaukab, salah satu cara yang dilakukan oleh para “ulama” itu adalah dengan memopulerkan hadis tertentu namun menyembunyikan hadis lain.

Mengenai kepemimpinan perempuan, misalnya, Kaukab menganalisis bahwa para “ulama” berusaha menyembunyikan kepempinan Aisyah dalam Perang Jamal. Para “ulama” tersebut berargumentasi bahwa saat terjadi Perang Jamal, situasinya adalah darurat. Kepempimpian perempuan saat itu dapat terjadi akibat pengecualian.

Kaukab juga menduga, “ulama” yang male oriented menghilangkan jejak perempuan Islam dalam jihad. Nama Ummu Amarah, perempuan yang melindungi nabi setelah pasukan Islam kocar-kacir dalam Perang Uhud, tidak mendapat tempat yang berarti dalam literasi Islam. Padahal, Umm Amarah telah memiliki jasa yang amat besar, yakni melindungi Rasulullah dari sabetan pedang tentara kafir Quraisy. Ia sendiri terluka di 12 bagian tubuh, salah satu lukanya cukup dalam, hingga baru sembuh setahun kemudian.

Tafsir Kontekstual

Kaukab, dengan argumentas naqli dan aqli, berupaya mengajak pembaca untuk memahami keududkan perempuan dalam Islam dengan kembali pada dua sumber hukum Islam yang paling mendasar: al-Quran dan hadis. Untuk memahami amanah al-Quran, ia menekankan supaya pembaca melihat konteks dan tata urutan ketika sebuah ayat diturunkan. Sebab, menurutnya, al-Quran diturunkan dengan sbeuah permulaan. Sebuah perkara (urusan) diatur oleh berbagai ayat, maka perlu didudukkan hubungan kronologis ayat-ayat tersebut. Ayat yang lebih ahir duturunkan dianggap sebagai yang paling akhir dan sempurna amanatnya. Adapun ayat yang lebih awal adalah ayat yang diturunkan pada masa perkembangan Islam.

Salah satu ayat yang diulas Kauka dalam buku ini adalah ayat yang juga sangat memicu perdebatan di Indonesia, yaitu An-Nisa ayat 34. Frasa yang kerap diperdebatkan terletak pada awal ayat: Arrijalu qowamun ‘ala nisa (kaum lelaki adalah pengawal bagi kaum perempuan…).

Oleh para “ulama” konservatif, ayat ini telah menjadi dasar justifikasi untuk menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Proses justifikasi berlangsng terus-menerus dengan mereproduksi tafsir yang mengarah pada simupulan tersebut. Dengan tafsir-tafris tersebut, demikian Kaukab menganalisis, para “ulama” bahkan sampai membuat psotulat bahwa istri harus taat kepada suami.

Kaukab coba melawan tafsir ulama male oriented tersebut dengan menghadirkan Al-Ahzab ayat 35 yang justru menempatkan laki-laki dan perempuan setara. Kedudukan manusia di hadapan Allah tidak terletak pada jenis kelaminnya, melainkan pada tingkat ketaatannya kepada Allah.

Isu Kontroversial

Sebagai ilmuan Kaukab menempatkan posisi dirinya secara jelas sebagai orang yang berpihak pada keseteraan perempuan. Posisi itulah yang membuatnya tampak tidak ragu menyampaikan arguemntasi-argumentasi mengenai isu konroversial.

Ia mengulas kedudukan perempuan sebagai mam salat, baik bagi sesama perempuan maupun bagi laki-laki. Ia juga mengulas hukum berpoligami.

Topik lain yang diuraikannya dengan panjang lebar adalah mengenai keududkan permpuan (muslimah) sebagai pemimpin. Ia berusaha “meluruskan” hadis yang mengatakan bahwa tidak akan beruntung bangsa yang menyerahkan urusannya kepada seorang perempuan. Dengan menguraikan latar sosiologis hadis ini dan kemudian menghadirkan ayat-ayat al-Quran terhadap kisah Ratu Bilqis, ia menyampaikan bahwa tidak ada larangan bagi perempuan untuk memimpin.

Salah satu hal yang baru saya ketahui dari buku ini adalah sikap Rauslullah terhadap rencana pernikahan Ali ibn Thalib dengan putri Abu Jahal. Saat itu Ali sudah menikah dengan Fatimah, putri Rasullah.

Selain itu, Kaukab memberikan perspektif yang berbeda (dengan saya) terhadap peran Maryam. Ibunda Nabi Isa itu dianggap Kaukab memiliki kedudukan sebagi nabi karena memiliki tiga ciri sekaligus. Pertama, Maryam telah dipilih Allah. Kedua, Maryam menerima wahyu dari Allah. Ketiga, adanya mukjizat.

Bagi laki-laki yang dibesarkan dalam kultural Islam-Jawa, seperti saya, buku ini memberikan tantangan karena menyajikan sejumlah argumentasi yang bertentangan dengan ajaran-ajaran yang sejak lama dianggap benar. Tetapi, buku ini juga sekaligus memberikan pelajaran bahwa pandangan-pandangan kultural terkadang jauh lebih kuat dibandingkan pandangan Islam tentang perempuan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

1 Comment

  1. Abdi munif

    December 28, 2015 at 5:06 am

    jangan lupakan kalinyamat yang jadi ratu, shima juga jadi ratu. Kalinyamat perempuan islam, shima ratu di tanah jawa. di Minang garis keturunan dari ibu. Dalam islam orang yg harus dihormati pertama kali sampai yang ketiga adalah ibu. Baru ayah. Islam menempatkan ibu sebagai madrosatul ula (sekolah yang pertama dan utama). Lalu siapa yang salah tentang pembedaan gender itu? Khususnya di jawa? Saya curiga belanda. Coba telaah sejarah pembedaan gender di barat. Momen kartini sebenarnya mengikuti pemberontakan gender oleh perempuan di barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.